Tags

, , , , ,

Akhirnya ada saat dimana saya jatuh dan dipaksa harus bangkit lagi. Saya suka ini! Hidup datar- datar saja itu tidak enak kawan, sangat. Sebenarnya bukan jatuh sekali si, hanya tersandung sedikiiittt.. :)

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu ada kuis Fisika Kuantum, yang ternyata tepat dugaan saya : saya gagal. Beruntung ada UP yang diselenggarakan oleh Pak Dosen. Dari 90 peserta, 60 ikut UP. Padahal menurut saya, soalnya sama sekali tidak susah. Lah? Terus kenapa saya remidi? Saya ceroboh. Memang saya lagi kurang beruntung hari itu.

Kebetulan saya bukan orang yang gampang menganggap dunia runtuh, jadi saya kena remidi ya sudah biasa saja. Dan semua yang saya kasih tahu bahwa saya remidi, membelalakkan mata ‘tidak percaya’. Sampai ada yang menyeret tangan saya ke depan pengumuman, hendak menyaksikan kebenaran yang saya ucapkan. Saya hanya menggeleng kepala sambil membatin : Tutus juga manusia biasa kawan.

Ada satu teman yang menertawakan saya habis- habisan. Mendatangi saya dan berkata “Remidi ya? Hahahaha”. Saya hanya ikut tersenyum. Teman yang satu ini, entah untuk alasan apa selalu saja memposisikan saya sebagai saingan. Padahal.. Sebenarnya saya jauh tidak ada apa- apanya daripada dia. Tapi.. Kadang dia adalah partner yang baik loh. Pernah waktu itu karena sibuk mengurus tim soal Olimpiade Fisika yang diselenggarakan HIMA, saya jadi tidak mengikuti salah satu lomba Fisika untuk Universitas. Dan dia.. Menyemangati saya supaya ikut lomba yang berikutnya awal tahun depan. Bersaing sehat, begitu katanya. :)

Saat tawanya berlalu, sayapun bertekad agar jangan sampai kecerobohan berulang di UAS, dua minggu lagi. Lupakan sudah lembah kemarin hari, saatnya mendaki puncak. Semangat TUTUS!!! :D