Tags
Bank Sakera, bank sampah, BPS, KKN BBM 46, Madura, Panyepen, rupiah, UNAIR
KKN BBM 46 UNAIR mengusung tema yang berbeda dengan KKN BBM UNAIR angkatan sebelumnya, yaitu adanya tematik tertentu pada wilayah penerjunan yang diharapkan hasilnya bisa di-indra jangka panjang, dalam artian tidak sekedar hit and run. Hal ini membutuhkan kerja khusus para peserta untuk turut melibatkan peran masyarakat sekitar agar tujuan jangka panjang bisa tercapai. Program yang dipilih tentunya harus sesuai dengan karakter dan kebiasaan masyarakat sekitar.
Perserta KKN BBM UNAIR 46 di wilayah penerjunan Panyepen, Sampang, Madura mengajukan suatu program yang didasarkan pada pengamatan kebiasaan masyarakat sekitar yang membakar sampah rumah tangga miliknya. Sampah rumah tangga ini menggunung di suatu tempat yang bisa menyebabkan berbagai macam penyakit, belum lagi asap pembakaran sampah yang bahkan bisa menghitamkan langit. Bila hal ini dilakukan terus menerus, asap sampah yang dihirup bisa menyebabkan sakit pernapasan, lebih dari itu.. kabarnya asap sampah plastik bisa menyebabkan kanker. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, ditawarkanlah suatu Bank Sampah, yang kemudian diberi nama Bank Panyepen Sejahtera (BPS).
BPS seperti bank sampah lainnya, yaitu menerima sampah rumah tangga untuk kemudian ditabungkan dan hasilnya bisa diambil ketika sampah dari BPS sudah laku dijual kepada mitra : Bank Sakera, atau bisa juga ditabungkan. Sedikit cerita, Bank Sakera (Sampah Kebanggaan Madura) merupakan bank sampah pertama di Madura, bertempat di Jl Aji Gunung I Sampang. Bank ini lahir 3 bulan yang lalu, dibidani sekelompok warga yang sangat peduli tentang lingkungan : LPM Lintang Sembilan. Kembali lagi ke BPS, sistem pendaftaran sebagai nasabah cukup sederhana. Hanya dengan membawa sampah ke BPS, maka seseorang akan terdaftar sebagai anggota dan mendapatkan sebuah buku tabungan.
Untuk sementara ini, karena masih skala desa, dengan organ yang hanya 4 orang, BPS hanya buka pada hari Minggu jam 8 – 11. BPS menerima segala macam sampah untuk dirubah menjadi rupiah, misalnya saja plastik- plastik bungkus detergen, botol beling (yang sudah pecah belah sekalipun) maupun plastik, bak, dan berbagai macam sampah rumah tangga lain. Selain untuk men-sejahtera-kan masyarakat Panyepen, BPS juga merupakan solusi skala kecil dari permasalahan besar sampah yang tak kunjung usai di negeri ini.
Seperti yang diharapkan sejak penerjunan KKN, tentunya BPS ini bisa terus berlanjut hingga peserta KKN BBM 46 ditarik kembali dari wilayah penerjunan. Amiinnn…
PS : Barangkali ada yang ingin menabung sampah dan berminat menjadi mitra?
keren… coba di jogja ada yang kayak gitu juga
ya diadain juga dunk mbak..
huwwwweeee seru tuh
seruu sekali..
ooh… baru ngeh kerjanya bank sampah itu gimana…
sampah yg udah dijual terus diapain tus? sampah rumah tangga maksudku..
dijual ke pengepul, dari pengepul lanjut ke pabrik yang mau nerima..
**btw,, septia ada di beberapa posku sekaligus,, waaahh
haha, aku baru blogwalking tus, banyak ketinggalan