arin’s love story part 1

Berkali- kali ponsel milik Arin berbunyi. Tanda ada pesan yang mampir di ponsel konvensional miliknya. Arin masih enggan membuka mata, badannya terasa sakit setelah mengahabiskan seharian waktunya untuk menjadi panitia Bakti Sosial yang diadakan kelasnya. Jam bergambar lonceng di samping tempat tidurnya tak lelah berdering dari satu jam yang lalu untuk membangunkan sang pemilik kamar.

Kali ini ponselnya berdering semakin lama semakin keras, masih dengan mata yang tertutup, ia berusaha mengambil ponsel, memencet salah satu tombol, dan menempelkan pada telinga kanannya. “Halo…” ucap Arin dengan suara yang masih parau. Tak ada jawaban dari seberang.

“Halo..” ulang Arin lagi.

“Sial..” lanjut Arin setelah lama menunggu, tanpa ada respon. Dengan mata yang masih tertutup dan tanpa kesadaran penuh Arin segera melempar poselnya.

“Pyarr…” suara benda kaca yang pecah menggema di kamar Arin. Arin terkejut dan segera menyadari bahwa ponselnya mendarat di kaca meja belajar. Dengan langkah gontai Arin menuju meja belajarnya, duduk di lantai, dan bersandar pada dinding kamar. Ia memeriksa keadaan ponsel itu.

“Ternyata… tadi tu alarm?? Pantess..” katanya sambil tersenyum melihat layar ponsel, menyadari kebodohannya. Ia juga memeriksa 27 pesan singkat yang masuk di inbox. Isinya hampir serupa, ucapan selamat ulang tahun yang ke 17. Dia mulai membalas satu per satu pesan itu dengan ucapan terima kasih. Sampai ia mendapati pesan terakhir, tak ia temukan pesan dari kaka, sahabatnya. Sedih menghujamnya.

“Apa kamu lupa ka?? Hari ini ulang tahun ade..” bisiknya pelan. ‘Kaka’ dan ‘ade’ adalah sapaan akrab keduanya.

Arin menunduk, air matanya luluh. Dia ingat persis 7 bulan yang lalu, entah apa yang terjadi. Secara tiba- tiba kaka menghilang. Saat itu ia sedang mengikuti study tour di sekolahnya. Saat ia kembali ke rumah yang didapat hanya secarik kertas bertuliskan :

Maafkan kaka yang melakukan ini, maafkan kaka yang tak seharusnya begini. Seandainya saja..kaka gag pernah meyayangi ade teramat dalam seperti yang saat ini kaka rasakan, mungkin kenyataan yang ada tidak akan seperti ini. Seandainya saja..kaka tidak pernah mengenalkan ade tentang kehidupan kaka.. Biar saja kaka yang pergi.. biar saja kaka yang merasakan sakit ini sendiri. Kaka sayang ade.

edited on mei 20th 2012

2 thoughts on “arin’s love story part 1

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s