arin’s love story part #2

Pagi ini seperti biasa, suasana akrab di meja makan kembali terjalin.

“Selamat ulang tahun sayaang..” ucap kedua orangtuanya serempak.

“Makasih..” jawab Arin singkat, sambil melanjutkan melahap nasi di piringnya.

“Pa.. mama heran de.. kemarin semaleman telpon rumah itu berdering terus. Tapi gag mama angkat. Gag sopan banget telponnya tengah malem gitu.”

“Ma? Bener ada telpon semalem? Koq gag kasih tau Arin si ma?” sahut Arin.

“Yaa.. mama gag tau Riin, lagipula tengah malam begitu.. Itu dari temen kamu yaa?” selidik sang mama.

“…” Arin hanya menggeleng.

Sarapan pagi itu tak seperti biasanya. Masa lalu Arin timbul tenggelam..

‘Ade!! Semalam ade yaa yang telponin rumah kaka terus terusan?? Kaka jadi gag bisa tidur de.’

‘Hehe.. maaf ka. Habis kaka si, di kirimin ucapan selamat gag di bales.” Jawab arin.. sambil tertawa geli.

‘Yaa.. kaka gag tau ada sms ade. Tengah malem gitu, ngapain juga ngirim ucapan selamat ulang tahun?? Emang gag ada waktu laen apa de?’

‘Ada si, tapi gag special dunk ka! Kaka gag suka yaa?’

‘Suka banget si de sebenernya. Hehe..’ jawab sang kaka dengan wajah memerah.

‘Tunggu saja pembalasan kaka..’ lanjutnya

Senyum kaka itupun menghilang, Arin kembali menatap minggu pagi dengan perasaan hampa. Hatinya terus menerus gelisah. “Huffh.. entah apa lagi yang akan terjadi.”

“Ariiiinnnn….” Suara khas mama, menggema ditelinganya.

“Iyaa ma..” jawab Arin sambil menghampiri mamanya.

“Riin… kamu kenal Deni? Temen kamu itu. Dia meninggal nak…”

“…..” Arin tak lagi sanggup berkata apa- apa. Tiba- tiba gelap menyerbunya, pingsan.

***

Semalaman air mata Arin terus menerus menetes. Berkali- kali ia merubah posisi tidurnya, tak tenang. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia baginya justru hari yang sangat ingin ia lupakan.

Jam menunjukkan pukul 2 pagi, ia menyerah berusaha menutup mata. Ia kumpulkan segenap tenaganya untuk berdiri dan mengambil buku hariannya. Perlahan ia tulis sebuah nama, kata, hingga terangkai menjadi sebuah cerita. Satu, dua, tiga jam sudah ia biarkan penanya menari diatas kertas. Kertas itu basah peluh dan airmata. Sejenak ia masih menangis tersedu. Ia tutup bukunya, tersenyum tipis. Kemudian terlelap….

edited on mei 20th 2012

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s