arin’s love story part #3

Kaka…

Aku mengenalnya 6 tahun lalu, meski sebatas nama. Aku masih duduk dibangku sekolah dasar waktu itu. Dia anak baru di kompleksku. Terlihat baik dan ganteng. Haha, apa arti ganteng untuk anak umur 11 tahun? Sama juga ketika kau tanya apa itu arti cinta baginya? Dia tiga tingkat di atasku, tepatnya kelas 3 SMP.

Rumahnya tepat di depan rumahku, ia jarang sekali keluar. Orangtuanya sering cerita pada orangtuaku, ia anak yang pandai. Sayangnya, sedikit pemalu. Yaa, aku tahu itu karena aku juga sama pemalu seperti dirinya, hanya bedanya aku tak begitu pandai. Orangtuakupun mengusulkan, agar ia mengajariku beberapa mata pelajaran untuk ujian akhir.

Tapi rencana itu tak pernah terwujud, karena suatu peristiwa. Ia mengalami kecelakaan parah, kakinya lumpuh, banyak luka- luka di sekujur tubuhnya, wajahnya pun sudah tak sempurna. Lebih dari itu, berkali- kali cobaan terus menerpanya. Keluarganya menjadi tak harmonis, orangtuanya memutuskan untuk berpisah, dan parahnya mereka bukan berebut untuk merawat putra satu- satunya yang beberapa bulan lalu menjadi putra yang paling mereka banggakan. Yaa.. perlu kuperjelas, mereka saling melempar hak asuh untuk putra mereka.

Tak bisa kubayangkan waktu itu bagaimana perasaannya, Kecewa? Pasti! Sedih? Sudah tentu! Bagaimana bisa keduanya tega melakukan itu pada anak seusia dirinya? Jalan terakhir yang diambil orangtuanya yaitu menyerahkan rumahnya pada seorang wanita yang bersedia merawat putranya dan memberi jatah bulanan yang cukup untuk hidup mereka berdua. Orangtua macam apa mereka?

Setiap hari ia hanya bisa duduk di kursi roda di depan rumah. Ia pandangi setiap orsng yang melewati rumahnya, sesekali ia lemparkan senyum, meski tak seorangpun menghiraukannya. Parhanya, ia tak lagi melanjutkan sekolah, bukan malu yang menjadi alasannya. Ia hanya tak mau merepotkan wanita yang selama ini sudi merawatnya.

Tiga tahun kulewati hanya dengan memandangnya sebelah mata. Merasa iba tapi tak tahu harus bagaimana, aku masih kekanakan waktu itu. Sampai suatu hari ia memanggilku untuk pertama kalinya. Dan menyodorkan sebuah buku sambil berkata “Selamat ulang tahun..” tersemat senyum tulus dalam ucapannya. Aku hanya diam sambil memandangi buku itu.

“Kenapa?” Ia menatapku heran dan melanjutkan. “Aku setiap pagi dan sore hari ada disini. Kamu tetanggaku, pagarmu tepat berada didepan tempatku duduk setiap hari. Kamu selalu merayakan secara meriah ulang tahunmu. Bagaimana aku bisa tak melihatnya? Bagaimana juga aku bisa lupa, kalau nanti sore akan kamu rayakan lagi ulang tahunmu? Apa kamu masih ragu?” Akupun menggeleng.

“Kalau begitu, terimalah.” Katanya sambil memberikan buku itu. Buku itulah tempatku menulis kali ini.

Sejak saat itu aku mulai mengerti kehidupannya, kami berteman cukup dekat. Ia tegar, meski kadang iapun sesekali terjatuh.. namun ia bisa bangkit lagi. Aku sangat mengaguminya. Mengagumi cara ia berpikir, kagum akan bagaimana ia bersikap.

Bulan- bulan kulewati bersamanya. Tawa, canda, air mata, semuanya yang ia rasakan, seolah aku merasakan yang sama. Lukanya, sakitnya, bahagianya, aku paham itu semua. Namun ternyata kebersamaan itu tak lebih dari dua tahun, meski cukup lama, entah mengapa aku selalu berharap bisa menjadi penawar lukanya selamanya.

Akhirnya, dimana ada perjumpaan pasti disitu kita temui perpisahan. Pulang dari study tour sekolah, aku menjumpai kata perpisahan itu, ia mengatasnamakan cinta untuk menjauhiku. Ia tak ingin aku terseret dalam derita yang ia alami. Aku tak bisa terima itu sebenarnya, bagaimana dia bisa datang dan pergi begitu saja dihidupku? Mengenalkanku pada dunianya lantas kemudian melemparkanku kembali keduniaku.

Setiap hari aku menanyai penjaga rumahnya, tapi ia tetap bungkam tak mau memberi tahu dimana keberadaan sang tuan rumah. Beberapa kali aku pernah mencoba masuk kedalam rumahnya, tapi selalu gagal. Aku terus mencarinya tapi seolah ia hilang ditelan bumi, entah dimana ia berada.

Tapi hari ini semua tabir itu terbuka. Selama ini ia tak pernah pergi kemanapun. Wanita yang mengasuhnya menceritakan padaku tentang kehidupannya beberapa bulan ini. Tepat hari ketika aku berangkat study tour, ibunya kecelakaan, terkena percikan sesuatu di kedua matanya. Hingga ia dinyatakan buta. Melihat ibu yang dikasihinya menderita, ia memutuskan untuk mendonorkan kedua kornea matanya. Ia relakan hal itu untuk orang yang membuangnya.

“Ia menghabiskan hari- hari dikamarnya. ‘Untuk apa aku diluar? Toh tak kan ada bedanya antara terang dan gelap bagi orang buta sepertiku.'” Ucap wanita itu menirukan kata- kata kaka.

“Akhir- akhir ini ia selalu tak sabar menantikan hari ini. Akhir- akhir ini badannya demam. Aku hendak mengantarnya kerumah sakit, tapi ia melarangku. Ia hanya ingin hari ini saja berada didepan telpon rumah untuk menghubungimu. Ia memintaku memencet nomor rumahmu. Ia sempat tersenyum berharap kamu akan mengangkat telponnya, tapi tak ada jawaban darimu.” Ucapnya kecewa.

“Lama ia diam menunduk, kemudian berucap ‘Kalau kau pikir selama ini aku menderita, itu salah! Aku sangat bahagia, aku melakukan apa yang seharusnya, dan aku tak pernah sesali hal itu. Sekarang aku ingin istirahat. Aku lelah dengan hidupku. Tolong antarkan aku ke kamarku…’” Wanita itu seolah tak kuasa meneruskan.

“Meski ragu, aku menurutinya. Sesampainya dikamar, ia telah tiada…” Lanjut wanita itu sambil berlinangan airmata.

Aku senang ia menceritakan hal ini padaku, meskipun tak dapat kuhindari rasa sesal yang teramat dalam karena ia sangat terlambat menceritakan ini semua.

Selamat jalan deni.. selamat jalan kaka..

Ade juga menyayangimu…

edited on mei 20th 2012

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s