#inibukankisahku#

Akhir- akhir ini perasaan nggag karuan. Pikiran jadi kacau balau. Tangan masih pengen pencet2 kibot. Akhirnya ku putuskan nulis ini. Entah ini keadaan nyata atau ilusi belaka. Entah ini pikiran atau perasaan yang bicara. Yang jelas inibukankisahku.

////
Ia seorang pangeran. Ia baik, tampan mungkin, jujur, bertanggung jawab, semua ia punya, kecuali satu hal : waktu. Bahkan tak ada waktu bagiku. Jika kau tanya aku siapa? Aku bukan orang penting baginya, aku sama sekali tak lebih penting dari organisasinya. Meski ia pernah bilang, aku yang paling dia sayang.

Terakhir kita ketemu mungkin minggu lalu, kalaupun itu bukan karena suatu kesalahpahaman mungkin ia tak akan menemuiku. Ia terlalu sibuk. Ia punya banyak janji, sementara ia tak punya banyak waktu untuk menepati semuanya.

Satu yang sampe saat ini masih berbekas kecewa. Tanggal 27, bulan lalu ia tak datang untuk menepati janjinya. Ia bisa kemana- mana, tapi tidak untuk menemuiku. Ia bisa bertemu siapa siapa, tapi tidak untuk bertemu denganku.

Aku hanya minta waktunya sebentar saja. Dan di waktu yang sebentar itu, ingin sekali kukatakan padanya “Bisakah sebentar saja kau simpan ponsel dan jam tanganmu? Bisakah sebentar saja melupakan organisasi, dosen, tugas, atau teman- temanmu yang bermasalah itu? Bisakah sebentar saja tidak ada duniamu, tidak ada duniaku, dan yang ada hanya dunia kita? Bisakah sebentar saja? Bisakah?”

Aku tak berhak menuntut apa apa padanya, karena ia pun tak pernah melakukan hal yang sama. Tapi bisakah dia mengerti tentangku? Aku tak memintanya menyukai film yang kusuka, aku juga tak memaksa ia suka dengan pembalap yang kusuka, aku tak memintanya untuk tidur lebih malam dari tidurku, aku tak memintanya untuk hal sepele macam itu! Aku hanya minta waktunya. Itu saja.

27, bulan lalu, hari sabtu. Sabtu pertama sepanjang hampir 3 tahun, tapi hancur sudah. Hingga saat ini, dalam 7 hari dari seminggu aku paling benci hari ini. Hari sabtu, hari yang ia janjikan, namun yang ia lupakan. Aku benci hari sabtu! Aku benci ketika sisi hatiku yang lain berharap ia datang, aku benci itu.

Aku sangat menyayanginya, tapi benci itu selalu menyeruak. Ketika ia mengirim sebuah pesan pendek “aku sayang kamu”, hatiku berkecamuk “bisakah sayang dan benci diungkapkan dengan satu kata yang mudah ia mengerti? Satu kata yang masuk akal baginya. Satu kata yang tak perlu ia jabarkan sebanyak jumlah 0 pada bilangan Avogadro atau sepanjang gugusan alkana alkena dan alkuna. Cukup satu kata saja!”

Semoga ia tahu.
/////

4 thoughts on “#inibukankisahku#

  1. bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s