lara di taman hati

Ku miliki sebuah taman yang indah tiada dua. Sebuah taman di hati. Yang tiada boleh seorangpun melihatnya. Bukan ku tak mau berbagi keindahan, hanya saja aku tak mau membiarkan dia merusaknya.

Bunga- bunga indah kusemai disana. Aku memang membagi lahan tamanku menjadi beberapa bagian. Ada satu bagian yang kosong, karena aku tak tahu hendak ku isi apa bagian ini. Hingga kemudian datang seseorang yang tak kukenal, memberiku sebuah benih yang dia bilang akan memperindah taman hatiku.

Kutanam benih itu pada satu bagian lahan yang kosong tadi. Lamaaa sekali tak juga muncul tunas, meski setiap hari ku rawat dengan baik. Aku mendatangi sosok orang yang memberiku bunga, aku bertanya padanya ‘Bisakah ini menghiasi tamanku? Ini sudah terlalu lama, tapi tak juga muncul tunasnya?’. Ia hanya menjawab dengan senyum tanpa sepatah kata.

Bulan berganti lama menanti, akupun lupa untuk merawatnya. Yaah.. mungkin karena aku bosan menunggu atau apa. Saat aku lihat, benih itu telah berubah menjadi batang kecil yang rapuh, yang hijau, indah. Berbeda dengan batang- batang bunga yang lain.

Batang- batang itu terus tumbuh dari hari ke hari. Semakin lama semakin indah. Akarnya pun mencengkram kuat dalam hati. Batang itu juga memiliki daun yang elok. Setiap hari melihat tanaman itu membuatku kembali teringat pada sajak- sajak indah yang dulu pernah menghiasi hari- hariku. Dan tanaman itu membantuku menemukan sajak dalam kehidupanku.

Bulan berganti tahun. Tanaman itu berkuncup berwarna merah muda yang terselubung hijau. Aku senang melihatnya. Ku yakin bunga indah ini akan mempercantik tamanku.

Suatu malam saat purnama. Kuncup itu merekah, merah muda yang begitu ceria. Berbau harum. Indah menawan. Mahkota bunganya bertumpuk- tumpuk ditopang kelopak bunga yang angkuh menjaganya tetap tegak. Tak pernah kujumpai bunga  itu dalam taman hatiku. Hendak meraihnya, mengambil bunga itu untukku.  Namunn.. tak mampu. Sekujur batang tanaman itu berlumur duri. Membuat jemariku memerah, berdarah.

Esoknya, bunga yang tadinya hanya satu, menjadi beranak pinak dalam lahan yang memang tak berpenghuni. Begitu banyak nuansa merah muda di lahan itu. Tak kuasa lagi aku, meski hanya untuk sekedar mendekatinya.

Mengapa yang tumbuh harus mawar? Meski indah, meski berbau harum tajam, meski warna merahmudanya begitu ceria, meski semua orang bilang itu lambang cinta, meski….., meski……., tapi berduri menyakitkan.

**7112010 : saat aku tak lagi mampu menerjemah rasa sakit yang begitu dalam dibalik indahnya keceriaan.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s