Surat Kaleng

Lidah ini tak mampu banyak bicara. Rasa sesak di hati dan berujung tetes2 airmata selalu mendahuluinya. Tapi diujung tinta ini, aku selalu berkata apa yang seharusnya, apa yang menjadi suara atas ragaku yang membisu.

Untuk Artika, temanku..

Entah bagaimana ceritanya, sampe postinganku sebelumnya kamu baca, dan menyebabkan suasana dingin ini tidak kunjung mencair. Besar harapanku, bahwa kamu juga akan membaca tulisan ini.

Memang tulisan ini tidak ku tujukan untuk meralat pernyataan sebelumnya. Aku menyadari benar, bahwa poin yang paling jeli kamu baca adalah kalimat ini  ‘Aku hanya ingin berdiri ditempatku seharusnya berdiri. Sudah enggan rasnya meminta maaf atas apa yang bukan salahku, yaa meski mungkin kau berpikir lain.’ Yaa.. kalimat itu benar. Aku sudah pada porsiku, meminta maaf atas kekeliruanku yang menyebabkan kamu lah yang harus menanggung semua beban yang diamanatkan padaku.

Untuk masalah2 yang terkait setelah penyerahterimaan tugasku kepadamu dan berbagaimacam ketidakberesan yang terjadi, itu sudah bukan kapasitasku. Aku senantiasa mau membantumu, kalau memang kamu meminta bantuanku. Tapi, karena memang bukan keinginanmu, yaa lebih baik aku diam. Daripada nantinya dianggab yang bukan- bukan.

Aku menyadari satu kenyataan bahwa menurutmu, yaa menurutmu, memang akulah yang salah. Kalau memang demikian, biar saja aku yang salah (menurutmu). Tapi aku masih tutus yang dulu, tutus yang pernah kamu kenal, tutus yang selalu menganggab dirinyalah yang benar.

Jika Maye bilang padaku, bahwa ini hanya kesalahpahaman. Maka biar aku menjelaskan kepadamu, tentang apa yang kutangkap dari ceritanya. Begini, Dia bilang ini semua berasal dari salahku (menurutmu), yang kemudian berlanjut pada hari -H laporan evaluasi.

  1. Kamu bilang aku pamit pulang gitu aja. Padahal kamu denger juga, waktu itu aku bilang ‘aku pulang tik, aku gag ada yang nganter pulang kalo kemaleman. Lagian juga gag ada angkot.’. Eh kamunya sibuk smsan, gag merhatiin. Kalo kamu ada diposisiku, apa yang kamu rasain?? MERASA GAG DIANGGEP!! IYA! Aku ngerasa gag dianggep. Siapa yang mau ada diposisi itu?? aku gag mau!
  2. Terus, waktu hari itu aku Ol. Menurutmu itu salah?? Dimana salahnya?? Kalo kamu pikir gag ada warnet dideket rumah. SALAH! Warnet ada di sebelah es teh susu. Sesekali cobalah tengok. Tempatnya disitu, kalo kamu gag percaya.
  3. Tulisanku di blog, juga menurutmu salah. Kenapa??? Ini blogku sendiri. kalo memang aku tulis apa yang menjadi isi hatiku. Apa itu salah?
  4. Ku tulis di blog itu, aku memang tak pernah diajak rapat. Dan menurutmu itu tidak benar. Dan menurutmu seharusnya aku punya kesadaran. Dan menurutmu aku salah. Bagaimana kalo kamu diposisiku?? Apa kamu juga akan ikutan rapat, sementara kamu tak dibutuhkan? Apa kamu juga akan punya kesadaran??
  5. Aku mengira kediri tidak laporan. Kata mengira disitu lebih baik dihapus. Yaa.. karena aku tidak pernah mengira demikian. Wahyu memberitahuku kalau kediri tidak laporan hari itu. Dan aku tanya Enya. Dan Enya tanya kamu. Hanya sekedar mengklarifikasi. Apa itupun salah?

Ahh.. rasanya seribu alasanku tak kamu butuhkan. Kebenaran yang ada sebagai pembelaan atas diriku adalah tetap salah bagimu. Maye memintaku untuk mengerti posisimu. Yaa.. karena kau sakit atau kau telah meninggalkan banyak tugasmu untuk menggantikan tugasku, atau alasan lain yang selalu membuatku diposisi akulah yang salah. Tapi kenapa tak ada yang berusaha memahami posisiku??Tapi aku tak peduli. Aku masih bisa memahami posisiku sendiri. Posisiku bahwa aku tak pernah merasa salah.

Perang dingin ini, melibatkan beberapa teman yang lain. Dan alasanmu hanya karena mereka tidak merangkulmu saat kau merasa butuh mereka. Aku juga pernah merasa hal yang sama. INgat, hari pertama saat aku masuk pasca kecelakaan. Saat aku bahkan tak bisa membereskan bukuku atau menutup resleting tasku. Mereka hanya menyalahkanku, lantas pergi meninggalkanku sendiri. Atau.. Pernah, bahkan selalu, mereka dan kamu hanya mencari tempat duduk untuk berempat. Atau selesai kuliah, mereka dan kamu tiba- tiba menghilang entah pergi untuk mencari makan, atau entah kemana. Atau tabungan apa itu ke malang, atau gelang kaki yang kembaran, pernah aku ditawari? TIDAK! Tapi tak apa. Aku berusaha mengerti. Mengerti. Bertahan. Dan mengenyahkan perasaanku yang selalu bilang ‘Kamu tidak dibutuhkan!’.

Ku ceritakan hal itu, bukan untuk mengais belas kasihan. Bukan untuk minta diperhatikan. Bukan untuk diajak turut serta. Bukan! Aku hanya ingin menegaskan bahwa memang kamu lebih dibutuhkan. kamu memang lebih mereka butuhkan.

Bila salahku (menurutmu) menjadikanmu memutuskan untuk meninggalkanku, SILAHKAN. Yaa, silahkan meninggalkanku. Tapi perlu kamu tau, itu bukan menjadi apa yang aku inginkan.  Tapi aku juga sadar, aku adalah pihak yang salah (menurutmu), jadi tidak perlu kamu penuhi apa yang menjadi keinginanku.

Namun bukan berarti kamu harus meninggalkan teman- temanmu yang lain. Cukup aku saja, cukup aku saja yang salah (menurutmu). Aku memohon kepadamu, jangan biarkan perang dingin antara kita justru akan melukai orang- orang yang tidak berkepentingan atas itu. Teman- teman yang lain lebih membutuhkanmu, daripada aku. Aku saja yang pergi dari keberadaan mereka. Aku saja yang sendiri, seperti sebelumnya, dan akan begitu seterusnya.

Aku tak memungkiri, mengenalmu, pernah menjadi temanmu, adalah hal yang sangat membuatku beruntung. Semua nasehatmu. Kedua telingamu yang mau mendengarkan keluhku. Semua kata- kata bijakmu. Semua perhatianmu. Semuaaanyyaaaa.. Terimakasih banyak.

Kalau hanya dengan hal ini akan memutuskan kebersamaan yang sudah terjalin, mungkin rasanya memang sayang. Tapi bila itu keputusanmu. Maka sekali lagi ku tegaskan.. aku akan menjawab ‘Silahkannn…’

4 thoughts on “Surat Kaleng

  1. Hmmph.. Dibuat untuk menghela nafas dalam2. Yaa Tuhan.. Darimana dikata2ku yang meminta ada ‘kalah dan menang’?? Aku tidak meminta itu. Aku sadar ini hanya perlombaan tikus, yang meskipun menang, adalah sebuah kenyataan bahwa memang dirinya tetap tikus.
    Bgaimana aku bisa mencari tau?? Bahkan sapaankupun diacuhkan. Katakan padaku ‘bagaimana’..

    Jika berkata tapi tidak terlaksana. Yaa.. lebih baik seperti itu kurasa, karena aku tau konsekuensinya. Benar2 tau akibatnya, kalo aku pulang malem, aku pati gag ada yang jemput, dan pasti juga kamu tinggal sendirian dengan berbagai alasan. Aku gag mau. Cukup sudah, aku mengorbankan diriku. Kecelakaan itu menyadarkan satu hal. ‘Perhitungkan biayanya..’ yaa.. perhitungkan segala sesuatu yang menjadi akibatnya.

    Di rangkul?? masalah ini lagi. Aku enggan membahasnya.

    Ahh.. Mendadak, aku memahami satu hal yang tak pernah kupahami sedari dulu.

    Jemari ini tak mempu menyembunyikan perasaan. Memang tinta lebih tajam daripada ucapan, maaf bila nantinya menoreh luka.

  2. aku baru baca soal ini. cuma sekedar menjelaskan masalah sebelumnya yang sudah ku lupa.
    hmm..sebenernya siih aku ngk marah sama sapa2. cuma mungkin ada beberapa faktor lain yg membuatku malas ngobro, bersenda gurau atau apa. *butuh waktu buat sendiri*. yaahh,,tak butuh bnyak alasan buat jelasin semua ini. yg jelas aku tetap menganggapmu teman, seperti teman2 lain di seluruh indonesia raya.. :))
    tak baik juga bersinggungan dan menyimpan buruk sangka. maaf (mungkin meski kau tak butuh maaf), maaf kalo pernah membuatmu sakit. rindujuga bertukar pendapat denganmu, mendengarr segala cerita dan semangatmu yg menggebu. nice to be you friend..

  3. Pingback: benar- benar PRASASTI « Tuaffi’s Weblog

  4. Pingback: PR yang tertunda « Tuaffi’s Weblog

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s