saran yang baikk.. ^^

Setelah 2 minggu tak pulang. Akhirnyaa.. kembali berjumpa dengan orang- orang yang kurindukan. Rasanya begitu banyak yang kulewatkan tanpa kehadiran mereka.. Ya.. Keduaorangtuaku juga dua adekku.

Hmm.. Akhirnya benar- benar bisa menyadari, bahwa memang merekalah yang mengerti aku seperti aku mengerti diriku sendiri. Merekalah yang menganggap aku, sebagai diriku, tidak memaksaku menggunakan kacamata oranglain, atau melakukan hal- hal yang dianggap benar oleh orang pada ‘umum’nya.

Kuceritakan semua yang terjadi padaku selama aku tak pulang. Tentang hubunganku dengan beberapa orang terdekat. Ibu dan Bapak memahamiku. Yaa.. mereka memahami bahwa inilah diri mereka dahulu, dan didikannya terhadapku. Segala sifat buruk ini tak pernah terlepas dari campur tangannya pula tentunya.

Ibu menasehati yang kurang lebih begini isinya. Memang aku ini anak yang seperti itu, egois, mau menang sendiri, susah kalo diatur, maunya sok ngatur, cuek, de-es-be-ge lah. Aku susah punya hubungan baik yang lama sama seseorang, oleh karenanya.. Aku harus bisa segalanya sendiri. Memanfaatkan segala apa yang Tuhan beri dengan kedua tangan, kaki, dan seperangkat alat tubuhku sendiri. TIdak boleh bergantung sama orang lain.

Kalo Bapak bilang, kuranglebih beginI : Bapak gag suka anaknya bermusuhan. Kalo memang sudah gag cocok sama teman yang itu, ya… cari teman yang lain. Jangan terlalu dekat sama orang. Orang tuh yaa sama ajah, kalo seneng dia deket, kalo gag seneng yaa ditinggal pergi. Makanya cari temen yang banyak. Jadi orang tuh yang ‘dicari’, jadi orang yang ‘dibutuhin’. Gitu.

Dari buku yang kubaca, juga ada beberapa kata- kata hebat sii. Seingatku kurang lebih begini. ‘Seringkali kita menganggap kebahagiaan berasal dari teman, dan ketika teman itu pergi.. Maka pergilah kebahagiaan kita. Itu bukan landasan yang benar. Jikalau memang keadaannya demikian, berarti kita menggantungkan kebahagiaan kepada ‘orang’nya, bukan kepada esensi per’teman’an itu sendiri.’ Yaa.. Dan kupikir aku mulai mengeri teman itu seperti apa, jadi yaa ini lebih baik kurasa.

Seseorang menghardikku dengan kata seperti ini ‘mencari satu teman lebih susah daripada mencari seribu musuh.’. Menuntutku untuk mempertahankan hubungan baik yang kubina dengan beberapa orang tanpa memperdulikan keadaanku. Menyuruhku melupakan, mengikhlaskan yang terjadi sebagai suatu pembelajaran. Oke.. Aku rela atas semuanya. Sudah kumaafkan juga. Tapi bukan berarti melupakan. Melupakan pelajaran berharga yang menahun kudapatkan.

Ahh.. Ini lebih baik kurasa. Terserah orang mau bilang apa. Aku yang paling mengerti keadaanku. Untuk semua saran Ibu dan Bapak, pasti akan ku pakai.  Mereka mengenalku dengan lebih baik, mengenalku bahkan sejak Sembilan bulan sebelum 22 september datang, menghadirkanku di bumi dengan ketidakpastian ini.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s