21.01.2011

Jumat hari itu, hari yang mengesankan. Langsung kuceritaiin ajah yaa..

Pulang ujian Termo mendadak dilanda rasa ngantuk berat. Akhirnya, selesai maem, ku putuskan untuk tidur sejenak. Sebelum tidur, ku pasang alarm tepat pukul setengah 1. Waktu itu aku bener- bener gag sadar kalau ujian Filsafat tuh jam setengah 1. Setauku selama ini, ujian biasanya sama dengan jam kuliah. Jadi yaa aku ingat kalo ujian Filsafat pasti ya jam setengah 3, karena emang jam itu jam kuliahku biasanya.

Jam setengah 1 alarm bunyi. Tapi masih ngantuk berat, yaa sudahlah.. Tidur lagi. Jam setengah 2 aku bangun. Seperti biasa, cuci muka, dan sebagainya. Mendadak, aku melihat jadwal ujian, dan ternyata di jadwal tertulis jam ujiannya jam ke 7 – 8. Mendadak semua tubuhku bergetar, aku ketakutan. Gimana gag? Jam ke 7 – 8 itu artinya ujian sudah dimulai jam setengah 1 dan berakhir jam setengah 3. Wew, aku kebingungan.

Beberapa saat kemudian, aku mendapati diriku sudah ada di kampus. Ketemu dengan beberapa teman. Dan untunglah, tidak ada satu orangpun yang menyadari ketidakdatanganku di Ujian Filsafat tadi. Semua menyapaku seolah tidak ada sesuatu yang aneh terhadapku.

Aku menyiapkan seribu alasan yang mampu menolongku di depan Bu Hamidah (Dosen Filsafat, red). Saking gugupnya, aku bahkan lupa siapa nama Dosennya. Hahaha. Aku Tanya nomor hape dosen itu pada salah seorang teman, dari situ aku tahu siapa namanya. Untunglah. Setelah beberapa saat mencari- cari ruangannya, akhirnya ketemu. Didepan pintu ruangan itu ditulis Nama yang punya ruang, dan ada gantungan ‘TIDAK ADA’. Yaa.. itu artinya Bu Hamidah tidak ada di Ruangannya.

Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, Ibu Filsafat tidak mungkin pulang sebelum jam 6, itu yang beliau ucapkan berkali- kali saat kuliah. Berkali- kali ku coba menelpon nomer hapenya, mailbox menjawab panggilanku. Ahh.. Dibuat makin deg-deg an.

Mencoba menghilangkan rasa gugup, aku keliling kampus. Siapa tau bertemu dengan Dosen itu. Tapi justru  bertemu lagi dengan beberapa teman sekelas, mereka menyapaku. Lagi- lagi beruntung, mereka tidak menyadari ketidakhadiranku Ujian Filsafat tadi, hyuufftt.. Sedikit menenangkan.

Bertemu dengan Mas Ginanjar salah seorang senior. Berbincang sebentar, menceritakan pengalamanku hari ini, dan meminta pendapatnya. Jawabannya, benar- benar membuat hati tenang. ‘masak si Ibuk nya gag mau ngasih ujian susulan??’. Lantas disambung dengan beberapa kata- kata hatiku sendiri yang meyakinkan bahwa ‘Gag ada koq guru yang pengen muridnya dapat nilai jelek! Jadi gag mungkin Beliau gag mau nolong.’.

Setelah sedikit merasa tenang, ku kirim SMS pada seseorang. Diapun menelponku. Jauh lebih merasa tenang. Dari situ aku mendapat ide, kenapa tidak kulihat dulu di dalam ruangannya, kenapa aku percaya begitu saja pada tulisan yang menggantung di depan pintu?

Setelah selesai telponnya, aku kembali lagi menuju ruang dosen Biologi. Aku mencoba mengintip kedalam ruangan itu. Ternyata benar, Ibunya ada di Ruang itu sedang berbincang dengan salahsatu mahasiswa yang  mungkin berkonsultasi tentang skripsi atau apalah. Aku menunggu.

Mahasiswa itu keluar, aku masuk ruangan. Aku menceritakan apa yang kualami hari itu. Tanpa banyak komentar ibunya, segera mencarikan soal yang diujiankan tadi, lantas menyiapkan tempat untukku ujian. Beliau mewanti- wanti supaya aku gag nyontek. Aku cukup bilang ‘Iya, dan terimakasih banyaakkkkkkk..’

Ujiankupun berlangsung lumayan singkat. Sebenernya banyak soal yang aku meraba- raba, karena aku tidak terlalu mengerti. Tapi untunglah setelah ku cocokkan kembali, jawabna itu benar. Alhamdulillah.. J

Legaa banget rasanya. Selesai mengerjakan ujian. Selama perjalanan pulang kembali kerumah, aku menertawakan diriku sendiri. Juga mencoba peka, tentang hikmahnya. Kebayang kalo missal aku jam setengah 1 langsung bangun dan menyadari aku sudah telat, pasti pas waktu aku masuk kelas udah jam 1 an. Itu artinya waktu mengerjakan soal ujian begitu terbatas, belom lagi itu terpotong dengan merepotkan penjaga ruang untuk menyiapkan tempatku, atau terpotong waktu untuk menikMati jantungku yang terpacu begitu cepat. Dan rasa tidak tenang yang membuatku tidak focus pada ujiannya.

Satu lagi : Rasa malu yang mungkin akan mengekoriku selama ujian sampe beberapa saat setelah ujian selesai. Yaa.. Karena semua akan tau betapa tidak disiplinnya diriku. Dan mungkin Dosen akan menegurku di depan semua peserta ujian, yang tentunya selain menjatuhkan mentalku, juga akan mengganggu peserta ujian yang lain. Kebetulan mata kuliah Filsafat, ujiannya serentak dengan departemen Biologi, Kimia, dan Matematika. Wew… Kebayang? Jangankan seluruh departemen, wong satu kelas fisika aja tau, aku bisa malu minta ampun, lah ini malah satu fakultas. **shock**

Untunglahhh.. Aku bangun tidur sesudah ujian selesai, jadi yang mengetahui ketidakdisiplinanku bisa di minimalisir dari ‘semua peserta ujian’ menjadi ‘Mbak Win, Mas Ginanjar, Mas Yudanis, Bu Hamidah, dan pembaca tulisan ini tentunya’.

Terimakasih Tuhan.. ^^

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s