Saya lebih baik dari siapa?

Pertanyaan itu yang seringkali terlontar dalam benak saya, beberapat waktu yang lalu. Membuat saya gelisah dan tak tenang, ‘jangan- jangan banyak yang lebih baik dari saya ketimbang yang lebih buruk, atau jangan- jangan memang tidak ada yang lebih buruk dari saya.’ Namun pertanyaan itu musnah setelah saya membaca sebuah buku yang membuat saya menyadari sesuatu. Kali ini, saya akan bercerita tentang satu titik balik saya waktu itu, setelah membaca buku ‘7 habbit for teens’.

Saya lupa bagaimana tepatnya buku itu menganalogikan. Yang intinya menjelaskan bahwa didunia ini tidak ada tiang yang menampung seluruh penduduk dimuka bumi, yang diurutkan sesuai peringkatnya. Satu yang terbaik menginjak yang dibawahnya, dan kemudian diinjak lagi dan seterusnya.

Misalnya seperti ini, ketika seorang ibu menerima rapor putranya yang otomatis dilakukan adalah membandingkan dengan ibu- ibu penerima rapor yang lain. Lantas dalam hati menggumam, ‘Oohh.. ternyata anak saya di bawah nilai anak itu, tapi syukurlah masih di atas anak ini dan bla bla bla……’ Seolah, memang di sekolah itu ada tiang yang mengurutkan anak ini dibawah si itu dan sebagainya.

Saya pun sempat merasakan demikian, ketika di kelas, saya membuat semacam peta sebaran atas teman- teman saya. Saya bagi menjadi beberapa kelompok, kelompok A adalah mereka yang prestasinya diatas saya, Kelompok B yang sama dengan saya, Kelompok C adalah mereka yang dibawah saya. Saya seperti membuat draft perang, dimana satu persatu mereka harus saya kalahkan. Sadis.

Tapi saat saya kuliah, semua itu sama sekali tak berlaku. Mereka yang di kelompok C ternyata mempunyai prestasi lain, seperti organisasi, PKM, dan sebagainya. Atau ternyata yang di kelompok A adalah orang- orang yang memang telah mendapat mata kuliah itu sebelumnya, terang saja mereka terlihat lebih ahli, tapi ketika di semester agak akhir mereka ternyata sama juga ketinggalan. Amburadullah peta perang saya.

Saya jadi bingung lagi, bagaimana saya harus berperang, kalau saya tidak tahu persis siapa yang harus saya kalahkan, dan siapa yang akan mengalahkan saya. Saya juga bingung, siapa yang berada diatas saya, dan siapa yang telah saya ‘injak’ dibawah saya.

Betapa bodohnya saya waktu itu. Saat saya menyadari bahwa semua yang saya lakukan sedari dulu dan kebingungan saya adalah sebuah kesia- siaan. Tidak pantas sekali membandingkan diri saya dengan orang lain, masing- masing orang diciptakan dengan keahliannya masing- masing. Bisa jadi mereka yang tidak baik di bidang hitungan, adalah orang yang dapat menghapal ribuan lembar buku dengan cepat. Atau mereka yang ber-IP rendah justru orang- orang terbaik di bidang organisasi.Dan sebagainya..

Satu- satunya yang merupakan pembanding bagi diri saya saat ini adalah juga ‘diri saya’, tentunya pada saat yang lalu. Standar penentu baik atau buruknya diri saya sekarang adalah juga ‘diri saya’, di waktu yang lalu. Perang itu, bukan mengalahkan orang lain, bukan mengalahkan siapa- siapa, yang saya patut kalahkan adalah diri saya sendiri.

Untuk itu, sekarang saya tidak begitu memperhatikan berapapun IP teman sekelas saya untuk kemudian dibandingkan dengan IP saya. Karena saya tau, standar saya dengan mereka tentu sama sekali berbeda.

Jadi teman- temanku… Sungguh tidak ada gunanya, membandingkan Anda dengan orang yang lain. Karena, tentunya Anda lah yang paling mengerti diri Anda, dan juga merekalah yang mengerti diri mereka. Yang paling berguna saat ini adalah : bagaimana menjadi pribadi yang selalu mengalami peningkatan kualitas hidup dari hari ke hari… ^^

**Kertosono, 22 April 2011

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s