Surat Kaleng #part : 3

Jika Anda melihat diri saya yang seolah tak pernah kehilangan ide- ide segar.

Jika Anda melihat diri saya yang seolah senantiasa bergerak, membuat saya tak pernah duduk tenang di bangku saat kuliah, selalu saja ada yang menghubungi saya minta janjian ketemuan, atau sekedar minta proposal.

Jika Anda melihat saya kesana kemari menenteng setumpuk amanah kegiatan.

Jika Anda melihat saya yang tak pernah menyerah mempertahankan idealisme saya saat membahas suatu kegiatan.

Jika Anda melihat optimisme yang selalu mengalir dalam perkataan saya.

Jika Anda melihat saya sedemikian beraninya berkata lantang ‘tidak setuju’, dalam sebuah forum keilmuan 8 fakultas se Unair, tanpa satupun yang membela saya.

Maka mungkin Anda tidak percaya, bahwa sebenarnya sosok yang Anda lihat (saya) adalah orang yang pemalu, orang yang pendiam, orang yang lemah, orang yang selalu merasa dirinya kecil (bukan dalam ukuran fisik yaa), orang yang bla bla bla .

Yaa.. Hal itu tidak pernah saya sangkal. Saya adalah orang yang demikian. Tapi saya teringat sebuah kata- kata ‘Anda akan berani, saat Anda merasa takut’. Mungkin terbersit tanya dalam diri Anda ‘Loh?’.. Iya kata- kata itu sudah benar, hanya mungkin Anda belum mengerti artinya. Maksudnya adalah, keberanian itu justru terbit saat Anda merasa takut, coba bayangkan bagaimana bisa Anda merasa berani kalau Anda sendiri belum tau takut itu seperti apa?. Ya kan?.. Nah kalau Anda sudah paham, maka yang saya ingin ceritakan adalah hubungan kalimat itu dengan diri saya. Saya ingin menjadi berani, dengan menghilangkan satu saja ketakutan saya. Pada waktu itu, saya putuskan untuk menghilangkan ketakutan ‘untuk keluar dari wilayah nyaman saya’.

Pertama, ketika saya ditunjuk untuk menjabat di HIMAFI sebagai dirjend OPTIK. Waktu itu saya bertanya pada Ibu saya, ‘Apa saya pantas?’, dan Ibu saya menjawab dengan yakin ‘Kamu pasti bisa!Kadang orang gag  harus menunggu pantas untuk menjabat di suatu organisasi. Ambil kesempatan yang datang menghampiri, karena bisa jadi kesempatan tidak datang untuk keduakali.’. Langsung saya menjawab sms dari presiden HIMA dengan ungkapan yang kurang lebih menyatakan bahwa saya bersedia.

Kedua, saat saya ditunjuk sebagai Kadiv Riset (sekarang menjadi kastrat –kajian strategis-).  Kalau di HIMA si kurang lebih saya tau siapa rekan kerja saya, Fisika juga merupakan bidang saya apalagi OPTIK itu malah yang jadi incaran saya, tentunya hal itu tidak membutuhkan adaptasi yang lama. Tapi saat di RISET? Saya kira yang akan menjadi spesialis saya adalah sebagai peneliti (sesuai nama divisinya), tapi ternyata bukan, yang merupakan kajian riset adalah isu- isu nasional yang sangat jelas jauh berbeda dengan apa yang saya tekuni.

Apalagi saat bertemu dengan Mas Arya, kabid RISKEL (yang sekarang berganti nama dengan KESTRA –KEILMUAN DAN KAJIAN STRATEGIS – ). Dia tanya banyak hal kepada saya, tentang konsekuensi sebagai kadiv kastrat. Dari situ saya merasa jelas bahwa kualitas diri saya sudah diragukan, saya sadari hal itu karena memang ini bidang baru bagi saya. Akhirnya dengan senang hati saya melepas jabatan itu, kenapa bilang ‘dengan senang hati’? yaa.. karena saya mendapat jabatan yang saya inginkan ‘Kadiv Keilmuan’. J

Itu belum selesai, ternyata sebagai kadiv keilmuanpun belum membebaskan saya dari perasaan takut, entah takut akan apa. Saat pembukaan perekrutan anggota BEM, saya merasa calon- calon yang akan masuk menjadi staf justru jauh lebih berkompeten dari saya. Ini terbukti saat saya mendengar jawaban dari setiap pertanyaan yang saya dan anggota tim penanya  lain ungkapkan. Saya merasa benar- benar tidak pantas untuk jabatan ini.

Saat welcome party, saat pertama kali saya bertemu dengan rekan kerja saya periode kedepan. Penyambutanpun berlalu singkat, semua kaimat didominasi Mas Arya dan Lusy (Kadiv kastrat, red). Maklumlah, keduanya sudah berpengalaman periode BEM yang lalu. Lusi staf keilmuan taun lalu, mas Arya kadiv riset taun lalu. Saya?? Bukan siapa- siapa tahun lalu. Hehehe..

Saya mengamati satu persatu staf saya, membuat saya benar- benar down. Apa ini benar benar jalan saya? Apa saya yang bukan siapa- siapa ini harus memimpin mereka- mereka yang luar biasa? Apa saya bisa? Ahh.. semalam saya dibuat tak bisa tidur. Apa saya mundur saja?? Menyerah saja?

Tapi saya ingat kata- kata Ketua BEM (mas Arif, red), “Dulu pas saya dengar nama ‘tutus’ dari Rio (wakil ketua BEM, red), saya sedikit ragu, siapa orangnya, koq gag pernah kelihatan, koq gag terdengar namanya, tapi pas saya ketemu orangnya SAYA YAKIN TUTUS ORANG YANG BISA DIANDALKAN.”.

Saya juga ingat kata- kata Mas Arya “Saya percaya dua wanita disamping saya (waktu itu kita sedang rapat bertiga bidang KESTRA, red) merupakan wanita yang tangguh,yang  hebat, yang siap mengawal kemajuan FSAINTEK di bidang keilmuan dan riset (waktu itu belum ganti nama menjadi KESTRA, red).”.

Mungkin orangnya sudah lupa pernah berkata demikian, tapi saat saya merasa saya tak pantas, kata itu menggema dalam batin saya, seiring dengan gema lain yang tak kalah kuat berkata ‘Tutus BISA!’.

Terbayang jika dari semua langkah- langkah yang saya tempuh, saya memilih lari saja, saya tak mungkin terlihat demikian oleh Anda. Kalau saya saja yang bukan siapa- siapa bisa, apalagi Anda yang saya yakin adalah orang yang luar biasa??

Keep fight!!

**Untuk yang tersayang, Adik saya Afam.  Juga untuk orang- orang lain yang ingin maju tapi selalu terbentur dengan kata ‘saya takut, ini  bukan wilayah saya’ dan sejuta alasan lainnya.**

Kertosono, 28 Mei 2011

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s