laki- laki nomor 1 #part : 3

Lagi- lagi saya ingin bercerita tentang Laki- laki nomor 1. Sosok yang paling berharga dalam hidup saya.

Minggu, 26 Juni kemarin  saya habiskan dengan mendengarkan cerita beliau sepanjang perjalanan menuju Jombang, kembali ke Kertosono, ke Kediri  terus balik lagi ke Kertosono. Hmm.. Benar- benar cerita yang panjang.

Beliau mengenang masa- masa dulu, keluarga kami termasuk berkecukupan, untuk jalan- jalan tiap malam Minggu ke Jombang ataupun ke Kediri bisaaa lah, atau untuk sekedar memborong durian di Wonosalam pada musimnya, maklum kami sekeluarga suka sekali dengan Durian!

Tapi, seperti filosofi roda kadang kita berada di bawah, dan sesaat kemudian bisa jadi berada di atas. Begitu juga dengan keluarga kami. Mulai saya kelas 4 SD, entah saya kurang begitu paham, keuangan keluarga mulai memburuk. Puncaknya saat saya kelas 2 SMP, adek saya yang paling kecil (Fifi, red), lahir. Usaha toko kecil ibu saya tak terurus maklum saja ibu harus ekstra mengurus anggota baru keluarga kami. Bengkel Bapakpun mulai sepi. Ahh.. masa- masa sulit dimulai.

Saya ingat pernah membeli pecel yang tidak terlalu enak, dengan jarak yang cukup jauh, berhari- hari, hanya karena harganya SERIBU! Saya sampai malu karena setiap hari harus kesana dengan uang 5 ribu untuk membeli 5 bungkus. Masing- masing satu untuk ibu, saya, dek Afam, dan 2 untuk Bapak saya. Saya juga pernah membeli sebungkus Bakso yang normal harganya 5 ribu, tapi karena tak punya cukup uang saya hanya membeli 2 ribu, dan apa kata Pak baksonya ‘Bakso opo iku 2 ribu, yowis gag usah gawe kresek!’ (Bakso apa yang harganya 2 ribu, yasudah tapi gag pake kantong, red). Sakit hati sekali saya waktu itu, sampai saya berjanji dalam diri saya tidak akan kesitu lagi, kecuali jiika saya sudah punya uang untuk membuat Bapak itu menghargai saya!

Saat kelulusan SMP, saya sempat pernah menangis menyesali nila UAN saya yang cukup tinggi. Kenapa? Begini alasannya. Saya pernah bilang pada Ibu saya, kalau saya ingin melanjutkan sekolah saya di SMA NEGERI 2 KEDIRI. Tapi, saat melihat kondisi keluarga yang kesusahan maka saya mengurungkan niat saya, dan berharap nilai UAN saya jelek. Agar suatu saat saya tidak menyalahkan orangtua saya yang tidak mampu menyekolahkan saya kesana.

Saya akhirnya dengan berurai airmata bilang pada Ibu Bapak, kalau memang tidak ada biaya saya mau sekolah di Kertosono. Bapak menasehati saya, kalau Bapak ingin saya lebih baik dari beliau. Untuk itu, Bapak pasti akan memenuhi keinginan saya untuk sekolah di sekolah favorit manapun yang saya ingin. Meskipun saya tau benar, kerja Bapak sebulan bahkan kurang untuk memenuhi hidup saya sebulan di Kediri. Lantas bagaimana dengan makan Bapak, Ibu, dan adek- adek sehari- hari? Tapi Bapak meminta tolong dengan sangat agar hal itu tidak menjadi beban pikiran saya.

Bapak memilihkan tempat kos untuk saya. Jika saya bandingkan tempat kos saya dengan teman- teman lain dari SMP yang sama, tempat kos saya tergolong bagus. Jika teman- teman yang lain perlu memasak, atau mencari- cari makan, makan saya sudah diantar ( catering ). Jika teman- teman yang lain butuh nebeng untuk berangkat les, saya sudah dipasrahin motor pribadi. Bapak hanya ingin kemudahan buat saya, agar saya hanya focus BELAJAR meraih cita- cita yang saya inginkan. Bapak juga ingin anaknya mandiri, tidak tergantung siapa- siapa, tidak dianggap remeh siapa- siapa.

Saya yakin, tak ada yang percaya kalo saya sesusah itu waktu SMA, bahkan pacar saya orang terdekat dengan saya. Saya tak pernah membicarakan hal ini pada siapapun. Bukan karena saya malu, saya hanya tak ingin dikasihani!

Bapak pernah berternak Ayam, tapi nihil hasilnya. Karena setelah ayam nya besar- besar. Bapak terlalu sayang, jadi gag tega mau dijual. Haha.. lucu bapak memang.

Bapak berpikir setiap malam, bagaimana caranya agar kondisi ini tidak berlarut- larut. Hingga waktu itu tengah malam, seolah Bapak mendapat petunjuk. Segera Bapak membangunkan Ibu saya untuk berdiskusi tentang sesuatu yang tiba- tiba  terpikirkan. Besoknya, Bapak segera menjual salah satu sawah miliknya, 38 juta. Proses menjual sawahpun terbilang mudah, dengan segera uang bisa cair. Pas Bapak butuh mobil, segera langsung bisa dapat sesuai dengan uang yang Bapak punya. Hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu, Bapak sudah mulai bisa jualan buah. “Bapak sempat heran, kenapa semuanya berjalan begitu mudah.”  Kenang Bapak saya.

Berangsur- angsur tidak sampai 2 tahun, semua keadaan keluarga saya berbalik! Bisa renovasi rumah, membeli handy cam, dvd player, TV layar datar, 2 kulkas, 2 Vario, 1 Megapro, 2 laptop, mesin cuci, dan yang terakhir sebuah mobil carry! Bapak  pernah bertanya pada diri Bapak sendiri “Kapan bisa punya Carry?”. Eh sekarang sudah tercapai.

Kalau dulu untuk makan susah. Jangan Tanya sekarang bagaimana. Saya bahkan pernah dalam sehari makan 3 kali, makan pagi beli sayur asem lauk otak goreng, makan siang : masakan padang, makan malam : sate ayam. Semua makanan kesukaan saya! Pak Bakso yang dulu pernah menghina saya, beberapakali sempat saya datangi, saya selalu membawa uang ratusan ribu untuk kesana membeli bakso dan minumnya, dan saya sangat senang kalau Pak Baksonya bingung cari kembalian. Haha, rasain.🙂

Sekarang Bapak sedang berpikir akan menjual lagi sawah yang satunya. Bapak bilang, hasilnya setahun hanya 5 juta, kalau dijual bisa dapat uang seratus juta buat modal usaha lain. Memang sawah investasi, tapi kalau ada yang lebih bisa dimanfaatkan, maka Bapak tidak akan segan menjual. Toh, sudah terbukti sawah sebelumnya dijual dan hasilnya jauh lebih bermanfaat.  Saya bertanya pada Bapak, kalau sawah yang itu dijual, terus warisan buat saya apa. Bapak hanya menjawab dengan “Ilmu..” dan sesungging senyuman.

Saya sayang Bapak saya!!!

5 thoughts on “laki- laki nomor 1 #part : 3

  1. Subhanallah,,,
    Nano-nano rasanya baca kisahmu ini, tus…

    Terharu, ada bahagianya…

    Allah selalu memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan… setuju?🙂

    Jadi termotivasi lagi…😀

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s