sepucuk cinta untuk Ibu

6 Juli tahun ini adalah ulang tahun ke 40 Ibu saya…

Ibu adalah sosok yang berharga dalam hidup saya. Mungkin benar terkadang saya lupa untuk bahkan sekedar mengirim sepucuk sms menanyakan bagaimana kabarnya, tapi betapa namanya selalu saya kenang dalam hati.

Saya sering sekali kesal, jika urusan pribadi saya selalu menjadi bahan untuk memarahi saya. Saya tidak suka diceramahi, tapi Ibu saya selalu saja ceramah panjang lebar membuat telinga saya terasa panas. Saya tidak suka jika setiap kata- kata saya dibantah, saya tidak suka dibentak- bentak. Saya juga tidak suka dibanding- bandingkan dengan Adik saya. Saya tidak suka jika satu nilai jelek saya akan menjelekkan nilai lainnya. Saya juga merasa capek jika disuruh pulang setiap seminggu sekali, saya juga tidak bisa istirahat jika di rumah. Tapi tampaknya Ibu saya tidak mau mengerti apa yang saya tidak suka, sering saya berpikir ‘kenapa Ibu saya egois sekali???’

Tapi… Jika saya melihat dengan kacamata yang lain. Melihat sisi lain dari Ibu, hal- hal berkebalikan saya dapatkan.

Meski di depan saya, Ibu selalu mencemooh nilai jelek saya, tapi di depan teman- temannya Ibu selalu bangga dengan anak- anaknya. Beliau hanya tidak ingin kami terlena oleh pujian, beliau tahu kami mampu lebih lebih dan selalu lebih baik.

Ibu ingin saya pulang setiap minggu karena ingin bertemu dengan anaknya hanya beberapa jam, untuk memacu semangatnya agar tidak menyerah meski beban terasa semakin menghimpit pundak. Toh saat di rumah, saya dimanjakan dengan jajanan dan makanan enak yang tidak saya dapatkan dengan mudah di perantauan.

Ibu rela melupakan rasa lelahnya bekerjakeras, Ibu rela bangun pagi buta dan tidur larut malam, bukan hanya beban fisik, pikiran pun terkuras. Hingga kadang lupa makan, sakitpun tak dirasakan. demi siapa lagi kalau bukan anaknya? Demi apa lagi kalau bukan kesuksesan 3 anaknya? Sementara kalau nanti saya sukses, ya itu untuk saya sendiri. Untuk kelanjutan hidup saya sendiri. Beliau hanya melihat dari kejauhan dengan sesungging senyuman dan segunung perasaan bangga melihat kehidupan anaknya lebih baik darinya.

Jadi, siapa yang egois?

SAYA!!

Entah dengan apa saya membalas jasanya, meski suatu saat saya bergelimang uang hingga apapun yang ada di dunia ini sanggup saya persembahkan kepadanya, itupun tak akan cukup. Tak akan mampu menebus 9 bulan rahim yang beliau sewakan untuk saya, tak mampu membayar air susu yang beliau berikan, tak mampu menawar rasa sakit atas ucapan dan tindakan saya, tak mampu membalas kasih sayang yang tulus darinya, tak akan mampu…

Ribuan ucapan ‘Terimakasih’ terus saya ulang hingga tak punya maknapun, tak akan cukup sebagai perwujudan rasa terimakasih saya padanya.

Sepenggal lagu ini mungkin mewakili cerita tentang kasihnya..

Kasih Ibu..

Kepada Beta..

Tak terhingga, sepanjang masa..

Hanya memberi.. Tak harap kembali

Bagai sang surya menerangi dunia……

Terimakasih Ibu…

Selamat Ulang Tahun,

Dengan cinta

Tutus

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s