masa lalu

Hari ini saya terduduk lama di jok sepeda motor yang parkir di sebelah gerbang SD tempat adik saya sekolah. Mendadak imaji mengajak saya di suatu masa tanpa kata- kata muluk mutiara, tanpa prahara, hanya celoteh riang perempuan belasan tahun yang mulai mengenal arti cinta dalam lapang pandangnya. Saya teringat dia, juga cerita tentang kami, lebih dari sewindu yang lalu..

Saya mengenal dia dengan semua kesederhanaannya. Itu yang membuat mata saya tak pernah berada jauh dari bayangannya. Entah bagaimana selebihnya, intinya saya suka dia. Waktu itu!

Saya bocah ingusan keras kepala, saya memang tak pernah banyak ngomong sama siapa- siapa. Bocah pendiam, yang selalu takut dengan pelajaran matematika! Setiap pulang sekolah saya selalu saja pulang paling akhir, karena untuk mendapat tiket keluar kelas, selalu harus menjawab soal perkalian, pembagian, atau apalah. Ampuuunnn!!! Saya tak bisa. Bahkan sampai sekarangpun, saya masih kesulitan menambah, mengurangi, mengali, dan membagi tanpa jari- jari tangan saya.

Saya tak terlalu menonjol waktu itu, sampai akhirnya persaingan antara kelas dimulai. Dulu kelas 6 SD ada dua kelas, yang satu kelas biasa, dan kelas saya kelas unggulan. Saya lupa entah pertandingan apa, karena penampilan saya yang terlampau cuek saya dikira menantang, padahal tidak sama sekali. Saya hanya memang terbiasa dengan menyingsing lengan baju yang memang kepanjangan.

Sepeda yang saya tumpangi ke sekolahpun sepeda cowok! Kebayang? Saya perempuan dengan rok kepanjangan memakai sepeda cowok. Kalau sekarang si mungkin biasa saja, tapi jaman dulu? TABU! Tapi, yaa itulah saya.

Tak lupa, saya juga pernah ditaksir cowok di kelas biasa. Gila bener tuh cowok! Sampai semua guru satu sekolah tahu, begitu juga teman- teman saya. Ibu Bapak saya? Tahu juga! Dia sering main ke rumah saya. Hmmph.. membuat saya malu. Tapi lucunya adalah, ketika dia main kerumah saya, dia melihat semua mainan yang dia kasih ke saya, saya simpan dengan baik. Saya pajang di meja belajar. Memang tak pernah saya tolak apapun yang dia berikan, tapi juga bukan berarti saya menerima apa yang waktu itu dia namakan cinta. Haha.. kurang ajar saya memang.🙂

Kembali kepada ‘dia’. Dia adalah sosok yang bagi saya tak akan terjangkau tangan, banyak sekali perempuan seumuran yang suka padanya. Selain fisiknya yang terbilang lumayan, dia juga termasuk deretan anak- anak pintar. Ahh.. berbeda sekali dengan saya.

Lambat laun, saya mulai mengubur namanya dalam hati saya, membingkainya dalam sebuah masa yang saya namakan ‘Masa Lalu’. Kisah yang terus terpatri, terkenang, terpahat disana, tetap disana.. Masa lalu.

Rombongan bocah berseragam putih merah membuyarkan lamunan saya. Memaksa saya menyadari realita, inilah saya sekarang… seorang perempuan dewasa. ^^

 Sabtu, 13 Agustus 2011.

One thought on “masa lalu

  1. Pingback: :) bahagia :) « Tuaffi’s Weblog

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s