Bidadari Bidadari Surga

Jum’at, 12 Agustus 2011. Buka- buka folder di laptop, perasaan kapan hari itu ada beberapa novel dari teman yang belum sempat terbaca. Akhirnya, berlabuhlah mata ini pada satu judul Bidadari- Bidadari Surga. Sepertinya ini bukan edisi asli, yaah.. saya kurangtahu banyak. Kenapa? Karena terdapat banyak salah ketik, tidak ada daftar isi, dan banyak keganjilan lainnya.

Ceritanya yaitu tentang keluarga di lembah Lahambay yang terdiri dari Mak Lainuri, Kak Laisa, Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan si bungsu Yashinta. Babak mereka telah meninggal diterkam harimau penguasa gunung Kendheng saat Yashinta masih dalam kandungan. Mereka hidup di sebuah rumah panggung reot dengan 1 kamar.

Meski hidup sederhana, Mak Lainuri bersikeras ingin kesemua anaknya mengenyam pendidikan yang layak. Dan demi itu, terpaksa Laisa si sulung yang merupakan anak tiri dari suami Mak Lainuri sebelumnya harus mengorbankan sekolahnya. Laisa bukan gadis biasa, dia punya tekad kuat demi adik- adiknya. Kalaupun malu, susah, sedih, menderita, yaa haruslah dia, bukan adiknya. Gadis yang hebat.

Laisa yang tidak dapat tumbuh normal karena kecelakaan sewaktu dia bayi, tidak menjadikan hatinya sekerdil tubuhnya. Dia pulalah yang membawa kehidupan sekeluarga menjadi lebih baik. Menjadikan Dalimunte seorang fisikawan hebat, Wibisana dan Ikanuri seorang pengusaha bengkel dan spare part yang sukses, dan Yashinta seorang fotografer untuk national geographic sekaligus pendaki gunung dan petugas konservasi yang handal. Sedangkan Laisa, menjaga mak Lainuri di Lahambay dengan kekayaan yang melimpah sebagai pengembang desa tersebut dan memiliki kebun stroberi ribuan hektar.

Dibalik semangatnya yang senantiasa berkobar, ternyata Laisa menderita sakit kanker paru- paru stadium akhir. Dan disanalah cerita itu bermula, sekaligus berakhir.

Alur maju mundur, membuat cerita ini lebih hidup, sayangnya… karena terlalu sering menyebutkan umur masing- masing membuat saya jadi bingung. Contohnya : di halaman 9 penulis menyebutkan bahwa Wibisana berumur 34 tahun terpaut 11 bulan dengan Ikanuri yang berumur 33 tahun, pada waktu itu mereka berdua sudah mempunyai anak yang sudah bisa mengendarai bmx sendri, mungkin sekitar 7 atau 8 tahun. Sementara di halaman yang lain (109) pada saat hari- hari menikah, usia Ikanuri menjelang 35 dan Wibisana 34 tahun. Saya jadi bingung. Banyak lagi kejanggalan tentang umur- umur itu, atau mungkin saya saja yang kurang paham.

Terus yang tiba- tiba muncul Tere di halaman 133, sedikit mengganggu alur berpikir saya dan menyebutkan bahwa ada 5 sms yang terkirim dan satu untuknya, sementara di bab pertama sms itu hanya untuk 4 nomor. Ahh.. sudahlah, jadi bingung lagi. Ilmu saya yang terlalu cekak, membuat saya harus memutar otak berkali- kali untuk memahami, hingga tak kunjung paham.

Selebihnya, cerita ini menarik, pantas untuk dibaca sebagai pembangkit semangat bahwa yang berkekurangan seperti Laisa saja bisa, apalagi saya, Anda, kita yang memilikinya dengan berkecukupan.

(Bagi yang juga ingin membaca silahkan donlot disini)

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s