Maha Kaya

Baru saja saya selesai menunaikan sholat Maghrib, bahkan belum sempat melepas mukena saat Mbak Kos memanggil (setengah berteriak) ‘Mbakk…’. Seperti biasa cas cis cus ngomong panjang lebar. Lantas pergi.

Saya meremas tangan, gusar. Harus bagaimana ini? Baru saja kemarin saya berjanji untuk tidak akan merepotkan Ibu Bapak untuk urusan uang kos, pulsa,  dan bensin motor saya yang sebenarnya tidak bisa dibilang sedikit.  Uang kos 350 ribu, bayar laptopnya 30ribu. Jatah bensinpun naik berkali-kali lipat sejak saya mulai memutuskan memakai Pertamax, karena merasa tidak pantas mendapat uang subsidi itu. Begitu juga dengan pulsa, saya boros sekali. Sementara penghasilan saya, bahkan bisa dibilang tak bersisa untuk memenuhi itu. Saya terpaksa mengambil uang beasiswa dan berjanji suatu saat akan mengembalikannya. Janji!!

Sekarang satu pengeluaran datang lagi : uang parkir di kos. Ya.. Mendadak membawa motor saja di kos ini harus bayar. Memang tak besar, cuma 30 ribu. Tapi… sayang juga uang segitu. Kalau ditotal berarti biaya kos perbulan 410 ribu. Sehari? 14 ribu.. Alamakk… Mahal! Apa saya terlalu mewah? Ahh..

Tanggal 14 adalah waktu habis kos, kalau tidak segera ada jalan keluar, saya akan pindah. Itu keputusan saya.

Pukul 6.15 sore, segera saya berangkat mengajar. Sepanjang jalan saya terus berpikir. Mendadak teringat wajah Ibu Bapak saya, rindu sekali. Saya ingin ada tempat bercerita. Tapi kalau Bapak dan Ibu tahu saya memikirkan masalah financial pasti dimarahi. Tidak- tidak.. Itu sama saja membebani mereka.

“Gag usah takut kekurangan mbak.. Allah itu Maha Kaya..” Kata- kata itu bergema ditelinga saya, seolah Bapak membisikkannya. Saya bahkan baru saja mengucapkannya siang tadi pada Mas Yudanis. Bagaimana mungkin saya bisa melupakan?!

“Setiap apa yang ada pasti menginginkan kestabilan. Begitu pula kesulitan, tidak akan stabil. Oleh karenanya  ia datang bersama kemudahan! Kalau sedang sulit, berarti sedang ada kemudahan, cari tahu dimana kemudahan itu. Manfaatkan!” Batin saya bicara.

Oke.. Saya menunggu, mencari, dan akan memanfaatkan kemudahan itu. Senyumpun kembali mengembang di bibir saya. Saya merasakan kehangatan semangat yang mengalir kembali, saat bertemu murid- murid saya. Saya menjemputnya satu persatu, hingga murid terakhir.. Keajaiban itu terjadi.

Seorang Ibu tetangga salahsatu murid menghampiri saya dan meminta ijin agar anaknya bisa ikut kelas kecil saya.

Tubuh saya seketika gemetar, takjub, tak percaya. Nafas saya tersenggal, dada saya sesak sekali. Entah apa yang saya ucapkan, yang jelas saya setuju. Saat Ibu tadi pergi, mendadak mata saya memanas, pandangan saya kabur, airmatapun menetes.

Ya Allah… Terimakasihh…

Gag usah takut kekurangan mbak.. Allah itu Maha Kaya..” Wajah Bapak dengan senyumnya seolah nampak di mata saya. Suaranya yang berat menggema di telinga.. “Allah itu Maha Kaya..”

4 thoughts on “Maha Kaya

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s