Tabir Transparan

Mendadak ada sesuatu, kenangan masa dulu, yang menyeruak dari lemari memori. Membentuk bayangan seseorang dan putaran gambar yang melayang- layang seperti sebuah film imaji.

Waktu itu saya masih kelas 2 SMP sedang mengikuti lomba matematika di salahsatu SMA favorit di Kediri (yang 2 tahun kemudian merupakan SMA saya) bersama beberapa teman, dia salahsatunya. Selesai mengerjakan soal- soal yang diujikan semua peserta dari SMP saya mengumpul di beranda masjid, sembari membahas beberapa soal.

Saat semua berkumpul.. riuh bersautan antara celoteh riang karena jawaban benar dan sesal karena jawaban salah. Sedangkan saya, sibuk sendiri mencari sesuatu yang sekiranya mampu menyegarkan kerongkongan yang sedari pagi terasa kering. Saya heran, bagaimana bisa panitia lomba tidak mengantisipasi dahaga para peserta lomba.

Selangkah, dua , tiga, puluhan langkah.. suara teman- teman mulai menghilang, saya menyadari sudah jauh meninggalkan mereka, dan sekarang berada tepat di depan gerbang. Menoleh kanan kiri, berusaha mencari penjual minuman, nihil. Tapi kepalang basah, pikir saya. Dan kakipun terus melangkah.

Akhirnya, nemu juga toko yang separuh buka di pinggir perempatan jalan. Saat hendak  menyebrang, saya menoleh kanan kiri..  dan dia ada disana. Berdiri tepat di belakang saya. Ohh.. pikiran saya mendadak buntu. Ingin bertanya tapi lidah terasa kelu.

Menyadari saya melihatnya dengan tatapan heran dia berkata ‘Gag usah GR, aku pengen jalan- jalan..’. Sayapun hanya membisu, salahtingkah.. Apa benar dia mampu membaca pikiran saya. Sial..

Tak ingin berlama- lama terlihat bodoh, saya segera menyebrang dan masuk toko yang saya incar. Setelah keluar dari toko, saya melihatnya masih berdiri di depan toko. Saya tak mampu menyembunyikan rasa kaget. Setelah berhasil menguasai diri sendiri, sayapun berjalan melewatinya.

Ojo ngilang..’ lirih, dalam, dia mengucapkan tepat saat saya berada di depannya. Rasa kuatir juga cemas seolah membungkus kata- kata itu, hingga membuatnya begitu indah didengar.

Dan saya sekarang berpikir.. Kadang rasa sayang dapat diungkapkan bukan dengan belaian, ciuman, ataupun pelukan. Juga bukan dengan jutaan larangan atau kekangan. Secuil kata itu saja, sepenggal perasaan takut kehilangan itu saja, rasa itu seolah bertabir transparan.. Tampak.

Ahh.. cerita apa saya ini. Gag Jelas @.@

22 thoughts on “Tabir Transparan

  1. Pingback: :) bahagia :) « Tuaffi’s Weblog

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s