laki- laki nomor 1 #part : 4

Setelah dua minggu mendekam di Surabaya karena berbagai tanggungan, akhirnya Jumat (14/10) bisa pulang kerumah. Meskipun sejak SMA saya sudah terbiasa hidup di kota orang, jauh dari orangtua, tapi tak pernah bisa bertahan lebih dari 2 minggu. Banyak teman yang heran, kenapa tiap akhir pekan pulang? Tidakkah itu benar benar melelahkan? Jujur, saya memang sangat kelelahan. Tapi Ibu Bapak saya akan marah, jika saya tidak pulang. Saya sangat tidak ingin membuat mereka marah. Jadi, lebih baik saya saja yang melupakan segenap rasa lelah saya.πŸ™‚ Anak yang baik.

Menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol dengan Bapak. Tentang banyak hal, mulai dari bagaimana kos saya, kuliah, organisasi, memilih dosen pembimbing buat skripsi, cita- cita, tugas sebagai AsDos, murid- murid les yang bertambah, sampai ajakan seorang teman agar saya bergavung dengan salahsatu organisasi Islam kenamaan negeri ini.Β  Seperti biasa.. Bapak selalu saja antusias mendengar cerita saya.πŸ™‚

Sebagai orangtua, Bapak adalah orang yang sangat dekat dengan saya. Bapak adalah orang yang paling bisa memancing saya untuk bercerita. Karena sejujurnya saya memang lebih suka menulis, daripada ngomong.. Maka akan dibutuhkan kerja ekstra untuk memancing unek- unek yang saya pikirkan.

Saya ingat, Bapak segera menegakkan badan dan memasang tampang serius saat saya mengatakan ada yang mengajak saya bergabung dengan salahsatu organisasi Islam. Bapak melarang keras agar saya tidak ikut- ikutan. “Bapak gag ngasih ijin sampean ikutan gituan mbak, Bapak gag setuju. Harusnya sampean juga bisa mikir itu kenapa.” Saya hanya mengangguk setuju. Sambil memberikan beberapa alasan kenapa saya tidak ikutan bergabung.

Selain mendengarkan, Bapak juga selalu memberi masukan tentang bagaimana saya seharusnya. Percaya atau tidak, sampai umur segini.. Saya sering tanya Bapak ‘potongan rambut apa yang pas buat saya?’. Hahaha.. Sepele bukan? Tapi bukankah hal- hal kecil macam itu yang memperlihatkan betapa dekatnya kami berdua? Hehe..

Eh.. Eh.. Kok mendadak saya cerita gag jelas.πŸ™‚ Sebenarnya alasan kenapa saya mendadak bercerita tentang Bapak saya adalah karena kebetulan sekarang sedang memutar lagu Ebiet G Ade – Titip Rindu Buat Ayah. Saya jadi sangat merindukan Bapak saya. Laki- laki nomor satu dalam hidup saya.

Dan ini kalimat yang paling saya suka! Dengan pengahayatan yang pas dari Ebiet, membuatnya tampak sempurna.. “Ayah, dalam hening sepi kurindu”

http://www.4shared.com/audio/nXIkGmFh/Ebiet_G_Ade_-_Titip_Rindu_Buat.html

*Selamat mendengarkan*

18 thoughts on “laki- laki nomor 1 #part : 4

  1. iya, ayah (aku nggak manggil bapak) adalah “teman” diskusi yang paling mantab! “teman” curhat, dan “teman” penyemangat yang manjur.

    (“teman” disini tanpa mengurangi kehormatanku terhada beliau)

    imissu dad.

  2. emm..anu..(krik..krik..krik..)
    bngung mu coment gmna,hhe..

    kunjungan pertama nih..
    lam kenal aja deh..πŸ˜€
    btw..mang jauh dri rumah tu gag enak,aku bru aja ngalamin..
    *nangis di rel kereta..

  3. Nice story, so touched….

    ibu, ibu, ibu, ayahhhhhhhhhhhh………..

    kunjungan balik, terimakasih jejaknya di blog sederhana saya yahπŸ™‚
    salam kenal

  4. sama mbak, saya juga selalu pulang setiap 2 minggu sekali.. tapi untuk kali ini, semenjak lebaran hingga sekarang saya sama sekali belum pulang.. hwaaaaaaaaa, kangennya udah sampe ubun-ubun nih.. :((

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s