sang Dokter

Jum’at (28/10), saya sampai lagi di rumah tercinta. Sebelumnya, seperti biasa.. Melewati beberapa  rumah tetangga. Melewati rumah rumah sang Dokter. Masih dipenuhi tamu, tenda didepan rumah juga masih terpasang menyambut tamu yang tak henti datang.

Sang Dokter telah tiada Minggu lalu, karena serangan jantung. Masih terbilang muda, baru sekitar 40 tahunan. Tapi beliau adalah tokoh yang disegani masyarakat setempat. Bukan karena beliau seorang pemimpin atau apa, tapi karena dedikasinya dalam menolong kawula alit dan anak- anak yatim.

Saya teringat ketika jenazah beliau dibawa ke peristirahatan terakhir, jalanan Kertosono yang memang tidak lebarpun dibuat macet hingga beberapa menit. Pelayat berjibun antri mengantarkan sang Dokter untuk terakhir kalinya. Saya yang ikut menyaksikan, tanpa sadar turut menitikkan airmata. Haru. Sungguh kepergian yang tak disangka- sangka.😦

Nama sang Dokter begitu harum di telinga. Semua terkenang kebaikannya. Beliau tidak menarik ongkos untuk pasien yang kurang mampu ataupun anak yatim, tanpa meminta kartu tanda tak mampu atau apalah itu. Beliau menunjukkan perhatian yang sama, memberikan obat yang sama, memberikan senyum tulus, dan doa ‘semoga cepat sembuh’ yang sama kepada yang bayar ataupun tidak. Sungguh benar- benar baik.

Beliau juga salahsatu motor yayasan anak yatim di Kecamatan kecil ini. Beliau mengajak semua rekan Dokternya untuk ikut serta memperhatikan nasib- nasib anak yang kurang beruntung. Dan menurut saya melalui beliaulah yayasan anak yatim itu bisa berkembang pesat, mempunyai donatur yang lebih banyak daripada kota- kota lain.

Saya sebenarnya jarang bertemu beliau, tapi setiap bertemu.. beliau selalu tersenyum ramah dan bertanya ‘Mbak Tutus kok ada dirumah?.. ‘Kuliahnya bagaimana Mbak? Lancar?’.. atau pertanyaan- pertanyaan yang lain. Benar- benar tetangga yang baik bukan. Coba kalo dokter- dokter yang lain, pasti gag sempet kenal tetangga, kenalnya ya sama penyakit doang. Ahh.. Sayang nyawa terlalu cepat dirampas dari raganya. Semoga bahagia disana Pak Dokter..

Jujur saja, saya selalu bermimpi untuk bisa seperti beliau. Nantinya gelar yang saya sandang bukan hanya untuk mengenyangkan perut pribadi, bukan untuk mempertebal dompet sendiri, saya ingin seperti Pak Dokter yang hidupnya untuk kebahagiaan sesamanya. Untuk generasi penerus bangsanya. Untuk negaranya.

Kenapa? Ada dua alasan mendasar.

Yang pertama adalah karena dari semester 1 dulu sampai semester 8 mendatang saya kuliah tanpa mengeluarkan biaya, semuanya sudah ditanggung Negara. Saya juga mendapat uang 2.5 juta setiap semester, memang tidak bisa dibilang cukup, tapi itu sangat membantu!

Yang kedua adalah diluar sana banyak yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi seperti saya, yang bahkan untuk makan besok saja tak berani berharap muluk. Mereka adalah kawan saya, generasi muda yang nantinya menjadi rekan saya dalam membangun negeri ini.

Jadi.. Bagaimana mungkin saya melupakan mereka? Bagaimana mungkin saya melupakan kebaikan Negara ini untuk saya?

Dan pada akhirnya saya selalu ingin semua pemuda negeri ini bisa mengangkat muka tinggi- tinggi dan bangga berkata ‘Kami pemuda Indonesia. Kami berjanji akan membawa negeri ini pada kemerdekaan. Merdeka dari krisis ekonomi, kebodohan, dan degradasi moral’

Keinginan ini tidak terlalu muluk kan? Hehe ..🙂

26 thoughts on “sang Dokter

  1. wah sang Dokter sungguh pribadi yang luarbiasa. mungkin karena itu juga beliau dipanggil Yang Kuasa, karena Allah sayang padanya.

    aku yakin kok kita semua punya kemampuan untuk memberi kontribusi bagi komunitas kita. menumbuhkan pola pikir “berbagi sebanyak mungkin kepada komunitas terdekat” pada setiap orang. ada banyak cara, sesuai bidang yang dikuasai. lanjutgan!😀

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s