Pelangi Penghujung Hari

Hari ini lelah menyergap tubuh saya. Ada banyak sekali tugas organisasi yang saya bawa pulang.

  1. LPJ Optik, yang harus selesai 8 November. Denda 3000 per hari untuk penundaan.
  2. Mengetik 22 soal semifinal Olimpiade Fisika SMA pilihan ganda. Sebenarnya tidak sulit dan tidak banyak. Yang bikin males mengerjakan adalah begitu banyak persamaan matematis yang memperlama proses pengetikan.
  3. Membuat 20 soal semifinal Olimpiade Fisika SMP pilihan ganda dan 3 soal essay. Lagi- lagi kendalanya sama, persamaan matematis merusak mood saya.
  4. Belajar untuk UTS Fisika Statistik yang diadakan Senin depan.

Sementara waktu yang saya punya tidak lebih dari 2 x 24 jam. Ahh… Saya sudah hendak menyerah saja.

Pertengakaran dengan adik saya juga menjadi andil, betapa buruknya hari ini bagi saya. Cerita ini bermula saat adik saya Afam bertanya salahsatu soal Kimia. Dan berikut kira- kira percakapan antara kami.

Adek : Masak soal ini gag bisa?

Saya : Lupa aku Dek..

Adek : Harusnya ya sampeyan kudu ngerti semua. Wong dulu juga pernah SMA!

Saya : Aku SMA dulu ndak bisa Kimia Dek..

Adek : Ya pantesan sampeyan gag ketrima di Kedokteran.

‘Satu’ Hati saya membatin.

Adek : Sekolah gag niat.

‘Dua’ Meneruskan berhitung.

Adek : Kimia gini tok gag bisa.

‘Tiga’

Adek : …..  (Adek saya kehabisan peluru untuk menyakiti saya.)

Saya tidak berkata apa- apa dan segera berlalu pergi.

Sakit sekali hati saya. Adek Afam adalah orang yang selalu saya sayang, selalu saya banggakan didepan teman- teman saya karena memang dia lebih segala- galanya, kini begitu tega menyakiti hati saya. Sebulir airmata jatuh saat hati meminta jawaban atas sebongkah pertanyaan “Kalau saya bukan mahasiswa Fakultas Kedokteran, lantas kenapa?”

Beberapa jam kemudian, nampaknya dia merasa bersalah. Berkali- kali berusaha mengajak saya bicara, saya hanya menjawab sekenanya. Meminta tolong ini itu, saya hanya menurut saja, mengikuti apa yang dia mau, kemudian pergi menghindar. Sama sekali tidak mencari alasan untuk mengelak atau apa.

Sudah cerita tentang adek saya.

Sebenarnya sudah berjanji untuk tidak membuka koneksi ke internet sampai tugas saya semua selesai. Tapi entah kenapa, kepala saya tak bisa berpikir lagi. Akhirnya harus melanggar janji.

Pas buka blog. Ehh.. Ada komen dari Bang Irfan, yang intinya ada sesuatu di bognya Om Nando. Tanpa pikir panjang, saya buka blognya, dan mendapati ada foto saya yang sudah di’acak- acak’ jadi seperti ini.

Saya membaca barisan kalimat dibawah fotonya. Wew.. saya tak habis pikir ada orang yang menggambarkan diri saya segitunya. Jujur, saya tersanjung. Saya bungkam, terkejut, dan entah merasa apa lagi. Yang jelas, saya senang titik

Terimakasiiii banyakk.. Sudah memperbaiki hari saya.. Sudah mengingatkan seperti apa saya sebenarnya. Sudah membuat penghujung hari tampak berpelangi. Terimakasssiiihhh..

😀 Jadi semangat lagi mengerjakan tugas.

25 thoughts on “Pelangi Penghujung Hari

  1. biasa tu berantem ama adek..
    kalo nggak gtu ga seru..
    walopun udah berantem ttp aja ntar pergi mkn bakso bareng.. *pengalamanpribadiyg penting yg tua bisa ngalah yg kecil bisa menghormati..

  2. cuma mengabarkan bahwa saya udah pindah ke rumah baru mas bro…🙂

    Sekalian link saya diganti ya menjadi disave,,link mas bro juga udah saya pasang🙂

    Ditunggu kunjungan dan komentarnya🙂

  3. Pingback: Pelangi Pembuka Tahun « Tuaffi’s Weblog

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s