Surat Kaleng #part : 5

Hari ini saya membaca tulisan Anda yang sejujurnya sangat menyakitkan hati. “Penghianat”, kata itu disandangkan pada nama saya. Sungguh, saya seperti pesakitan meja hijau tanpa pembela.

Kadang memang kita menjumpai banyak persimpangan yang mengharuskan memilih, kita tidak sejalan, lantas apakah saya boleh Anda sebut dengan penghianat? Tentu saja kata itu tidak  berperikemanusiaan bagi saya. Tidak cukupkah saya dikucilkan? Hingga kata itu Anda sandangkan..

Andai Anda tahu bagaimana rasanya… Kata ‘sakit’ saja tak cukup menggambarkannya.

Tapi yasudahlah.. Saya enggan mengingat. Saya merasa lebih baik sekarang. Seperti yang Anda lihat, saya tak berkekurangan apapun.

Teman? Saya sudah punya banyak teman, warga HIMA  dan BEM seperti keluarga bagi saya. Dan mungkin saya tidak akan menyadarinya, jika kita masih bersama.

Eksistensi? Seiring dengan aktif di HIMA dan BEM, saya sudah dikenal banyak orang. Saya pernah menjadi wakil Keilmuan BEM fakultas untuk bertemu dengan wakil keilmuan seluruh Universitas. Saya juga dikenal Keilmuan di seluruh HIMA di fakultas. Dan juga tentunya dikenal banyak adek- adek senior yang saya asisten-i. Saya yakin, saya tidak akan mendapatkan itu semua selagi kita terlalu banyak menghabiskan waktu bersama untuk menceritakan masalah- masalah yang kita punya.

Kesepian? Saya bahkan sudah tidak berteman dengan kesepian. Saya menyibukkan diri dengan hal yang lebih  bermanfaat. Saya punya 24 sks kuliah dan 8 sks asdos yang harus dipenuhi. Saya punya amanah organisasi yang menumpuk. Saya punya 6 murid les. Semuanya selalu menghampiri berurutan, membuat saya tak mengenal apa itu ‘kesepian’. Hebat bukan?

Tempat Curhat? Saya punya prasasti untuk menuliskan semuanya. Itu lebih dari cukup buat saya. Tidak seperti tempat curhat yang lain, yang kadang bisa menusuk Anda dari belakang, yang mungkin saja suatu saat berseberangan, atau mungkin menjelek-jelekkan Anda di depan oranglain.

Bagi saya perpisahan jalan yang kita ambil adalah sebuah kebaikan yang saya syukuri, bukan  berarti saya menjadi tidak baik jika bersama Anda, bukan. Tapi andai kita tengok ke belakang, apa pencapaian yang kita bangun selagi bersama? TIDAK ADA!

Dan introspeksilah, apakah selama kalian bersama tanpa saya, kalian sudah membangun sesuatu untuk masa depan? Saya yakin sudah. Dan tunjukkan itu di depan mata saya, buatlah saya menyesal telah berpisah jalan dengan Anda.

Tutus yang sekarang, bukan yang setahun lalu teman… Tunjukkan pada saya bahwa kalian sekarang juga bukan kalian yang dulu.

Satu lagi, betapapun perihnya hati saat membaca kata ‘penghianat’ yang Anda tulis pada notes FB Anda, saya sudah memaafkan Anda..** Big smile😀

Source gambar : shear-slimout.blogspot.com

30 thoughts on “Surat Kaleng #part : 5

  1. udah lama gak blogwalking ke rumahnya tutus, eh ceritanya banyak yg sedih2, jd ikutan sedih😦
    semangat ya tuuss.. bener, banyak pncapaian yg udah tutus capai dgn mngorbankan itu..

  2. seandainya aku bisa memberi piagam atau piala penghargaan buat tutus, pasti aku sudah melakukannya, sayangnya gak bisa (mahal belinya :P)

    semangat tutus, aku selalu mendukungmu dari segala penjuru mata angin :))

  3. Pingback: PR yang tertunda « Tuaffi’s Weblog

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s