Saya Marah

Hari ini adalah jadwal saya untuk kembali ke Surabaya, seperti biasa, naik motor jam 3 pagi sendirian. Badan yang lelah, karena mata baru bisa terpejam pukul 1 pagi, tak menghalangi niat saya untuk berangkat. Berbekal rambutan dua kantong untuk teman- teman BEM dan HIMA, tas besar berisi jatah pakaian untuk satu minggu dan sepatu yang baru saya cuci kemarin, juga satu tas ransel berisi laptop, akhirnya saya memacu motor.

Tepat saat akan masuk Mojokerto, saya dikagetkan dengan orang yang mencoba mengajak saya ngobrol. Perasaan takut segera menyergap, tanpa sadar sayapun memacu laju motor diatas rata- rata. Berkali- kali menengok spion memastikan apakah orang tadi telah lenyap, dan berkali- kali pula justru semakin takut karena orang itu masih anteng di belakang motor saya.

Saya lagi sial, itu saja yang terlintas di kepala saya. Saya yang mengaku pemberani mendadak ciut nyali, sedang berada di tengah- tengah persawahan, di pagi buta, sendirian, diikuti seorang laki- laki yang tak jelas darimana rimbanya.

Hingga tiba di ujung Mojokerto, jalan yang bergelombang dan motor yang melaju kencang memaksa sekantong rambutan saya terlepas dari motor, jatuh berserakan. Seketika saya marah. Bukan karena saya suka rambutan atau apa, tapi asal tahu saja, Ibu saya menyiapkan rambutan itu di tengah malam sebelum berangkat. Sebenarnya bisa saja Ibu memberikan rambutan yang tak terjual kepada para tetangga, tapi entah karena apa Ibu sengaja memotong batangnya, membersihkan rambutan itu, dan menyiapkannya untuk teman- teman saya. Saya terbayang wajah lelahnya yang menyiapkan rambutan itu, seketika membuat darah saya mendidih dari kaki hingga ubun- ubun. Saya marah.

Mendadak ada kekuatan yang merasuk dalam tubuh. Gentar yang sedari tadi hingggap, melenyap. Saya memperlambat laju motor, membiarkan laki- laki tadi mensejajari motor saya. Entah apa yang dia ucapkan, saya hanya menatapnya marah. Beruntung dia berada di sisi luar, saya terus memepet motornya hingga ke tengah jalan. Saya tidak lagi takut, entah akan ada motor yang menabrak atau apalah, saya hanya melihat matanya dengan ekspresi seolah berkata “Anda bermain- main dengan orang yang salah Bung!!!”

Mungkin orang tadi takut atau terdesak karena ada mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan, diapun memacu motornya jauh meninggalkan saya. Saya merasa menang sekaligus kesal, seharusnya saya menghilangkan kepengecutan saya dan menghadapinya sejak tadi, bukan malah pergi lari. Tapi bagaimanapun juga, meskipun saya pernah belajar karate hingga sabuk coklat (yang artinya tinggal selangkah lagi saya sabuk hitam, tingkatan tertinggi -red), saya perempuan biasa yang jika dibandingkan dengan laki- laki tentu saja kalah jauh, apalagi dengan proporsi tubuh saya yang kecil.

Sama sekali tidak berniat mengikutinya, tapi malah bertemu lagi di Krian. Sengaja saya memilih untuk memegang kendali, saya terus mengikutinya dari belakang. Terlihat sikapnya gusar, hingga terus menerus melihat spion. Dia memperlambat motor, saya tidak mengambil langkah untuk mendahuluinya. Saya terus di belakangnya, meskipun lampu lalu lintas menyala merah dan banyak tempat kosong di sampingnya. Dia terus menatap saya dari spion, saya tak takut, sayapun balas menatapnya hingga dia mengalihkan pandangan.

Motornya kian lambat, saya hanya mengikuti, tak peduli saya sudah kesiangan dan akan terlambat kuliah. Biasanya saya sudah sampai di Surabaya jam 5, namun harus molor untuk berapa lama, dan saya tidak peduli. Saya marah dan itu harga mati.

Sampai di jalan A Yani, kemacetan menyambut, dia sengaja meninggalkan saya jauh dan tak terkejar. Saya hanya tertawa, menang.

“Saya sudah menghafal nomor polisi motormu Bung, awas kalau bertemu lagi!!” **sokberani

33 thoughts on “Saya Marah

  1. Hahhaha…salut untuk keberaniannya😀
    Akhirnya menang juga ya lawan pria itu😀
    Ah, tapi sebel juga karena rambutannya jatuh semua.
    Berapa mbak nomor platnya?
    Sini saya bantu googling, siapa tahu nemu di om Google, wkwkwkw…😆

  2. he he he…
    ini amarah yang membuat saya tertawa…
    jadi kadang ada dua sisi dalam satu kejadian.. atau bahkan lebih…

    wah jadi pingin baca blognya orang yang diikutin tuh…… ada??

  3. Wow. Kalo di Bandung dan Jawa Barat sini, mana ada orang yang berani keluar dini hari begitu naik motor?😦

    Di jawa barat sini, banyak geng motor!😦

    Lha wong di Kota Bandung-nya aja masih ada kasus penyerangan geng motor terhadap orang biasa. Apalagi di daerah-daerah.😦

    Serem ah, Tus, kamu kalo ke Jawa barat sini jangan keluar malem2 ya…😦

  4. Waw, berarti mbk Tutus senior saya… saya juga sempet ikut karate,,,
    cuma sampe sabuk hijau. hehe

    saya pernah itu ngalamin kaya mbk tutus, tapi waktunya magrib2 di jalan sepiii…. seru juga,,, tapi nggak ingin kejadian lagi… hehe

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s