Amburadul

Saya tiba- tiba teringat helm saya.. Sungguh, ikhlas itu ternyata bukan hal yang mudah. Maafkan saya Tuhan..๐Ÿ˜ฆ Kemudian teringat lagi, apa alasan saya dibelikan helm itu adalah untuk keselamatan diri saya saat berkendara. Betapa baiknya Ibu Bapak..๐Ÿ˜€

Ngomong- ngomong tentang berkendara jarak jauh, sendirian, di tengah malam, saya sering berpikir sesuatu. Sesuatu yang kadang menggurat rasa iri dalam hati. Sesuatu yang kadang mempertanyakan kasih sayang keduaorangtua terhadap diri saya. Hmm..

Mari dibayangkan.. Disaat anak perempun yang lain mungkin dipesankan tiket travel orangtuanya, saya justru disuruh mengisi penuh tangki motor. Disaat anak- anak yang lain meringkuk manis di dalam motor beroda 4, saya justru pasang konsentrasi melawan dinginnya udara pagi. Apa bedanya saya dengan anak yang lain? Saya perempuan juga. Saya bahkan berpostur tubuh yang imut (kalau tidak boleh dibilang kecil). Lantas kenapa sedemikian teganya keduaorangtua saya?

Saya tidak mendapat jawaban apa- apa dari Ibu Bapak. Tapi saya mendapatkannya seiring dengan pemahaman terhadap kemandirian. Dengan begini, saya jadi terlatih untuk tidak mengandalkan siapa- siapa untuk mengantar-jemput, tidak mengandalkan sopir angkutan umum, tidak mengandalkan jadwal kereta.. Heehe…๐Ÿ™‚ Itu alasan yang saya buat untuk membesarkan hati.

Teringat (lagi), pernah waktu itu, melihat dagu saya dijahit karena kecelakaan, dan motor yang sudah tidak lagi berwujud, Ibu dan Bapak saya segera ke Dealer, beli motor baru! Bukan bermaksud ‘mentang- mentang banyak uang’, sungguh bukan! Kalau dilihat pekerjaan mereka apa sih? Pedagang buah kaki lima! Tapi sampai segitunya, hanya demi satu alasan : agar saya tidak jadi beban orang lain, mengingat betapa motor itu saya butuhkan untuk ke kampus dan mengajar.

Bukan hanya sekali itu saya kecelakaan, sebelumnya juga pernah. Berkali- kali. Tapi mereka tidak pernah marah berlebihan, semata- mata hanya supaya saya mampu melihat dengan mata saya sendiri, hanya supaya saya peka dengan hati saya sendiri. Ya Tuhan.. lantas bagaimana bisa saya meragukan kasih sayang keduaorangtua saya? Bodoh sekali saya.

Ahh.. Kembali lagi ke berkendara tengah malam.๐Ÿ™‚ Terselip bangga juga loh.. Suatu saat kalau saya diberi umur panjang, terus punya anak dan cucu, saya akan cerita “Dulu Nenek lewat dini jam 3 pagi Cu.. sendirian, naik motor. Ayo.. coba tanya nenek- nenek yang lain, pasti gag ada de yang kayak Nenek. Ya kan?” Hehehe.. Begitulah yang saya bayangkan.

Ahh.. Selesaikan saja semua khayalan itu.๐Ÿ˜€

Tulisan ini GeJe sekali.. Amburadul๐Ÿ˜ฆ

35 thoughts on “Amburadul

  1. Yeaahh aku juga pengguna sepeda motor.deh.. umur 13 kelas 3 SMP aku udah bawa motor sendiri kemana mana.. bedanya.. aku malah sebenarnya gak dibolohin.. tapi ya cuek aja lah.. hehehehe..

  2. wah.,,,,cerita ini mengingatkan saya ketika kecelakaan dulu yang bikin saya mendapatkan gelar mantan amnesia. Hidup adalah perjuangan…dan hidup ini tidak akan berarti jika tidak ada sesuatu yang diperjuangkan….merdeka!๐Ÿ˜€

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s