semoga demikian pula saya

Entah ini kebetulan atau apa.. 2 tetangga kos saya bercerita tentang kekasihnya.

Yang satu sudah berpacaran 7 tahun dan akhirnya ditinggal menikah tanpa kabar, karena ada satu masalah yang tak bisa terselesaikan : perbedaan agama. Padahal si mbak ini sudah berkeinginan untuk ikut agama sang pacar. Saat hendak berucap, sang pacar malah bilang ingin sendiri dulu sampai beberapa lama. 1, 2, 3 bulan ditunggu, undangan pernikahan sang pacar, dengan gadis lain, justru yang datang. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan si mbak, sakit? Pasti!

Mbak yang kedua berpacaran 8 tahun, sudah beli cincin nikah dan menyiapkan segala sesuatunya untuk pesta pernikahan. Satu bulan sebelum acara digelar, keduanya berpisah. Astaga.. Sayapun dalam hati bertanya, ‘kok bisa?’. Si Mbak menyadari wajah heran saya dan berkata “Dulu sudah sering disakiti, tapi memang dia membuat aku bahagia, jadi awalnya aku mikir.. yasudahlah nikah saja, nanti juga bisa bercerai kalau gag cocok. Pas aku ngomong gitu sama semua temanku, mereka semua geleng- geleng kepala dan mengatakan aku itu sebodoh- bodohnya orang. Wong pernikahan kok dibuat mainan.” Si Mbak pun menghela nafas panjang,  “Kalau dulu aku sering mikir, kok ada orang nikah terus gag jadi, sekarang aku jadi ngrasain.. ternyata gini.”. Saya menatap si Mbak dengan wajah berusaha tersenyum sebisanya.

Saya gag cerita sudah berapa lama saya berpacaran, tapi mbak kos menambahkan hikmah yang dipetik dari ceritanya yang panjang lebar “Jangan pakai kacamata kuda, sesekali lihat yang lain. Aku udah pacaran menahun juga gag jadi, dan nyeselnya aku gag sempet kenal orang lain. Sekarang udah 30 tahunan, akhirnya susah cari pacar, mending sendiri aja.”. Ahh.. Hikmahnya kok gitu..😦

Dan pas saya cerita sama pasangan, raut wajahnya langsung berubah.

“Sudah kenal berapa lama sama mbak itu?

“Baru kemarin.”

“Kenal aku berapa lama?”

“Udah lama.”

“Percaya siapa?”

“Ya aku cuma cerita tok.”

“Aku juga tanya tok, percaya siapa?”

“Sampean.”

Masing- masing orang harus melewati jalan yang berbeda- beda, mungkin Mbak itu demikian, tapi saya tidak.🙂 Om sama Tante saya pacaran dari kelas 1 SMP, sekarang sudah menikah dan mempunyai 2 anak. Mereka hidup bahagia.. Semoga demikian pula saya.

“Tuhan.. Semoga demikian pula saya..”🙂

37 thoughts on “semoga demikian pula saya

  1. Galau ?
    Haha,, saya malah tidak mengerti dengan rasa cinta, sayang, atau bahkan suka ( dengan ssorang ) .. Jadi, dulu pernah pacaran, tapi 3-4 hari, putuss ..😀

    Jujur, pas putus aku ga sakit hati sama skalii ..

  2. Sebenarnya saya … tidak mengerti.
    Yang saya mengerti adalah bahwa semua orang punya jalan masing-masing, Tus. Dan kita harus bisa menarik hikmah dari segala kejadian yang ada. Sepertinya Tutus punya jalan yang diyakini dengan baik, jadi jalani apa adanya dan teruslah berdoa… Soal curhatan mereka itu ‘boleh’ dijadikan pertimbangan tapi jangan sampai merusak keyakinan🙂

  3. semua punya cerita, termasuk saya..
    kalo saya ingin hidup bahagia sesuai dengan apa yang dicintai_Nya, karena dengannya saya merasakan kebahagiaan yang berlimpah dan tak ada rasa getir sekalipun
    hehehehe

    hai tutus😛

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s