#1 T U T U S

Lebih dari dua dasawarsa lalu, sepasang suami istri hidup bahagia di sebuah kontrakan yang sebenarnya tak layak dihuni manusia. Letaknya yang bersebelahan dengan sungai, kebun bambu, lantai tanah yang becek, membuat kontrakan ini lebih mirip kandang daripada rumah. Namun cinta telah membuat mereka menjalani keterbatasan dengan senyuman. Hari- hari berlalu, hingga akhirnya hadirlah buah cinta yang sudah mereka idamkan sejak memulai bahtera. Seorang perempuan mungil yang konon kabarnya cantik, lucu, dan menggemaskan, yang kemudian mereka namai Tutus.

Bocah perempuan ini selalu saja menjadi pusat perhatian para tetangga, menjadi cucu tersayang, menjadi lilin harapan yang menyala benderang bagi kedua orangtuanya. Tutus kecil tidak pernah rewel, manja, dan nakal. Ketika ia diminta untuk tidak menangis dan menunggu di atas ranjang sederhana selama sang Ibu memasak, maka seolah mengerti perintah keduaorangtuanya, ia menurut.

Hingga suatu hari saat umurnya belum genap 2 tahun, mendadak ia sakit yang cukup parah. Batuk sampai suaranya habis kemudian menangis sampai tidak bisa bernafas. Segera tengah malam, ia dilarikan di rumah sakit terdekat. Berhari- hari mendapat perawatan, namun tak ada perubahan berarti. Puncaknya saat Dokter memberi resep obat pada suatu malam. Paginya, sang Bapak menebus obat itu dengan biaya yang tidak sedikit, namun belum sempat obat itu diminumkan pada Tutus, Pak Dokter memanggil Bapaknya dan mengganti dengan resep yang baru dengan alasan obat itu tidak cocok. Hendak menukar obat ternyata tidak bisa, karena merasa dipermainkan Bapaknya segera memaksa untuk memulangkan Tutus dengan segala resikonya,

Saat berhasil membawa Tutus untuk meninggalkan rumah sakit, Bapak segera membawanya ke salahsatu spesialis anak ternama di Kediri. Disana, barulah terdeteksi bahwa pada paru- paru Tutus terdapat flek yang mungkin dikarenakan lingkungan, susu, dan makanan. Untuk itu, Tutus harus diperiksa berkala setiap dua minggu, hingga bercak di paru- paru tersebut hilang agar tidak sampai kambuh kembali.

Penghasilan Bapaknya hanya 60 ribu dalam dua minggu, sementara untuk uang periksa sekaligus susu formula Tutus setiap dua minggu mencapai 200 ribu atau bila dihitung dengan uang saat ini, maka nilai itu setara dengan 2 juta. Tak kehilangan akal, Bapak mengupayakan segala hal, termasuk menggandakan jam kerja dan menghemat uang makan hingga sehari- harinya hanya nasi putih berlauk garam. Asal buah hatinya segera sembuh, itu saja.

Pernah ketika belum genap dua minggu, badan Tutus menggigil kedinginan, suhu badannya sangat tinggi hingga mendekati step, gigi- giginya sudah bertautan, parasnya pucat hingga membiru. Sang Bapak yang sudah tidak lagi mempunyai apa- apa, hanya mengambil air putih sembari berdoa “Duh Gusti, kulo pun mboten nggadah nopo- nopo, Panjenengan semerep niku. Panjenengan ngersaake niki sedoyo, kulo terami. Kulo mung nyuwun, ndamel toyo niki, Tutus putra kulo saget waras..” (Ya Tuhan, saya tidak punya apa- apa, Engkaupun tahu. Engka menghendaki seperti ini, saya terima. Saya hanya meminta, dengan air putih ini, Tutus anak saya bisa sembuh- red) kemudian membaca surat Al-Fatihah dan Al- Ikhlas masing- masing 3 kali.

 Bersambung…

43 thoughts on “#1 T U T U S

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s