#2 T U T U S

Segera setelah Tutus meminum air putih itu, panasnya berangsur- angsur turun, ia sembuh. Sungguh keajaiban. Bapaknya segera bersyukur, Tutus selamat.

Roda waktu terus berputar, Tutus masih harus menjalani pemeriksaan setiap dua mingu. Keduaorangtuanya berjuang mati- matian untuk menyelamatkan nyawanya. Tak peduli entah berapa hutang yang menumpuk, berapa kilo berat badan yang akhirnya menghilang karena kerja siang dan malam, dan berapa liter keringat dan airmata yang tercurah. Hingga pada akhir bulan ke 9 Tutus dinyatakan sembuh total. Flek paru- paru atau bahasa lebih kerennya adalah TBC sudah pergi jauh dari hidup Tutus.

Seiring dengan pertambahan usia, Tutus tumbuh menjadi perempuan kecil yang selalu saja diikuti kemanapun ia pergi. Masa kecilnya lebih banyak ia habiskan di rumah untuk bermain bersama Ibunya, jangankan pergi keluar, menginjak tanahpun dilarang. Bukan karena apa- apa, tapi memang bocah kecil ini gampang sekali alergi, gampang sekali sakit.

Setiap malam, putri pertama keluarga ini selalu saja di gendong sambil dinyanyikan kidung jawa oleh sang Bapak. Nyanyian yang berisi harapan tentang kehidupan anaknya kelak ketika tumbuh dewasa. Nyanyian sayup yang memecah dinginnya malam.

“tak lelo lelo lelo ledung…
cup menenga aja pijer nangis (cup, jangan menangis)
anakku sing ayu rupane (anakku, yang cantik parasnya)
nek nangis ndak ilang ayune (kalau menangis nanti hilang cantiknya)

tak gadang bisa urip mulyo (saya harapkan untuk hidup mulia)
dadiyo wanita utomo (menjadi wanita utama)
ngluhurke asmane wong tua (mengangkat nama orangtua)
dadiyo pendekaring bangsa (menjadi pahlawan bagi negara)”

Tutus selalu senang mendengar nyanyian itu, mengantarnya menyambut mimpi indah dalam lelapnya.

Bertahun berselang, keluarga kecil ini sudah hidup lebih mapan. Sudah mempunyai rumah sendiri meski terbilang sederhana, rumah ini sangat layak dihuni manusia. Dengan dua kamar, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu, dan kesemuanya yang menunjang aktifitas penghuninya. Rumah inilah yang dianggap keluarga itu sebagai rejeki yang dibawa buah hati yang akan hadir berikutnya, Afam.

Tutus mulai dijauhkan dari Ibunya, sehari- hari ia begitu dekat dengan sang Bapak. Hal ini memang sengaja direncakan oleh pasangan suami istri ini, agar kelak ketika adiknya lahir, Tutus tidak merasa iri dan membenci adiknya.

Teknik itu sangat berhasil. Tutus tidak pernah sekalipun merasa bahwa Afam telah merebut segalanya darinya. Ia justru senang sekali, mempunyai adik. Setiap hari bermain- main dengan adiknya, seolah mendapat teman baru yang begitu menyenangkan.

Suatu pagi, saat sang Ibu membersihkan kamar. Melihat ada bercak darah pada bantal yang dipakai Tutus untuk tidur. Kemudian teringat bahwa belakangan ini, Tutus sering memegang telinga kirinya sambil meringis kesakitan. Mulanya Ibunya berpikir, mungkin hanya kemasukan semut, seperti biasa. Tapi, saat melihat darah pada bantal itu, ia menjadi khawatir.

Sang Ibu kemudian memangku Tutus kecil dan melihat telinganya. Ternyata benar, dari sanalah darah itu berasal. Tak hanya darah ternyata, tapi juga bernanah. Hal ini luput dari pengawasan Ibu. Karena memang selama ini Bapaklah yang merawatnya, mulai dari memandikan sampai mengantar tidur, semuanya tugas Bapak.

Tanpa aba- aba, segera Ibu membawanya ke spesialis THT terdekat. Setelah mendapat pemeriksaan ini itu, Bu Dokter berkata “Gendang telinganya pecah, teliga sebelah kirinya tidak bisa mendengar. Bisa jadi, anak ini tuli.”

“Tuli??” Suara Ibunya lirih.

Bersambung…

36 thoughts on “#2 T U T U S

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s