PKL : Beruntung

Saya sudah meninggalkan kos pukul setengah 6, menuju rumah Pamela. Ternyata gang ke rumah Pamela kelewatan, tidak ada tempat untuk putar balik (yang saya ketahui), akhirnya terpaksa memutar sedikit lebih jauh. Akhirnya sampai juga di rumahnya sebelum pukul 6. In time lah..๐Ÿ™‚

Sampai di Pertamina, diusir. Apa pasal? Saya pakai sandal. Haha.. Saya kira tak mengapa, toh nantinya juga disuruh ganti sepatu safety. Ini karena baru kemarin Sabtu saya mencuci sepatu, jadi belum kering. Masih jam setengah 7 pagi, tidak tahu jalan, tidak tahu dimana letak pasar. Tapi saya selalu yakin, saya mempunyai tingkat keberuntungan yang cukup tinggi.

Saya mengendarai motor, entah kemana. Kemudian Pamela bilang ingin pinjam HP untuk menghubungi kekasihnya dan memintanya mengantar sepatu adiknya. Segera saya meminggirkan motor dan parkir. Sesaat kemudian, saya baru sadar tempat saya menghentikan motor adalah sebuah mini market. Segera kami masuk, mengira ada sepatu disana. Ternyata tidak. Bertanya pada salahsatu Ibu penjaga toko apakah mengetahui tempat penjual sepatu, tapi tidak tahu. Kemudian, Ibu yang lain bertanya ‘Cari apa Mbak?’. Saya sudah enggan menjawab, tapi Ibu yang saya tanyain menyahut ‘Sepatu’. Segera Ibu ini, menjelaskan ada penjual sepatu di seputaran Jembatan Merah tapi jam segitu belum buka. Sayapun meninggalkan mini market itu dengan kecewa.

Tepat saat hendak mengendarai motor untuk ke jembatan merah. Ibu yang menunjukkan tempat sepatu tadi menyusul kami, memberitahukan bahwa dibelakang mini market itu ada pasar krempyeng yang mungkin saja menjual sepatu. Langsung saya menuju ke tempat itu, ada sepatu disana!๐Ÿ™‚ cuma 12 ribu. Saya memang mempunyai tingkat keberuntungan cukup tinggi.

Kembali lagi ke Pertamina. Masih jam tujuh kurang lima menit. Menunggu lama sekali, sampai akhirnya mbak resepsionis datang. Ada beberapa rekan PKL lain berjumlah 7 orang, 3 dari Politeknik Negeri Malang, sisanya dari UPN. Tidak sempat berkenalan, saya memang bukan orang yang bisa membuka diri kadang. Setengah 8, mbak resepsionis datang dengan membawa kabar : kami, peserta PKL, harus libur hari ini karena APD (sepatu safety, rompi, helm) dipakai untuk tamu. Lemas seketika.

Mbak resepsionis meminta saya dan Pamela untuk tinggal dulu, karena kami harus menuju LK3 untuk diberi pengarahan tentang bagaimana seharusnya ketika berada di Pertamina. Kamipun menunggu lagi, karena Bapaknya sedang rapat.

1,5 jam kemudian, seorang Bapak yang lain memanggil kami ber 7. Meminta agar kami mempunyai sepatu safety sendiri, mengingat sepatu itu berjumlah terbatas dan hanya untuk tamu. Sementara kami, dua sampai 4 minggu disana, jadi harus siap sepatu sendiri. Seketika suasana menjadi riuh, bagaimana tidak? sepatu itu kalaupun harus beli, harganya mahal, dan cuma dipakai selama PKL saja. Ahh.. Sedih, tapi ya tetap harus diterima. Beberapa saat sesudahnya, kami ke LK3, dengan ke-7 rekan lainnya, karena merekapun belum ke LK3.

Setelah diberi pengarahan, kami diijinkan meminjam alat- alat APD untuk terakhir kali. Dan segeralah PKL hari ini dimulai. Bongkar- bongkar arsip terkait cara penggunaan alat, karena kebetulan analis yang biasanya mengoperasikan sedang tidak masuk. Pak Wawan, satu- satunya analis yang dating, sedang banyak tugas. Olehkarenanya, tidak bisa diganggu.

Beberapa jam hanya menunggu lagi, tanpa handphone (memang tidak diijinkan membawa HP), tanpa laptop, sedangkan rekan PKL yang lain sedang bertugas. Bosan setengah mati. Kamipu memutuskan untuk berkeliaran saja di lab, siapa tahu ada yang menyuruh kami melakukan sesuatu, entah apa. Dan terjawab, Pak Wawan meminta kami untuk membantunya. Wew.. Menyenangkan sekali. Mengetes ada tidaknya sulfur pada solar, mengukur viskositas (kekentalan), distilasi (mengetahui campuran), flash point (suatu suhu, dimana solar akan terbakar, kalau sudah terbakar namanya fire point).

Pukul 12 siang, ke 7 rekan meminta ijin pulang untuk mencari sepatu. Kami berdua, bertanya apakah perlu juga membeli sepatu. Tapi, mbak nya bilang : kalian kan cuma berdua, semoga saja bisa lolos lah. Sayapun hanya meyakinkan diri sendiri, saya punya tingkat keberuntungan cukup tinggi. Jadi tenang saja..๐Ÿ™‚

Sebenarnya, saya sangat menikmati membantu Pak Wawan, hanya saja perut saya belum terisi apapun sejak pagi dan jam sudah menunjuk pukul 1 siang. Badan gemetaran, keringat dingin keluar, mual sekali, kepala bagian belakang pusing berat, hipotensi saya kambuh. Pamela memandangi saya kasihan, mungkin terlihat wajah saya yang pucat. Kemudian kami meminta ijin pulang.

Sebelum pulang, beli siomay di pinggir jalan. Saya hanya makan telurnya saja, sisanya sudah tidak kuat, bau ikan dari siomay ditolak oleh perut. Mengendarai motor dengan kesadaran separo, kepala saya sudah pusing tak karuan. Setelah mengantar Mela pulang, segera saya merebahkan badan dan terpejam. Masalah besok pakai sepatu apa, diatur besok lah..๐Ÿ™‚

12 thoughts on “PKL : Beruntung

  1. *hehehehe rahasia si untung di kisah donal bebek adalah ……..

    SELALU BERFIKIR POSITIF KALAU DIA MEMANG BERUNTUNG

    akhirnya ia betul betul beruntung d(^.^”) kisah yang seru dan menarik mbak tutuss

    tetap semangat

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s