blogger tak mengenal musim

‘Bukan blogger semusim’ sudah cukupkah gelar itu saya sandang? Hmm…

Saya selalu merasa mempunyai konsistensi yang tinggi, jika mengingat sudah berapa tahun menghabiskan waktu mengisi blog ini dengan tulisan yang entah apa isinya. Dari jaman SMA tentang sahabat- sahabatan, cari- cari kuliahan, susahnya opspek, kerja keras anak perantauan, dan sekarang menghadapi betapa menyenangkannya skripsi.πŸ™‚ Tentunya saya masih berharap akan selamanya bisa menulis disini..

Teringat, 3 tahun pertama dalam dunia nge-blog, saya hanya menulis. Sering menyesali, saya bukan blogger semusim namun kenapa blog saya sepi pengunjung sementara saya sudah membuat tulisan yang (menurut saya) bagus. Merasa diri seperti membuka restoran bertahun- tahun dengan masakan terenak tapi tidak ada yang membeli. Dan baru tahu sekarang, makanan enak bukan aspek terpenting dalam membuka restoran, promosi adalah jawabannya! Yaa.. Waktu itu saya tidak mengenal interaksi antar blogger, tidak tahu apa pentingnya saling memberi komentar, bahkan tidak mengerti istilah ‘bewe’.

Hingga pertengahan 2011, seseorang yang dikirim Tuhan bernama Bang Asop memberikan komentar pada beberapa tulisan saya sekaligus. Waktu itu sungguh senang bukan kepalang.πŸ˜€ Dan saya pikir ‘Bagaimana jika saya juga menyenangkan hati orang lain dengan memberi komentar pada blognya?’. Segera saja, saya menelusuri satu demi satu blog, memberi komentar- komentar atas tulisannya. Ajaibnya, setelah itu jumlah pengunjung ‘restoran’ saya bertambah. Takjub.

Pernah mengikuti beberapa kontes. Dan menyadari betapa menyenangkannya mendapatkan hadiah dari melakukan apa yang saya suka. Yaa.. waktu itu saya pernah, dengan beruntungnya, memenangkan undian dari kontesnya Amela. Hadiahnya adalah sebuah buku milik penulis kenamaan, Dewi Lestari, yang kemudian menjadi buku yang paling saya banggakan dari sederetan buku- buku saya. Satu lagi hadiah yang tak kalah berharganya adalah dengan diumumkannya nama blog saya di blog milik Amela, blog saya menjadi lebih banyak pengunjung.πŸ™‚

Tanpa sadar, sejak pengunjung blog bertambah, jadi makin sering menulis, jadi semakin tertantang untuk bercerita dan berbagi isi hati. Dan sekarang, saat saya menengok kembali kebelakang. Saya bisa menjawab pertanyaan pada baris pertama tulisan ini. ‘Bukan blogger semusim’ sudah cukupkah gelar itu saya sandang?‘. Saya rasa sudah, tapi itu belum cukup!πŸ™‚ Saya blogger tak mengenal musim..

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp

73 thoughts on “blogger tak mengenal musim

  1. Mirip banget sama kisah saya Tus…

    dulu ngeblog cuma buat curhat curhatan, blogger tertutup samasekali gag pernah komen komenanπŸ˜›

    intinya, baru 2 tahun terkhir benar2 ngerti arti ngeblogπŸ™‚

  2. Sontak, ketika mendengar blogger musiman ingatanku tertuju pada semangka, dukuh, rambutan, atau duren. Musiman? Hmmmm.
    Ngeblog adalah menulis. Menulis semua hal yang dirasa, dilihat, didengar, dan di di lainnya.
    Artikel bagus, fi.πŸ™‚
    Keep bloggingπŸ™‚

  3. kayanya blog mba ini pas banget buat saya…baru aja saya belajar ngeblog jadi masih sepi banget pengunjung ras sedih ada juga, saya harap mba mw berkunjung ke blog saya kasih2 komen, salam kenal mba

  4. Kalau saya ngeblog sudah menjadi hobi karena nulis. Kalau menulis di suratkabar belum tentu dimuta karena tidak sesuai dengan kebijakan redaksi dan membutuhkan waktu lama tulisan bisa dimuat.
    Dengan adanya blog, jejaring sosial di internet, kesempatan berbagi dengan menulis di blog, rasanya hambatan itu sudah tidak ada.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s