senang memasak :)

Keinginan untuk memasak mendadak hadir kembali. Berawal dari Pamela dan Siska yang hampir setiap hari pamer tentang bumbu yang mereka gunakan untuk memasak setiap harinya. Puncaknya saat Septia membawa semur buatannya ke kampus untuk makan siang, sungguh… Saya ngiri! Tentu saja, sejak itu, saya makan jadi gag enak tidurpun tak nyenyak (tidak seberlebihan itu sebenarnya).

Sabtu Minggu, saat berada di rumah saya ijin Ibu dan Bapak untuk memasak sendiri di kos sekaligus minta dibekali bahan- bahan yang untuk dibuat memasak. Diluar dugaan, Ibu dan Bapak langsung tertawa, bukan karena apa- apa.. Tapi mereka tahu dengan teramat bahwa saya goreng telurpun mempunyai jarak aman sebesar 1,5 meter agar tidak terercik minyaknya yang panas, belum lagi hasil gorengan tempe yang selalu berwarna kehitaman. Pun saya tidak mengetahui jenis bumbu- bumbu, belum tahu apa bedanya kunyit, jahe, dan sejenisnya, juga merica, tumbar, kemiri, dan lain sebagainya. Parah.

Perlu diketahui bahwa entah mengapa Ibu saya tidak mengajarkan ajaran ke-perempuan-an untuk saya, oleh karenanya tidak heran bila sampai sekarangpun saya masih jarang nyuci baju dan setrika sendiri. (Tolong jangan ditertawakan).

Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya Ibu Bapak menyetujui saya memasak sendiri, dengan membekali beberapa bumbu masak dan doa tentunya.

Senin, karena saya kecapekan, niatan untuk memasakpun lenyap. Selasanya, berhubung tidak ada kuliah pagi, saya membangunkan Mbak kos untuk menemani saya belanja dan mengajari saya membuat Nasi Goreng.🙂

Dapur yang biasanya sunyi senyap, menjadi heboh. Maklum saja, ayam yang saya goreng sering memercikkan minyak panasnya, saya yang kaget spontan jadi teriak- teriak gag jelas. Belum lagi, ceramah dari Mbak Kos yang bilang saya kaku lah waktu ngiris, waktu megang wajan, dan lainnya.. Rewel sekali. Ditambah sorakan tidak setuju ketika saya mulai narsis ala Farah Quin. Haha. Benar- benar heboohh..

Selasa, sisa ayam yang senin sudah saya rebus saya goreng. Kali ini tanpa bantuan siapa- siapa, dan apa jadinya? Seluruh kos yang heboh, asap mengepul dimana- mana. Masalahnya adalah ternyata api kompornya kebesaran. Malu jadinya, ketahuan gag bisa masak. Hehe..

Terlepas dari semua itu, yang terpenting adalah saya jadi suka sekali memasak. Entah mengapa, meski capek terasa, tapi hati senang. Pamela dan Siska juga turut mendukung dengan selalu bertanya setiap pagi ‘Hari ini masak apa?’ atau ketika sore ‘Besok mau masak apa?’.. Wahh saya jadi makin senang.🙂

Malam saat saya menulis ini, baru saja selesai belanja daging giling, tomat, bawang Bombay, saos tomat, merica, dan spageti. Sudah ketebak dunk, saya mau bikin spageti. Hehe.. Besok saya ceritakan lagi bagaimana hasilnya.

Tungguuuu yaaa..

15 thoughts on “senang memasak :)

  1. Jangan suruh gue nyoba! gue nggak mau mati gara2 ngincipin makanan lu! hahaha ntar kalo udah kayak farah quuin aj aku nyoba ya?!.
    Kayaknya kamu ad bakat masak. hemmm wajah udah mirip farah quiin tapi… masakanya kayak masakan Mr.Bean,hahahhaa

  2. saya baru belajar masak stelah nikah😀 Aslinya… dulu keburu gengsi udah dibilang males sama bapak-ibu jadi ya males aja terus😆 skarang abis nikah kadang2 masak.. tapi suaminya malah lebih hobi.. jadi aja jarang heuheuhuehe

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s