#2 The Journey

Mulanya saya menduga bahwa lokasi KKN adalah desa terpencil, dimana rumahnya masih menggunakan papan, atau penerangannya masih dengan obor, dan hal- hal lain yang sarat akan keadaan kampung yang jauh dari peradaban. Saya mengira bahwa dugaan saya sangat tepat, mengingat jalan yang ditempuh untuk menuju tempat itu cukup ber-relief, belum lagi kanan kiri jalan hanya terbentang hutan dan persawahan. Tapi ternyata salah besar.🙂

Saat memasuki kabupaten Sampang, berjajar rumah- rumah, kantor kecamatan, balai desa, puskesmas, SMP, dan bangunan lain yang sangat layak. Kesemuanya terbungkus suasana alam yang rindang, mengingatkan saya Kertosono beberapa tahun silam, saat di pinggir jalan masih banyak pepohonan. Hehe. Tiba di kantor kecamatan Jrengik, meskipun tidak ada Bapak Camat, kami disambut cukup hangat oleh seorang Bapak yang ada disana. Kemudian, rombongan yang terdiri dari 4 wakil masing- masing desa di kecamatan Jrengik pun berpisah untuk menuju desa masing- masing.

Jarak dari kecamatan ke desa Panyepen tidak jauh, sekitar 10 menit dengan mengendarai motor. Balai desa merupakan bangunan pertama yang menyambut kedatangan kami di Panyepen, setelah 500 meter hanya menjumpai hijaunya hamparan padi. Balai desa yang lengang, membuat kami memutuskan untuk segera ke rumah Kepala Desa yang ternyata tak jauh dari situ. Seperti yang sudah diberitahukan oleh seseorang di kantor kecamatan, hari itu Bapak Kepala Desa sedang ke Malang, begitu juga dengan Ibu, namun tak mengapa, karena kami bertemu dengan Mbak Mutmainah (keponakan Pak Kades).

Sudah berbasa- basi dengan mbak ini, kami berniat untuk menemui Pak Sekretaris Desa (Carik). Diluar duugaan, Pak Carik sedang menunggui istrinya yang sedang sakit di Sampang. Sungguh malang benar nasib kami..😦 jauh- jauh datang dari Surabaya tidak bisa menemui siapa- siapa. Tapi ya sudahlah.. lupakan semua kendala, mari saya kenalkan sedikit tentang Panyepen.

Panyepen terdiri dari 5 dusun yaitu Babatoh, Takban, Bratan, Talian, dan Penyiburan (maaf, jika terdapat kesalahan pada penulisan). Berada di lereng gunung dan di pinggir kali besar, membuat desa ini mempunyai suasana yang sejuk dan air yang cukup melimpah, meski kemarau datang. Sungai ini seringkali dibuat warga setempat unutk memancing, sayangnya kami belum sempat melihat langsung sungai ini.Gunung yang cukup tinggi itu juga banyak digunakan oleh para pendaki gunung untuk melatih kemampuan, untuk itu kawasan ini sangat berpotensi untuk dijadikan tempat wisata.

Sebagaian besar penduduk Panyepen adalah seorang petani sekaligus peternak. Tanah yang cukup subur memungkinkan para petani untuk menggarap sawah setiap tahun dengan variasi tanaman yaitu : padi, jagung, dan kacang. Kelembaban yang rendah membuat sayuran dan buah- buahan tidak dapat bertahan hidup disana, oleh karenanya tidak ada petani sayur dan buah di Panyepen meskipun terletak di lereng gunung.

Pengusaha industri rumahan juga ditemui di desa ini, meskipun tidak banyak. Salah satunya adalah membuat kerajinan tangan dengan bahan flannel. Dengan jumlah order yang terbilang banyak, seharusnya usaha ini bisa lebih maju. Namun, sumberdaya manusia tidak mendukung, tidak ada pengangguran disana. Itu petunjuk untuk kelompok KKN kami supaya tidak membuat program yang bertujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Hehe.. useless pasti.

Selebihnya, terkait lingkungan. Sangat disayangkan bahwa sejauh mata memandang, tidak akan menemui yang namanya tempat sampah. Sampah berada pada gundukan bekas pembakaran. Usut punya usut, ternyata semua sampah disini dibakar dan kemudian dijadikan untuk pupuk bagi sawah masing- masing. TPS (Tempat Pembuangan Sampah) juga tidak ada di desa ini. Masalah lingkungan yang lain hampir tidak ada, adanya program perhutani untuk penanaman 10000 pohon ditanggapi dengan baik oleh masyarakat sekitar.

Air minum masyarakat penyepen sebagian besar adalah air mentah, oleh karenanya diare menduduki peringkat pertama penyakit di Panyepen. Untuk anak- anak, meskipun tidak banyak, ada juga yang BGM (Bawah Garis Merah) yang mendekati gizi buruk. Dan terakhir, meskipun tidak banyak, ada juga penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan) yang mungkin disebabkan karena banyaknya aktifitas pembakaran sampah.

Dengan berbekal informasi dari survey pertama, akan disusun serangkaian program kerja selama sebulan oleh kelompok KKN kami.. Wew.. saya yakin akan menyenangkan, mengingat masyarakat di desa ini sangaaaattt ramah. Kedatangan kami kesana disambut sangat baik oleh warga sekitar, disediakan jajanan banyak dan enaaakk. Hingga pukul 2 siang kami berpamitan pulang dan selesailah perjalanan survey perdana (2 Juli 2012) ke Panyepen.

The Journey adalah tulisan berseri untuk membekukan memori KKN.

12 thoughts on “#2 The Journey

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s