#7 The Journey

Mungkin hari ini saya sedang tidak dalam keadaan mood yang prima, sampai saya merasa bisa menulis ini untuk suatu saat saya baca kembali.

Kadang saya merasa di sini saya tidak diperdulikan. Proker yang saya buat cenderung di-anak-tiri-kan. Bahkan sejak pemilihan divisipun, saya merasa divisi sayalah yang paling tidak menjanjikan. Teringat saat pembagian divisi, saya hanya mendapat satu anggota, itupun karena dia dibuang dari divisi yang ia inginkan. Dua anggota lainnya adalah orang yang tidak hadir pada malam penentuan divisi, sialnya salah satunya mengundurkan diri sebagai peserta KKN. Jadilah divisi saya hanya berisi 3 perempuan. Sementara yang lain, lengkap 4 orang dengan beberapa lelaki. Tapi, semuanya menjadi tak berarti apa- apa, saat mereka selalu bilang bahwa ini proker bersama.. Pastilah akan saling membantu. Oke.. saya percaya.

Program kerja saya hanya satu, yaitu membuat bank sampah untuk wilayah KKN. Tentu saja untuk mendirikan bank sampah ini bukan perkara mudah. Sempat ciut nyali, karena salah satu anggota KKN mengatakan ‘Sepertinya bank sampah tidak akan berjalan, mending ganti tematik yang lain saja.’ di malam pertama kami tiba di wilayah penerjunan. Tapi.. Kalau saya mengingat perjuangan mencari info bank sampah di Surabaya, bertemu dengan pengelola bank sampah, sampai akhirnya menemukan bank sampah pula di Sampang, rasanya kalimat itu tak ada apa- apanya. Rasanya.. tidak seharusnya saya menyerah demikian mudah.

Memang benar, saya tidak menyerah. Dan masalah yang datang berikutnya jauh lebih berat, yaitu masalah operasional bank sampah yang mengandalkan mitra agar tetap berjalan. Mitra yang diharapkan ternyata tidak bersedia mengambil sampah dari tempat lain kecuali jumlah sampah mencapai 5 kwintal. Tidak berputus asa, saya memilih untuk mencari mitra yang lain, namun hasilnya sama, minimal 5 kwintal. Terus menyemangati agar jangan sampai menyerah, akhirnya terpikir satu- satunya jalan : memotivasi warga untuk mengumpulkan sampah sampai batas minimal yang ditentukan.

Berhasil. Program mendapat dukungan penuh dari warga sekitar dan di penimbangan kedua, menjelang berakhirnya KKN ini, sampah yang terkumpul 795 Kilogram (7,95 kwintal). Jumlah yang sangat fantastis, sekaligus kebanggaan tersendiri bahwa disini kami mendapat kepercayaan warga. Yang jadi kendala berikutnya adalah memilah sekaligus membersihkan gunungan sampah untuk kemudian disetorkan pada mitra agar bisa dijadikan uang dan dikembalikan kepada warga.

Hal itulah yang membuat saya sedikit emosi hari ini, beberapa teman malah membantu kerjaan ringan yang seharusnya bisa dikerjakan hanya mungkin dua pasang tangan saja. Itupun dikerjakan sambil ngobrol ini itu, bukannya pengen cepet selesai malah pengen cepet pulang dan jalan- jalan. Iya! Disaat saya kepanasan memilih botol yang bagus dan tidak hingga berpuluh glangsing, mereka membicarakan pelarian diri dari sampah ini. Boleh saya marah? Tidak tentunya. Lantas saya harus bagaimana?

Mereka bilang ini proker utama, mereka bilang ini proker unggulan kita, mereka bilang proker ini yang mendapat sambutan cukup hangat dan tepukan meriah, tapi mengapa tidak sebanding dengan semangat yang diberikan untuk melanjutkan ini sampai selesai. Oke.. saya tidak buta, ketika dengan cekatannya mereka merancang strategi agar BPS ini dikenal warga, juga pada saat mengatur warga saat mengantri di BPS. Tapi, ini belum selesai..

Yaa.. Kawan.. ini belum usai.

 The Journey adalah tulisan berseri untuk membekukan memori KKN.

9 thoughts on “#7 The Journey

  1. Jangan putus asa, Tuaffi. Jangan juga sampai terbawa emosi dengan sikap mereka yang gak sepenuhnya bekerja sama dengan kamu.🙂

    Suatu saat nanti pengalaman yang didapatkan hari ini pasti akan jadi pembelajaran yang baik untuk ke depannya. So, seperti kata Mas Yoga, semangat!😉

  2. Anda sistemnya diperbaiki mungkin Mbak nggak perlu capek-capek boros tenaga.
    semisal di Jepang, tiap KK harus memilah sampahnya dalam Kresek yang berbeda. Ada yang khusus organik, kertas, plastik. Jadi kan bisa ringan milahnya.
    Lalu plastknya pertama-tama bisa dibeli lalu diberikan gratis ke warga. Nanti kalo sampahnya udah kejual bisa dibeliin plastik lagi, sebagian hasil penjualan juga bisa dipaka untuk kegiatan kemasyarakatan. gimana?
    GJ ya? hehee lol 😆

  3. Pingback: Award Pertama « septiadiah's weblog

  4. Pingback: Rapelan PR | Navigasi Kehidupan

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s