Merdeka

Aku masih terdiam disini, ditanggal ini, seperti tahun- tahun sebelumnya, mengingatnya.

Ia sadar benar bahwa pemakaman bertudung merah putih, nisan bergelar pahlawan, atau sekedar ingatan bahwa ia pernah diujung moncong senjata sembari berteriak merdeka, terlalu muluk untuk dijadikan cita- cita. Ia lebih memilih yang sederhana saja, yang menurutku sedikit gila : mati di hari pahlawan.

Terakhir kali bertemu saat ia untuk kesekian kalinya menantang ajal dengan perjalanan kaki 55 km Mojokerto – Surabaya. Umur tiga per empat abad, dengan nafas yang tersisa dan kesehatan yang kalah oleh usia tak menyurutkan semangatnya. Bukan untuk dihargai siapa- siapa, bukan untuk dikenang siapa- siapa, hanya ingin menggenapkan gelar yang tak sempat tersematkan.

Benar, nasib berpihak padanya. Ia melepas hidupnya saat itu. Bukan nama Tuhan yang ia sebut di bibirnya yang hampir kaku, bukan nama istri, anak, apalagi cucu. Tapi kata yang sama saat ia berpeluh dan berdarah- darah : Merdeka! Merdeka..

‘Bunda.. Batu yang ini angka- angkanya cantik ya.’ Suara bocah kecil membuyarkan lamunanku.

‘Yang mana sayang?’

‘Ini.. Lahir sama meninggalnya sama- sama 10-11. Hari ini? Hari pahlawan kan Bunda?’ Sambil menunjuk batu nisan di hadapanku.

‘Iya ya.. Mungkin Kakek ini pahlawan sayang.’ Jawab perempuan disampingnya sekenanya.

Aku menunduk dihadapan bocah kecil ini, berbisik pelan ‘Kakek ini memang pahlawan dek..’.

Aku tersenyum, mulai mengerti apa maksud keinginannya yang tak masuk akal.

Saat melihat pejalan kaki Mojokerto - Surabaya di hari pahlawan.

23 thoughts on “Merdeka

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s