pra-sidang proposal

Saya mau cerita jungkir balik sebelum sidang, tepatnya setelah diumumkan jadwal sidang sekaligus dosen penguji sidang proposal rabu lalu. Sidang yang dilaksanakan hari Jumat dengan dosen penguji yang katanya killer dan sering membuat mahasiswa nangis saat ujian membuat saya stres setengah mati. Beberapa orang terdekat ada yang men-support tapi tak sedikit juga yang bilang bahwa saya bisa jadi korban tangis berikutnya, mengingat ini skripsi lanjutan yang bapak penguji itu tidak suka terhadap materinya.

Ibu pembimbing yang sangat baik hati menyarankan saya untuk fokus pada penguasaan materi saja. Terlepas dari semua masalah yang akan ada pada waktu disidangkan, pikirkan saat sidang. Ini nih kalimat yang membuat saya semangat dari Ibu pembimbing, “Kami milihin materi itu ya yang sesuai sama kamu, milihin jadwal sekaligus dosen penguji itu juga sesuai sama kamu. Kalau memang dapat penguji Pak itu ya pasti lah ada pertimbangan tersendiri, mungkin nilai IP, atau bisa jadi memang kamu yang layak. Saya salut loh sama kamu, mungkin saya tidak tahu bagaimana dalamnya tapi di permukaan tampak tenang sekali, ndak gupuhan, ndak grogi. Lanjutin besok pas sidang loh ya.. Yang semangat.”.

Bapak pembimbingpun juga tak kalah baik hati dengan mengatakan bahwa semua dosen penguji itu sama saja. Yang penting penguasaan terhadap materi yang akan diujikan. Saran dari beliau kalau memang tidak bisa, ya sudah bilang belum belajar. daripada maksa jawab, ngawur, dan akhirnya malah diperpanjang.

Ibu Bapak saya di rumah, waktu saya menelpon karena gugup, dengan santainya bilang bahwa mereka mendoakan saya siang dan malam. “Manusia itu bisa apa toh mbak, kalo minta sama Gusti Allah pasti dikabulkan wong ya dosen penguji itu makhluknya juga. Ya semoga dilancarkan, dimudahkan ujiannya. Wes, ndag usah mikir sopo pengujine sing penting paham materine.”. Wew.. Baiknya kedua orangtua saya.🙂

Mas Yudanis juga tak kalah menyeramahi saya panjang lebar “Yang paham materimu ya kamu sendiri, dosen penguji baru pegang materimu dua hari aja kamu bingung.”. Kalau dipikir ya benar juga sih. Harusnya yang terpenting adalah bagaimana menajamkan pengetahuan bukan mengeluhkan dosen penguji.

Teman- teman seangkatan dan seperjuangan menyemangati dengan berbagai cara. Ada yang memeluk dan mendoakan semoga sukses, ada yang menjabat tangan saya menyalurkan semangat, ada yang mengirim pesan di facebook, hp, dan lainnya. Rasanya sejuk sekali, saya baru menyadari betapa indahnya kampus ini dan seluruh penghuninya. Mungkin akan jadi kenangan nanti di usia senja.

This slideshow requires JavaScript.

Cerita pas sidangnya, di post selanjutnya.🙂 see you there..

10 thoughts on “pra-sidang proposal

  1. Waaaah… jadi ingat jaman persiapan ujian dulu euy. Deg-degan banget, tapi begitu sudah buka mulut dan mulai bicara kayak lupa kalo lagi ujian. Semangat banget malah.Hehehehe

  2. Saat ini tentunya sudah selesai ujian, ya? Atau kalau belum, selamat menempuh ujian dan semoga berhasil.
    Tentang dosen pengusji killer atau bikin nangis, sebenarnya itu personal banget, kok. Belum tentu seperti itu untukmu. So.. jangan dengarkan orang lain, jangan tiru orang lain, dan jadi yang terbaik bagimu. Sama seperti aku 10 tahun lalu. Dapat dosen pembimbimng sangat baik & sangat teliti dan diuji dosen (yang katanya) killer. Padahal menurutku hanya dosen yang sangat cerdas dan teliti. Kuncinya ada di penguasaan materi. Tanpa itu, kita akan gagu mendapat pertanyaan cerdasnya.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s