laki- laki nomor 1 #part : 6

Semalaman saya begadang dengan Bapak (lagi). Kami selalu mengisi jumlah pertemuan yang sangat sedikit di waktu yang tepat dengan obrolan ringan yang kaya pembelajaran. Yahh.. Meskipun saya pulang setiap akhir pekan, tapi menemukan waktu yang tepat untuk sekedar bercengkrama sangatlah tidak mudah. Bapak menghabiskan hari dengan bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 1 dini hari. Kebayang?

Menjadi pedagang kaki lima memang tidak pernah mudah. Tapi Bapak bilang bahwa Tuhan sendiri yang mengatakan ‘Kerjo o sing tenanan, lek wayahe leren Aku dewe sing nglereni.’ (Bekerjalah yang sungguh- sungguh, jika waktunya istirahat Aku sendiri yang  mengistirahatkan.). Entah mengapa saya selalu terpikat dengan cara Bapak mengemas kalimat Tuhan.

Bapak sudah berusia emas, lebih bahkan, tapi semangatnya untuk merubah hidup masih membara. Bapak mengangkat puluhan kilo rambutan, salak, atau apalah di punggungnya hampir setiap hari, dan melihatnya membuat saya selalu merasa sesak. Pernah suatu hari saya mengatakan padanya bahwa saya tidak akan lagi mengijinkan ia berdagang buah ketika saya sudah bekerja. Saya akan mengambil alih semua beban keluarga dan meminta Bapak Ibu saya untuk beristirahat di rumah saja. Tapi ia menolak, baginya kerja tidak melulu untuk uang, tapi juga untuk menjaga kesehatan.

Yah.. Kadang Bapak mengulang cerita yang sama di perbincangan satu dan yang lainnya. Salah satunya adalah ketika Bapak menceritakan betapa bangganya ia dengan kami bertiga, anaknya. Contohnya ketika banyak pembeli yang heran bagaimana cara mendidik kami, sehingga pulang setiap weekend dan masih sudi berjualan di pinggir jalan. Umumnya mereka tahu bahwa Dek Afam diterima di SMA favorit di Kediri dan saya kuliah di Surabaya. Adik saya yang paling kecil, Dek Fifi, juga sering jualan meskipun baru kelas 2 SD. 

Bagaimana cara mendidik kami? Kami dididik seperti anak lainnya. Hehe.. Hanya saja karena kami pernah tahu betapa susahnya hidup sebelum menjadi pedagang buah, membuat kami merasa bahwa sekedar pulang weekend dan berjualan buah adalah mudah.

Berbincang dengan Bapak memang tidak pernah ada habisnya. Mulai dari kenangan masa kecilnya, tips ketika nanti saya menikah, rencananya untuk masa depan, hingga Kuasa Tuhan yang menciptakan rantai makanan begitu hebatnya dengan maksud dan tujuan tertentu. Keren. Dia memang laki- laki nomor satu di hidup saya.

Baca juga :
part 1
part 2
part 3
part 4
part 5

10 thoughts on “laki- laki nomor 1 #part : 6

  1. No 1 man in our life is our father. Bener banget Tutus.
    Dan menjaga diri tetap sibuk di usia yang sudah kepala lima untuk kesehatan, saya juga setuju itu. Bapak saya juga bilang hal yang sama. Nanti saya juga mau seperti itu. Tetap sibuk walaupun sudah tuwir.

    Sebagai anak, kita mungkin tidak cukup hanya membanggakan orang tua kita (karena mereka sudah bangga dengan kita), seharusnya mungkin kita punya mimpi bisa memanjakan mereka.😀

  2. kami pernah tahu betapa susahnya hidup sebelum menjadi pedagang buah, membuat kami merasa bahwa sekedar pulang weekend dan berjualan buah adalah mudah …

    Striking !!!
    Ini kalimat yang sangat menohok …

    Hanya orang yang sudah teruji yang tau makna bersyukur

    Salam saya

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s