sepasang topeng Anggi

Anggi melihat sepasang topeng pada kedua tangannya. Mamanya memberikan topeng itu saat ia bangun tidur pagi tadi. Buah tangan dari papa, katanya.

Topeng dengan bentuk alis yang mendekati kelopak mata yang ia suka. Seolah tampak sebagai pribadi yang mandiri. Namun posisi mulutnya yang menganga, menjadikannya terlihat tak bisa dipercaya. Seperti dirinya, penghianat bagi teman gengnya.

“Anggii…” suara mama membuyarkan lamunannya. Anggipun bergegas menghampiri asal suara.

“Mama mau ke rumah nenek jam 9, Anggi ikut?” katanya sambil meletakkan majalah yang ia baca. Anggi mengangguk. “Yasudah, Anggi siap- siap sekarang ya.”

“Oh iya, Ma,” Anggi membalikkan badan dan berjalan semakin lambat menuju kamarnya.

Ia kembali duduk di meja rias. Matanya tertuju pada sepasang topeng yang ia tak tahu sejak kapan ada disitu. Ia mengamati keduanya, kemudian meletakkan salah satu. Dipandanginya lekat sosok cantik yang menutup mulut. Seperti dirinya, yang pandai menjaga rahasia.

“Anggi, ayo kita…” Ajak mama sambil membuka pintu. Ia terkejut, karena Anggi masih mengenakan baju tidurnya, belum bersiap.

“Mama, ini punya siapa ya, Ma?” Kata Anggi sambil menunjukkan kedua topeng yang ia pegang. “Tapi.. Anggi suka yang ini. Yang satunya buat mama saja ya? Jelek, hehe..” Lanjutnya.

“Simpan saja buat Anggi,” perempuan muda itu membuang nafas berat. “Ayo berangkat, mama kan sudah minta Anggi siap- siap tadi..” lanjutnya sambil bergegas menuju gagang telepon.

“Berangkat kemana, Ma?” sahut Anggi kebingungan.

***

“Ini saya, Bu Handoko..” Mata itu mulai berkaca. “Dok, Anggi berganti kepribadian 2 kali pagi ini.” Lanjutnya seraya menghapus air mata.

*Ditulis untuk bersenang- senang bersama Ilmi, Septia, Atut, Fiqih dan Enya dalam A Week Piclit Challenge.

15 thoughts on “sepasang topeng Anggi

  1. hhmm … saya masih belum mudeng tus kepribadian ganda dimananya ya? (apa ada yang kelewatan bacanya) eniwei, akhirnyaaa dapet inspirasi😀

      • boleh ngasih masukan? coba si Anggi tiba-tiba nggak ngakuin mamanya dan bilang kalau dia Echa, anak pengusaha kaya raya. kalau dibikin seperti itu rasanya split personality-nya bisa lebih kelihatan :p *sok tau deh, kabor sebelum dilempar sendal Tutus*

        • boleh Enya..dengan senang hati.🙂
          hmm… aku kepikirnya soalnya dia masih anak sekolahan, yang karena manja dibully, terus muncullah sisi yang lain.. yang mandiri, pemberontak, gitulah. hehe.. cuma emang pengembangannya kurang tegas, jadinya tanggung.

    • karena buram, shocknya di akhir malah kurang menunjang cerita, menurut saya. hehe..😀 lain kali musti lebih ngembangin konfliknya supaya lebih cetarr. hihihi

  2. Pingback: A Week Piclit Challenge #2 : Topeng mu, dan Topeng ku | UNTUKMU DAN AKU JUGA

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s