Fajar dan Senja

“Di perbatasan ada dan tiada,” katamu sambil duduk di kursi sebelahku. “Iya, kita selaput tipis antara ada dan tiada.” Ulangmu.

Aku tak tega melihatmu pucat. Kuedarkan pandangku pada lautan, tempat matahari akan bersemayam. Aku sengaja diam, kamu selalu tidak ingin diganggu kala senja. “Kenapa?” tanyaku dulu. “Karena orang lain menunggu setahun untuk mensyukuri kelahirannya. Sedang namaku, Senja, mengingatkanku bahwa aku diberi setiap hari untuk memperingati hari -bahkan waktu- lahirku.” Aku tergelak. “Seharusnya aku juga mengheningkan cipta setiap matahari terbit, karena aku Fajar, begitu?” Ganti kamu tertawa.

“Kamu benar, bahwa kita adalah selaput tipis antara ada dan tiada. Fajar dan Senja.” Aku mengubah posisi dudukku.

Dan matahari telah benar- benar hilang. Aku kembali menatapmu. Tatapanmu jauh, entah kemana. “Kita dekat sekali,” suaramu seperti bisikan halus karena tertelan musik alam. Aku membenarkan dengan anggukan, “ini cara terburuk ketika aku merindumu. Membiarkanku di sampingmu meski tahu kamu tak bisa kumiliki.” Kamu tersenyum, tipis, entah karena apa.

Dalam keheningan yang makin mencekik, kamu menghirup nafas dalam. Aku selalu terkenang caramu menghilangkan nyeri di dada.

Aku menatapmu dalam hening untuk sekian lama. Matamu terpejam, angin malam membelai pipimu dan menyibakkan rambutmu. Nafasmu mulai teratur. 

“Fajar,” Tetiba kamu membuka mata dan berdiri, “aku ingin menyusulmu. Aku lelah menjadi mayat hidup, tanpamu.” Aku masih membeku dalam keterkejutanku. Tanganku berusaha meraihmu, namun terlambat, kamu melesat ke dasar laut.

***

“Braaakkk..” Suara kendaraan yang beradu dengan tubuhku mengagetkan kerumunan orang, sekilas. Kemudian mereka berpaling lagi, beberapa mundur lagi, tubuhku menyatu kembali. Mobil- mobil di jalanan berjalan mundur. Jarum jam pada dinding gapura di atasku pun berputar ke kiri, lambat.

“Faaajaaarrr…” Aku mendengar Senja meneriakkan namaku dalam isaknya. Ia pun berlari mundur dalam gerak lambat. Hanya aku satu- satunya orang yang berjalan ke depan.

Lantas aku tertawa, semakin menjadi dan semakin dekat pada Senja yang menatapku dengan mata sembab. “Kamu pasti bercanda. Iya kan? Kamu bercanda?” Ucapku.

Senja menghirup nafas dalam. Aku menggoncangkan tubuh kecilnya yang tak berdaya. “Kita tidak mungkin menikah, Fajar.” Aku melonggarkan pelukku. Ia mengeluarkan nafas berat, “Kita saudara kembar.”

 

*Ditulis untuk bersenang- senang bersama Enya, Fiqih, Septia, Atut, dan Ilmi, dalam A Week Piclit Challenge.

14 thoughts on “Fajar dan Senja

  1. Pingback: Wisdom “Pergi” | Navigasi Kehidupan

  2. Pingback: Tulang Rusuk Itu | Navigasi Kehidupan

  3. Pingback: Bukankah 1+1=2 ? | Navigasi Kehidupan

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s