lenting sempurna

“Mungkin koinnya terpantul,” Anisa menjawab ragu. Saat melihat susunan koin pada satu garis itu.

Adrian tersenyum, “Ku coba ya,” ia menyentil koin pertama. Dan benar, koin yang ditumbuk melesat beberapa senti, dan koin yang menumbuk, terpantul meski tak jauh.

“Hehe. Aku menang ya,” Anisa tersenyum, menunjukkan sepasang sumur pada pipinya.

“Iya, lenting tidak sempurna.” Adrian membalas senyumnya dan mengatur nafas. “Anisa, hmm.. Andaikan koin ini hatiku dan itu hati Anisa. Cinta menyentilnya. Apa ya yang terjadi?”

Wajah Anisa memerah, demikian juga Adrian. “Mungkin tidak lenting sama sekali, Kak Adrian.” jawab Anisa. Sekilas ia melihat kecewa pada raut Adrian.

“Oh.. Iya. Aku berharap lentingnya sempurna, Anisa. Cinta yang menyentil hatiku bisa kubagi untuk hati Anisa. Dan kita berdua sama- sama punya cinta. Tapi kalau Anisa tidak ingin menerima cintaku, tak apa. Kita bisa berteman, bukan?”

“Ah.. Kak Adrian. Tunggu sebentar ya.” Anisa berlari masuk kamarnya. Dan kembali dengan plastisin merah pipih di tangan. Ia menggantikan koin kedua dengan plastisin itu. Kemudian menyentil koin pertama. Adrian tersenyum dan menghambur memeluk Anisa. “Cinta itu, dicicip berdua Kak. Bukan untuk dibagi.” Anisa berbisik.

 

*terinspirasi dari cara fisikawan menyatakan cintanya.🙂

7 thoughts on “lenting sempurna

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s