kejar- kejaran kereta

Saya pernah nonton film yang adegannya seseorang sedang mengejar seseorang dalam kereta, menurut saya itu basi, meskipun barangkali pembuatnya merasa itu seru. Dan sore kemarin saya benar- benar mengalami rasanya melihat seseorang mengejar kereta yang saya tumpangi. Nah? Rasanya? Mendebarkan! Mungkin sama seperti yang dirasakan pembuat film yang pernah saya tonton.πŸ˜€

17.29

Saya dan Mbak Mita (sepupu) sudah berada di stasiun. Kami berangkat berlima dan karena keterbatasan angkutan, kami berangkat lebih dulu berdua. Yang lain akan menyusul diantar om. Jam berjalan semakin cepat saat kami diam. Saya hubungi sana sini tidak ada yang mengangkat, sampai akhirnya telepon masuk dari tante. Beliau mengabarkan bahwa sudah sampai di Stasiun Gubeng Baru (SGB) dan tidak bisa masuk karena memang untuk kereta ekonomi hanya bisa lewat Stasiun Gubeng Lama (SGL). Untuk menuju SGL dari SGB menempuh jalan memutar yang butuh waktu lebih dari 10 menit, belum kalau macet. Jadi satu- satunya jalan ya merayu petugas untuk bersedia membukakan gerbang penghubung. Tantepun melakukannya dengan memohon- mohon (saya dapat cerita ini langsung dari tante.)

17.42

Kereta kami sudah datang, segera saya berlari masuk dan mencari sekuriti. Petugas di luar bilang kalau sekuriti bisa membukakan gerbang penghubung itu. Mbak Mita saya tugaskan untuk mencari tempat duduk dalam kereta. Dan ketika saya turun dari kereta di sisi yang berlawanan, sudah terlihat Mas Ar, Mas Yus, dan Dek Fifi berlari menuju gerbang. Segera saya susul.

Ketika bertemu sekuriti, yang pertama ditanyakan tentu saja tiketnya. Dan celakanya tiket ada di Mbak Mita. Saya kurang pandai merayu, tapi kemarin cukup berhasil. β€œAyolah mas, ini bulan puasa mas. Masak iya saya mau bohong? Kami berlima mas, yang satunya cari tempat didalam kereta. Ayolah mas, tolong mas..” Dan lain- lain. Sampai akhirnya, masnya luluh, β€œYawes mbak, aku percaya ya karo sampean. Setelah kereta itu berhenti sampean langsung nyebrang ya.” Ada kereta yang datang ke stasiun dan kereta saya di sisi sebelah kereta yang baru datang tersebut. Dan kami berempat segera lari.

17.48

Kami sudah menyebrang kereta yang baru saja berhenti itu tepat ketika kereta yang akan kami tumpangi melaju (meskipun pelan).

Saya berlari ke arah pintu. Masuk.

Mas Yus juga berlari ke pintu yang sama. Masuk.

Mas Ar yang memang kakinya tidak bisa berjalan sempurna ikut berlari terseok. Masuk.

Yang paling saya cemaskan ya Mas Ar, mengingat kondisinya. Tapi kelegaan belum berakhir, karena adek saya, Dek Fifi, masih berlari di sebelah kereta. Dia masih 8 tahun, bahkan tingginya masih lebih rendah daripada kaki kereta. Saya berteriak pada Dek Fifi untuk memegang tangan saya, sekaligus meminta tolong pada lelaki yang berjajar di sisi kereta.

Waktu berjalan begitu lambat hingga akhirnya ada yang menggendong Dek Fifi sambil ikut berlari dan melemparnya. Saya menangkap Dek Fifi dengan pelukan. Yah, masuk.

Bukan hanya kami berdua yang lega. Tapi juga beberapa penumpang yang ikut menyaksikan adek saya berlari. Hehe. Dramatis!

18.00

Kami masih membahas kejar- kejaran kereta tadi sampai kehilangan lapar, hingga Mbak Mita mengingatkan bahwa kami waktunya buka puasa.

22.00

Ibu Bapak memarahi saya habis- habisan setelah mendengar cerita dari adek. Saya itu kok bisa- bisanya ninggalin adek dan masuk kereta duluan.

10.45 pagi ini

Tiba kembali di SGL. Dan seperti melihat film, saya melihat adek berlari di sisi kereta untuk mengejar saya.πŸ˜€

20 thoughts on “kejar- kejaran kereta

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s