tertunda

“Ditunda? Gag semudah itu, Dik.”

“Tapi ibu sedang sakit Mas, aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian di rumah kalau kita menikah nanti.”

“Kita bisa ajak ibu tinggal bareng kita atau minta buat dijagain orang lain. Toh kita bisa sering- sering pulang ke rumah setiap minggu.”

“Tapi seminggu itu lama mas. Aku pengen 24 jam ada buat ibu, ngurusin makannya, tidurnya, baju- baju, rumahnya juga. Jangankan pergi jauh, ke pasar yang jarak lima rumah saja aku tidak tega ibu pergi sendirian.”

“Tapi Dik,”

“Kenapa aku jadi merasa,” ia menyahut.

“Merasa apa Dik?”

“Mas gag peduli sama ibuku.” Telepon terputus. Sejak itu hingga dua hari ini ia sama sekali tidak bisa dihubungi, membuatku gila.

***

“Mas, maaf ya.” Sahutnya setelah kupencet tombol terima.

“Adik boleh marah sama aku bagaimanapun, ngomel, atau apa terserah tapi jangan matikan ponsel. Adik tahu sekarang aku dimana?” ia diam. “Di separuh perjalanan ke rumah adik.”

“Aduhh.. maaf Mas, ibu kemarin jatuh. Aku sudah tidak terpikir apa- apa selain merawat ibu. Untungnya lukanya ringan dan sudah baikan.” Suaranya tampak menyesal.

“Iya.. Yasudah nanti ku hubungi lagi ya Dik. Aku balik ke rumah dulu besok kerja soalnya.”

***

“Nisa memang kuatir sama ibu berlebihan Mas Dian. Ibu tidak apa- apa kok, sehat walafiat ini. Hehehe.. Ibu kepengen cepetan punya cucu, gag sabar lihat Nisa menikah bulan depan.”

“Iya Bu,” aku tersenyum malu sendiri, hampir saja kujatuhkan ponsel yang menempel di telingaku.

“Besok Mas Dian mau ke sini ya? Pagi- pagi ibu mau belanja ke pasar buat masak yang enak- enak.”

“Jangan repot- repot Bu, yang penting Ibu sehat saja.”

“Gag repot kok Mas, malah nanti pas sudah menikah Mas Dian yang kerepotan ibu titipin Nisa. Hehehe.” Lagi- lagi aku tersenyum, tak sabar menanti hari bertemu dengan Nisa.

***

20 menit lagi bis ini berhenti tepat di depan gang rumah Nisa. Masih pukul sembilan pagi hari Sabtu, Nisa pasti sedang memilah buku yang akan didongengkannya untuk anak- anak SD di belakang rumahnya. Kalau tidak, ia mungkin sedang duduk di salah satu kursi di pojok ruangan dan memeriksa tugas Bahasa Indonesia murid ibunya, sambil sesekali melirik galak ke anak- anak yang ribut di perpustakaan mini yang ia kelola. Pekerjaan sebagai penulis lepas memang tak banyak menyita waktunya.

Waktu selalu tak berpihak padaku, ia berlari cepat saat aku bersama Nisa dan berjalan malas di saat- saat seperti ini. Astaga, aku sedang rindu padanya, sudah hampir dua bulan tak berjumpa. Meski hanya berjarak tiga jam perjalanan, baru hari ini aku bisa mengunjunginya.

Pasar di depan gang rumah Nisa tampak tidak seperti biasa. Polisi berseliweran dan pita- pita kuning melingkar di beberapa titik. Gang rumah Nisa tampak sedikit ramai. Sesaat kemudian aku menyadari keganjilan, bukannya anak SD berseragam pramuka yang memenuhi perpustakaan mininya, tapi orang- orang berpakaian serba hitam dan beberapa polisi. Sebuah bendera kuning berkibar menegaskan duka sedang merundung sang pemilik rumah.

Dalam detik- detik yang bergerak lambat aku teringat Nisa dan Ibunya. Beberapa patah kata tetangga terdengar samar tentang tertikam pisau pencopet pasar. Aku teringat perbincangan semalam dengan ibunya. Terngiang pula janjiku saat melamar Nisa tahun lalu, bahwa aku akan menjaganya dan tidak akan membiarkannya bersedih. Di pelupuk mataku terbayang wajah Nisa yang sedih karena hanya sebatang kara dan aku akan menggenapkan janjiku untuk selalu melindunginya.

Saat kakiku yang berat tiba di pintu. Batik cokelat menyelimuti tubuh di pembaringan, disampingnya seorang wanita menangis tersedu dan menoleh kepadaku. Mata cokelat itu tampak begitu terpukul, kesedihan yang mendalam seorang ibu untuk anaknya. Seketika tubuhku terasa kian berat.

Dapat ide di sepanjang jalan pulang karena melihat banyaknya tenda pengantin dan satu bendera kuning.

4 thoughts on “tertunda

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s