back to the start

“No one ever said it would be this hard
Oh take me back to the start”

Sudah tiga tahun sejak terakhir bertemu. Masih sering kudengar lagu ini mengalun di kepala bersama dialog yang mengantarkan perpisahanku dengannya.

“Cincin itu lebih pantas dipakai pada jari manis seseorang.”

“Aku memberikannya untukmu,”

“Di saat seperti ini? Kamu menghinaku Yuda!”

“Sama sekali tidak, kita bisa menanggungnya bersama.”

“Pergilah dan cari perempuan lain untuk memakai cincin itu.”

“Aku berharap bisa memperbaiki keadaan ini.” Ia lalu meminta maaf dan tak pernah berpaling lagi.

Suara pintu kamar diketuk membuyarkan ingatanku tentangnya. Ibu menatapku saat aku menoleh padanya, “Yuda didepan, apa Anggi mau bertemu dengannya?”

***

Ibunya memintaku menunggu. Ruangan ini masih sama seperti saat aku terakhir kali berkunjung, kecuali beberapa piagam yang menghiasi dinding dan piala- piala penghargaan atas prestasinya sebagai motivator. Aku tahu dia bisa bangkit dari keterpurukannya.

“Maaf lama,” katanya saat duduk di depanku. Ia menatapku sebentar kemudian menunduk.

“Apa kabar?” Kataku canggung. Aku tidak tahu harus memulai dari mana.

“Baik,” jawabnya singkat tanpa menatapku. Kemudian kami terdiam lama.

“Kamu,” kami mengatakannya berbarengan dan berhenti pula bersamaan. Ia memintaku bicara terlebih dulu, begitu juga aku, sampai akhirnya aku mengalah.

“Aku bangga padamu,” sesaat aku menggantung kalimat, ia menatapku. “Aku mencari tahu kabar baru tentangmu setiap aku berlabuh. Tahun lalu, terakhir kali aku ke Indonesia, aku kemari. Tidak ada orang di rumah waktu itu. Aku berniat menghubungimu atau mengirimimu surat tapi aku tak punya keberanian. Kupikir memang sebaiknya bertemu langsung.” Aku mengambil nafas.

“Tolong jangan potong ceritaku, aku mempersiapkan ini setiap malam.” Kataku saat kulihat bibirnya terbuka hendak mengucap sesuatu. Ia mengangguk.

“Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Setiap kali aku bertaruh bahwa bisa jadi aku terlambat. Pada saat yang sama kuyakinkan diriku, kalaupun kamu telah memilih orang lain, orang itulah yang bisa membuatmu bahagia.” Aku menelan ludah, betapa pahitnya kenyataan itu.

“Aku masih menyimpan cincin ini untukmu.” Ia melihat cincin di tanganku dengan mata berkabut.

“Aku juga membawakan ini,” kuperlihatkan sebuah kalung di tanganku yang lain. Kumasukkan kalung itu pada cincinnya. Aku melihatnya tersenyum, bibirnya bergerak tapi seolah kata- kata tak bisa menggambarkan apa yang ia rasakan. Air matanya menetes, aku mengusapnya. Aku bangkit dan memakaikan kalung itu.

“Let’s go back to the start..” Bisikku saat tubuhnya kupeluk. Samar kurasakan ia memelukku seperti terakhir kali, sebelum kecelakaan empat tahun lalu merampas tangannya.

**Lagu ini menemani saya sepanjang hari. Terimakasih sudah mengenalkannya.🙂

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s