Ijah dan Bupati

Ijah berjalan tergesa menuju rumahnya, ia marah. Sudah 3 tahun ia mengabdi di SD N 1 Pelem sebagai pegawai honorer, segala persyaratan telah ia penuhi untuk menjadi seorang PNS, namun pengangkatan yang ia idamkan justru diluar perkiraannya, “Bu Ijah harus membayar biaya administrasi 7 juta, Bu. Ibu sanggup?” Tentu saja tidak, Ijah tidak sanggup.

Tanpa berganti pakaian, Ijah mengambil motornya dan segera berangkat ke kantor bupati. Ia akan meminta kebijaksanaan bupati dan melaporkan pemerasan yang dilakukan oknum terhadapnya.

“Saya akan memberikan informasi tentang pemerasan pada bupati, Pak” Security di depan gerbang segera membuatkan janji pertemuan Ijah dengan bupati. Seperti yang sudah Ijah duga, bupati bersedia untuk menemuinya empat jam lagi. Ijah menanti.

Pak Bupati baru mempersilahkan Ijah menemuinya 5 jam kemudian. “Saya punya waktu 10 menit, Ibu ada perlu apa?” Seperti kran yang baru saja dibuka, Ijah menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya, liku- liku sebagai honorer, tes PNS, hingga pemerasannya.

“Ibu siapa namanya?”

“Ijah, Pak.”

“Bu Ijah berapa umurnya?”

“29 tahun, Pak.”

“Bu Ijah untuk masa kerja hampir 30 tahun, ditambah tunjangan pensiun, membayar 7 juta tidak mau. Saya untuk masa kerja 5 tahun saja harus membayar 7 milyar.” Pak Bupati memberi tekanan lebih pada kata ‘saja’.

Ijah memendam amarah sembari menunduk pasrah.

 

*Cerita ini fiksi. Ditulis entah kapan, sekedar untuk menyegarkan prasasti yang lama terlupakan. Hehe..

3 thoughts on “Ijah dan Bupati

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s