Cinta Datang Terlambat

“Aku hanya ingkari kata hatiku saja.. Tapi mengapa?” Suaranya tercekat saat hendak mengucap syair lagu terakhir, ia mengambil nafas berat dan menghembuskannya cepat. Tuts piano di depannya menjadi pelampiasan sepasang jari lentik yang menari tak berkesudahan sejak anggota paduan suara terakhir meninggalkan ruangan latihan itu.

“Aku hanya ingkari kata hatiku saja.. Tapi mengapa?” Kabut di matanya kian menebal, jemarinya berhenti meninggalkan nada terakhir yang mengambang di telinga.

“Cinta datang terlambat,” ucapnya lirih pada dirinya sendiri.

Gema tepuk sepasang tangan memenuhi ruangan. Kirana menoleh sembari mengusap mata dengan cepat, saat tahu siapa pemilik bayangan tubuh yang bersandar di pinggir pintu. Sosok itu menunduk untuk mengambil dua cangkir kertas berisi kopi sebelum beranjak menuju barisan kursi, tempat Kirana kini sedang merapikan tasnya.

“Aku membawakanmu kopi,” Digy menyodorkan cangkir di tangan kanannya. “Ini sudah dingin. Aku menunggumu cukup lama disana.”

“Terimakasih,”

Dua bulan terakhir keduanya menjadi asing, tepatnya setelah peristiwa pada hari ulang tahun Kirana. Digy, yang menerima kue ulang tahun pertama darinya, membuatkannya sebuah lagu sebagai kado dan memainkannya di pesta itu. Di tengah lagunya ia berhenti, “Selamat ulang tahun Kirana,” kemudian ia lanjutkan dengan barisan doa. “Digy sayang Kirana,” katanya dengan mantap sambil berjalan menuju Kirana dengan setangkai bunga.

Pesta menjadi semakin riuh, teman- teman sekolah mereka kompak berseru meminta agar Kirana menerima bunga Digy, Kirana mengabulkannya. Sayangnya, pertalian kasih itu berlangsung hanya sampai pesta berakhir. Ia tak ingin membuat Digy malu dengan menolaknya di depan umum namun ia tidak yakin. Ia sayang Digy seperti ia menyayangi teman- teman lainnya, ia kira.

“Heii..” Digy mengayunkan tangannya di depan mata Kirana. “Mikir apa? Kopiku sudah habis,” katanya sambil menunjukkan cangkirnya yang kosong.

“Tidak, aku, hmm.. Aku gak ngerti kamu kenapa tiba- tiba disini, nyodorin kopi, seperti.. Hmm.. seperti,” Kirana menyeruput isi cangkirnya. “Yah, begitulah. Aku bingung, kita lama tidak bertemu, apa kabar?”

“Baik, tentu saja.” Digy menatap Kirana yang meletakkan cangkir di kursi sebelahnya. “Waktu itu aku kekanakan, aku minta maaf. Kukira itu waktu yang tepat, maksudku setelah kita dekat sekian lama, tapi malah jadi begini.”

“Sudahlah,”

“Oh ya, lagu siapa tadi? Bagus Kirana nyanyinya.” Kebekuan, yang mengganjal diantara keduanya sekian lama, telah mencair, hilang begitu saja. Kirana malu, dengan gugup ia mengambil ikat rambut di pergelangan tangan kiri dan memasangnya pada rambutnya yang panjang. “Pernah dengar kata pepatah?” Digy melanjutkan, ada kilat bahagia di mata coklatnya.

“Pepatah?”

“Iya.. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” Digy tersenyum melihat pipi Kirana yang memerah, kontras dengan warna kulitnya yang putih. “Digy sayang Kirana.”

“Kirana juga.” Jawabnya lirih.

Ditulis untuk bersenang- senang dengan Enya, Atut, Fiqih, Ilmi, dan Septia dalam Songlit edisi 1. Tantangannya adalah membuat sebuah tulisan yang dikembangkan secara bebas dari lagu Cinta Datang Terlambat (Maudy Ayunda), yang sejujurnya belum pernah saya dengar.😀 Fiksi ini dibuat hanya berdasarkan lirik lagunya karena koneksi di rumah sedang tidak memungkinkan. Hehehe.

7 thoughts on “Cinta Datang Terlambat

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s