kalau bukan (cinta), apalagi?

“Tampar aku! Lanang tenan awakmu!” Ada sesuatu yang menyentak lelaki itu, membuat tangan itu berhenti, mengambang, nyaris mengenai pipi kiri Tyas. Suara tetes air dari botol, yang tadi tersenggol, terdengar berseling dengan nafas lelah keduanya. Sedetik kemudian, aroma alkohol dan asap tembakau, yang memenuhi ruangan, menjauh bersama lelaki yang 6 bulan lalu menikahinya. Air matanya tumpah, kekuatan yang tadi ia miliki sirna, saat ia mendengar pintu rumahnya terbanting. Ada takut yang terpendam namun ia sadar, sepenuhnya sadar, jika ia membiarkan dirinya dipukul, seterusnya ia akan mendapatkan pukulan.

Saat berbaring, air matanya justru menjadi, membuatnya segera bangkit dan sesekali menengok jendela untuk memastikan apakah Totok pulang. Namun yang terlihat hanya uang pecahan lima puluhan ribu, yang ia buang, terayun- ayun angin di pelataran. Uang hasil berjudi kemarin malam, ia enggan menerimanya dan memancing permasalahan. “Aku tak sudi makan uang haram,” ucapnya tidak pada siapa- siapa.

Jam berdenting 12 kali membawa ingatannya pada bulan sebelumnya. Tepat tengah malam, Totok memamerkan rokok  yang ia bawa pulang, “dari Pak Lurah, aku mencoba motornya, Cuma 140.” 

Tyas berlalu dengan jawaban singkat, “nyawamu bahkan tidak lebih mahal dari lima bungkus rokok.” Seharusnya Tyas bisa setenang itu malam ini, tidak terpancing marah dan langsung pergi.

Setengah jam sebelum fajar, Tyas menegakkan badannya yang terasa pegal bersandar di bingkai jendela. Ia masihmenunggu, berharap suaminya datang. Kekacauan di rumahnya sudah ia bereskan. Membersihkan rumah dan membuat masakan enak ia anggap sebagai  perwujudan seorang istri. Setidaknya itu cara agar orang di luar, yang menentang pernikahannya, menganggapnya bahagia. Hujan dan petir yang bersautan datang tiba- tiba, entah mengapa, membuatnya resah.

Tyas terkejut saat membuka pintu. Payung di tangannya terjatuh membangunkan lelaki  yang terlelap tepat di bawah jendela, tempat ia menunggu semalaman. “Aku ketiduran.” Totok mengucek matanya, lantas memandangi istrinya keheranan, “mau ke pasar, Dik?”

“Tidak, aku, hmm..” Tyas tak ingin meneruskan. Ia lega, “Mas pindah ya? Hujan.” Ia bangkit dan masuk rumah diikuti suaminya.

Siangnya, matahari begitu terik meski jalanan masih menggenang air sisa hujan pagi tadi, yang membuat bercak- bercak hitam pada celana Tyas saat ia berlari. Ia bergegas masuk rumah dengan sebungkus test pack di tangan.

Ia tentu tidak akan demikian gugupnya jika tidak bertemu Fajar, kekasih pertamanya, yang setahun lalu ingin menikahinya dan kini masih menawarkan hal yang sama. Tyas tidak menjawabnya, ia secepatnya pergi, meski,  ia akui, ia  ingin. Bagaimanapun juga masih ada cinta di hatinya, seharusnya ia bersedia lebih  sabar dan menunggu. Jantungnya semakin berdebar, saat Fajar ternyata mengejarnya hingga depan pintu. “Tyas..” Bisiknya.

Seketika ia terduduk lemas, seluruh kepedihan sekaligus kebahagiaannya enam bulan ini berselingan layaknya sebuah film. Ketukan dari sisi lain pintu membelai punggungnya, menuntutnya mengambil keputusan. Tak lama, ia bangkit, menyiapkan senyum termanis yang ia punya.

“Sayang, kamu hamil?” Suamiku mengagetkanku yang tengah serius menulis. Ia mengacungkan sebuah test pack dengan dua garis.

“Ya gak lah. Alita, Mas.” Aku meliriknya, kemudian menatap kembali layar monitor sembari membetulkan kacamata.

“Menulis tentangku lagi?” Ia kemudian menuang air pada gelasnya.

Saat pintu terbuka, ia tahu apa yang dipilihnya. Tentu saja suaminya, bagaimanapun resiko yang ia hadapi. Kenapa? Tiga puluh tahun berikutnya, sekarang, ia mengerti alasannya, yang ternyata cinta. Kalau bukan (cinta), apalagi?🙂

Aku menutup laptop setelah menekan tombol save dan memutar kursiku agar bisa menatapnya. “Untuk warisan anak cucu,” kataku.

“Oh ya? Berdoa saja semoga cucu ketigamu ini, anak Alita, senang membaca.” Matanya berbinar, ia memegang tanganku dan mengecupnya. Kuusap tangannya yang telah termakan usia, tak ada kuning bekas nikotin pada kuku jemarinya. Lalu, saat ia menarikku dalam pelukan, bukan lagi wangi bir yang melekat pada tubuhnya.

*Tulisan ini sudah selesai sejak sebelum DL. Tapi entah mengapa blog ini sedang tidak bersahabat.😦

**Ditulis untuk bersenang- senang. Mengembangkan sebebas- bebasnya dari lagu Ternyata Cinta, Drive. Cerita ini didasarkan pada kisah nyata dengan pengacakan timeline untuk mendramatisir kejadian.😀

9 thoughts on “kalau bukan (cinta), apalagi?

  1. eciee Ayu Utami beud nih :3
    ada satu dialog yang aku bingung Tus, ini:
    Totok memamerkan rokok yang ia bawa pulang, “dari Pak Lurah, aku mencoba motornya, Cuma 140.” Tyas berlalu dengan jawaban singkat, “nyawamu bahkan tidak lebih mahal dari lima bungkus rokok.”
    yang ngomong Totok atau Tyas ya? Soalnya aku pikir Totok tapi ternyata Tyas ya? Mending dikasih paragraf lain Tus.
    Pengacakan waktunya juga bikin agak bingung sebenernya, harus dibaca dua kali baru ngerti. Pace-nya agak kecepeten.
    Tapi ini buagus Tus. Dua jempol deh😀

    • Iya Nyaaa.. udah kupisahin paragrafnya.😀
      Tadinya mau dilamban- lambanin tapi kurang pinter ganti setting akunya, jadinya ya gitu deh. Enya ada bahan belajar ganti setting? Aku mesti mentok- mentoknya di lamunan tokoh kalo mau ganti seting. Gag kreatif. Hehe

      • waduh, ntar aku cariin ya Tus kalau udah pulang kerja. Ganti setting emang agak susah sih kalau pake flashback Tus mentok juga (setelah bangun dari lamunanku aku bla bla bla :p)

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s