child girl

“Bela cantik kan, Yah?” Bela berputar di depan cermin mengenakan seragam putih abu- abunya. Sementara sang ayah tidak menjawab, duduk di belakangnya merebahkan kepala pada sandaran kursi. “Yah?” Bela duduk di samping ayahnya. “Masih kepikiran yang tadi ya, Yah?”

Pandangan ayahnya jatuh pada langit rumah. “Bela sekolah di SMA sini saja ya?”

“Yah.. Kenapa? Berita- berita di TV itu? Gak semua anak SMA gitu, Yah.” Bela berharap bisa bertemu mata ayahnya.

“Tapi kamu jauh dari Ayah, kamu belum tahu teman kamu nanti seperti apa.”

“Ayah juga belum tahu teman Bela seperti apa.” Bela memotong kalimat ayahnya tepat saat keduanya bertatapan. “Bela tahu teman- teman Ayah.” Lalu Bela menyebut satu per satu teman Ayahnya yang sering memukul anaknya, teman Bela. Bela juga merinci mereka yang selalu mabuk, bahkan berjudi hingga masuk penjara. Bela mengambil nafas, “tapi Bela tidak pernah berpikir Ayah sama dengan mereka.”

“Kalau Ayah tidak percaya sama teman- teman Bela. Paling tidak Ayah tahu, Bela bisa percaya.” Bela menunggu jawaban ayahnya. “Bela sudah besar, Yah,” katanya tak sabar, kemudian ia bangkit dan beranjak pergi.

Jam di kamar Bela berbunyi bip 9 kali tepat ketika ayah mengetuk pintunya, “Bela.. Ikut Ayah yuk.”

“Ayah mau nyanyi?” Bela membuka pintu kamar dan terkejut melihat ayahnya berdandan rapi dengan rambut sebahunya yang terkuncir. Ayah mengangguk dan memintanya bersiap.

Setibanya di kafe, tempat ayah menyambung hidup setelah terkena PHK, Bela bersandar pada salah satu sudut, tempat favoritnya. Beberapa tahun yang lalu, di tempat itulah ia menangis seorang diri. Ia sedih lantaran ibunya menikah dengan sahabat karib ayahnya, yang juga paman terbaiknya. Lalu bulan berikutnya, di tempat yang sama, ia juga bersedih karena ibunya dibunuh suami barunya. Hingga kini, Bela tak tahu mana yang lebih pedih.

Suara gitar menggema di seluruh ruangan diikuti suara merdu ayah. “Now that I’ve lost everything to you. You say you want something new. And it’s breaking my heart you’re leaving, Baby I’m grieving”

Lagu mengalun di telinga Bela timbul tenggelam dalam lamunan. Rasanya belum lama, Bela dan ayahnya duduk di salah satu meja restoran besar untuk merayakan beasiswa penuh yang ia terima. Kemudian tawanya pecah saat melihat ayahnya berlumur es krim di ulang tahun yang ke 35. Ada sedih yang bergelayut di pikirannya justru saat memikirkan kenangan, seolah semuanya tak akan terulang.

You know I’ve seen a lot of what the world can do
And it’s breaking my heart in two
Coz I never want to see you sad girl. Don’t be a bad girl.

Di atas panggung, masih dengan mata memejam untuk menahan air mata, lelaki itu menyanyikan lagu dari hatinya, berharap putrinya mengerti.

But if you wanna leave, take good care. Hope you make a lot of nice friends out there.
Just remember there’s a lot of bad and beware.

Lelaki itu membuka mata dan mengakhiri lagu saat Bela memeluknya. Setengah berbisik ia berucap, “I’ll always remember you like a child girl.”

*Lagu ini sudah lama di handphone dan merupakan salah satu lagu kesayangan. Seolah Bapak yang menciptakan lagu ini, isinya tepat sama seperti yang beliau pesankan pada saya setiap malam. Daaann.. beberapa hari belakangan, lagu ini kembali menemani saya setelah dinyanyikan Devirzha di Indonesian Idol. :D 

14 thoughts on “child girl

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s