cinta tanpa meminta

Entah apa yang salah denganku hingga secara terang- terangan ibu selalu bilang adik adalah anaknya tersayang. Sakit hati? Tentu. Beruntung, aku mempunyai pertahanan hati yang cukup tebal. Sesekali mungkin terucap, hingga kian lelah karena sepenuhnya aku yakin cinta memang tak bisa dipilih harus tertambat pada hati yang mana.

Alasan- alasan yang ibu kemukakan terlalu klise untuk sekedar menjadi penghiburan. Dulu, dulu sekali sebelum sedewasa ini, aku mendendam. Untuk hal yang sama, perlakuan yang kami terima berbeda, kalau tidak bisa dibilang sangat dan teramat berbeda. Selalu saja ada satu bagian kecil dalam hati yang berteriak, “bukan berarti jika tidak meminta berarti saya tidak ingin.” Berbeda dengan adik, seringnya, aku dibelikan karena ibu tahu barang itu sedang kubutuhkan.

Ada satu titik dimana aku lelah dan menyerah. Dalam hati, aku bertekad untuk setidaknya jangan sampai menjadi yang paling dibenci. Lalu, sebisa mungkin aku menuruti semua yang ibu mau. Meski tidak sependapat, meski kesal, dan sebenarnya tidak ingin, yang penting bilang aku bilang “nggih”. Bagiku, ikhlas butuh proses, yang penting aksinya dulu.

Suatu kali, ibu bilang, “diantara anakku semua, kamu adalah anak yang sejak aku hamil sampai sekarang gak pernah ngrepotin. Kalau diperintah apa- apa mesti bilang iya. Kalau dinasihati diam, meskipun kadang gak dipakai. Kalau Ibu salah, ngingetinnya pas ibu sudah gak emosi, jadi gak tambah mancing emosi.” Bagiku, itu penghargaan tersendiri.

Belakangan ini pujian ibu berulang kian sering dan terjadi di waktu- waktu yang tak kuinginkan. Misalnya, di saat memarahi adik dan menjadikanku sebagai perbandingan. Bukan karena apa- apa, aku pernah merasa sakit hati dibanding- bandingkan dan tidak ingin adik merasakannya. Lebih dari yang semua tahu, aku sayang adik, sangat.

Hari ini kali kedua, adik bilang aku bermuka dua dan berbulu domba. Patah hati aku mendengarnya. “Mbak pas ibu suruh bilang nggih, tapi berangkat sambil ngambek. Aku mending langsung bilang gak mau, gak pake topeng pura- pura baik. Kalau mau terima ya aku memang gini, gak mau terima ya sudah.” Lalu debat panjang dengan ibupun pecah.

Aku pergi sambil mengusap mata, “ya karena menjadi srigalapun kasih sayang buat kamu berlimpah. Tapi aku? Hanya dengan ini mendapat cinta tanpa meminta.”

-Beberapa bagian tulisan ini nyata, selebihnya fiksi semata.
Adik saya tidak sejahat itu. Ibu juga tidak se-tak-adil itu.
Dan saya tidak seperti itu.-

9 thoughts on “cinta tanpa meminta

  1. aku begitu paham akhirnya. cuma aku mungkin merasakan hal hampir sama. disuruh, aku nurutin dengan diam. kadang ogah-ogahan tapi berangkat. terus aku nggak bernia ngingetin ibu sebab takut dia marah.

  2. Ibu, telaga cinta yang tak pernah kering bagi putra putrinya. Setidak sukanya ibu terhadap putra putrinya, masih tetap kalah dengan naluri ibu yang sangat lembut.
    Salam ta’aruf salam ukhuwah mbak ^^

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s