Kediri – Nganjuk, sore ini

Sebentar, cerita ini panjang dan sembari mengusir lelah saya berdoa semoga lapis- lapis ingatan tidak segera pudar.😀

Hari ini Jum’at, saya berencana mengantar Cut pulang setelah semalam menginap di rumah. Rencananya pagi tapi batal. Panjang ceritanya dan tidak terlalu penting. Intinya : batal. Siangnya, saya bertemu ibunya Cut yang meminta segera memulangkan anaknya karena beberapa hal. Itu juga bukan inti dari cerita, jadi tak usah diperpanjang. Saya menyanggupi.

Rencananya (rencana lain, setelah rencana pertama batal), Cut ingin menginap semalam lagi dan ikut saya ke Nganjuk mengantar Dek Fifi latihan. Tentu saya tidak ingin sepenuhnya membatalkan, hanya sedikit memodifikasi : Cut tidak kembali ke rumah tapi naik bis Kawan Kita ke Kediri dari Jalan Mastrip Nganjuk. Celakanya, dia keberatan. Saya mengantarnya ke Kediri. Rela atau tidak, itu urusan paling akhir, ikhlas itu proses, yang penting lakukan dulu.

Sampai di Nganjuk jam 4-an, saya minta istirahat sebentar. Lanjut lagi ke Kediri dan balik lagi ke Nganjuk tanpa istirahat. Tiba di GOR jam 6 lebih 7 menit. Cerita lebih dramatisnya begini :

Keluar dari GOR, matahari sudah hampir tenggelam. Saya diserang kantuk dan memilih berhenti sebentar untuk membeli kopi. Perjalanan dilanjutkan, jalanannya asing buat saya. Beberapa kali sempat melintasi Kediri-Nganjuk, tapi itu dengan Bapak dan naik mobil. Persawahan di sepanjang jalan membuat bergidik membayangkan akan melintasinya sendirian kala pulang. Ditambah lagi cerita Cut tentang jalanan yang gelap di waktu malam karena minimnya lampu. Ohh.. Teganya dia memperburuk suasana hati saya.

Sebelumnya, ibu menawarkan mobil bapak yang kebetulan nganggur , toh sudah punya SIM. Saya tolak. Dulunya saya yakin bisa nyetir mobil tapi kepercayaan diri saya runtuh tak bersisa saat gagal ujian SIM. Ibu bertanya, “buat apa punya SIM kalau gak berani bawa mobil?” Saya jawab, masih ada lima tahun lagi untuk kesempatan yang lain.

Di Mrican, saya minta digantiin bonceng. Cut menawarkan membonceng dari GOR tapi melihat caranya mengemudi motor, sungguh saya tidak sampai hati. Matahari telah tenggelam menyisa senja yang sebentar lagi juga akan benar- benar padam. Herannya, sepanjang perjalanan lampu merah selalu meghadang. Ditambah lagi, Cut meminta untuk mampir membeli pasir. Lagi- lagi.. Teganya. Oke, rela atau tidak adalah urusan paling akhir.

Cut tiba selamat di rumah tapi perjalanan belum berakhir. Motor saya pacu untuk mengejar waktu- waktu yang hilang. Namun, seolah semesta sedang tidak memihak, lampu merah menghadang saya-lagi- sepanjang jalan. 20 detik, 40 detik, dan entah berapa lagi terbuang. Ditambah tiga kali kendaraan pawai panjang yang tak merasa cukup dengan satu sisi jalan. Serta 10 menit untuk antri di pom bensin. Seharusnya bisa ditunda karena motor saya masih kuat dipacu –bahkan hingga Jombang- tapi ada perasaan kuatir kejadian beberapa hari lalu terulang. Waktu itu, pom bensin tutup karena kehabisan stok bersamaan dengan motor kehausan di perjalanan ke Kediri. Saya menuntun motor beberapa meter untuk bertemu penjual eceran dan kemudian beberapa meter lagi karena ban saya kempes –entah karena apa.

Di Gringging saya hampir menabrak kendaraan lain saat menggali ingatan tentang toko Rejeki Muda yang terlihat sepintas. Beruntungnya, saya menemu ingatan apa itu. Saya bersyukur berlipat. Pertama karena tidak menabrak dan, kedua, tentu saja karena teringat.

Motor masih melaju, ada takut yang membayang. Saya berharap bertemu orang yang saya kenal, setidaknya untuk teman hingga Nganjuk. Saya takjub, mungkin karena mencari, helm INK biru terlihat dimana- mana.

Jalanan berangsur sepi. Motor di depan saya dikendarai seorang perempuan berjilbab, dalam hati berdoa semoga dapat menjadi teman seperjalanan. Setidaknya, kita bisa saling melindungi (halah). Namun, motor itu menghilang di satu persimpangan. Sendiri lagi.

Tiba di jalanan yang saya takuti tepat saat langit menangis hingga terisak dan telah sepenuhnya berjubah gelap. Kendaraan bisa dihitung dengan jari, kebanyakan yang melintas dari arah Nganjuk ke Kediri. Saya ingin berteduh tapi urung. Tangan kanan kram. Sial.

Ketegangan saya berkurang seiring dengan kian banyaknya pertokoan di kanan kiri jalan. Saya bersyukur tiba kembali di GOR dengan selamat, meski basah dan lelah.

Di GOR, Dek Fifi belum selesai latihan. Saya beristirahat lagi sambil menghabiskan Maya-nya Ayu Utami. Nganjuk – Kertosono tidak dekat, tapi perjalanan pulang akan lebih mudah karena tidak sendirian.

Sampailah pada akhirnya tiba di rumah dengan selamat dan dapat menulis cerita yang telah saya rangkai sepanjang jalan. Kalau dihitung- hitung, sore ini saya menempuh kurang lebih setara Kertosono – Surabaya. Masalah rela atau tidak, tak jadi persoalan dan rasanya tak perlu dpertanyakan.

Saya akan tidur sangat nyenyak setelah ini.

Ohya.. Terimakasih Tuhan, untuk petualangan menegangkan hari ini.😉

2 thoughts on “Kediri – Nganjuk, sore ini

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s