sehari bersama Ayu Utami

Rasanya seperti nemu segunung duren jatuh di depan mata, gampang bukanya, ditambah lagi enak!πŸ˜€ Senang kan ya? Banget! Nah, sesenang itu juga pas saya ketemu Ayu Utami kemarin (11/10) di perpustakaan Kota Malang. *ini post emang telat tayang*

Dulunya, saya sekedar baca buku terus bilang ini bagus dan ini tidak. Ada pula pengarang yang masuk blacklist tapi belum juga nemu pengarang siapa yang saya idolakan. Sampai akhirnya Bilangan Fu mengubah pandangan saya *halah. Buku setebal kamus Inggris – Indonesia itu sukses membuat saya langsung jatuh hati pada pengarangnya, Ayu Utami.

Beberapa bulan setelahnya, hampir semua bukunya sudah ada di rak.πŸ˜€ Susah milih mana yang favorit karena selesainya membaca buku satu, saya merasa itu karya terbaik. Eh, baca buku berikutnya, itu karya terbaik juga. Begitu seterusnya, sampai ketemu Seri Bilangan Fu terakhir, Maya. Kini, saya tidak sabar menunggu 9 seri lanjutan yang dijanjikan.πŸ˜€

Mungkin pengarang yang saya kenal tidak banyak, sehingga berlebihan dalam menilai. Tapi gimana ya? Jatuh hati beneran sih. Jadi kalau bandingin sama pengarang yang lain, pasti ujungnya tetap saja tidak menemukan yang lebih baik dari Ayu Utami. Kamu juga?

Tulisannya tidak hanya menghibur tapi memberi pandangan lebih luas. Cara bertuturnyapun memikat, tak terasa saya sudah dibawa berpindah- pindah setting, alur, hingga sudut pandang. Kerennya lagi, antara fiksi dan non-fiksi punya batas yang kabur. Bukunya, Maya, mempunyai timeline yang sejajar dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto. Pemilihan tempat dan informasi membawa kita pada keyakinan utuh ini cerita nonfiksi, atau jangan- jangan memang nonfiksi? Nah!

Pada setiap buku yang ia tulis, membuat pembaca (lebih tepatnya, saya) memikirkan teka- teki yang disebar sepanjang buku. Saat halaman terakhir sudah tuntas, buku tertutup, segera ceritanya meledak di kepala, menciptakan sensasi yang tiada duanya. Puas! Akhirnya, menemukan susunan yang pas untuk puzzle cerita yang Ayu acak.

Balik lagi ke hari kemarin *bongkarbongkarlemarimemori, acara djadwalkan jam 9 an. Ayu datang dengan suaminya, Enrico! Wew.. seperti yang saya bayangkan, pasangan yang sempurna. Ngiri langsung de.πŸ™‚ Setelah pembukaan, lalu sambutan ini itu yang sudah saya lupakan. Lanjut ada penampilan teater. Saya kurang begitu paham isinya tapi cukup menghibur.

pementasan teater

pementasan teater

Apa yang disampaikan Ayu Utami adalah tentang jusnalisme sastrawi. Saya gak nyambung sama sekali. Jadi ternyata, Ayu Utami memberikan dua materi yang berbeda pada tanggal 11 dan 12. Hari kedua-lah yang tentang pembuatan cerita pendek. Parahnnya, itu tidak disebutkan pada poster publikasinya! Sempat ada sesal, sih. Tapi yasudahlah, saatnya menikmati apa yang ada. Yaa.. jadilah hari itu saya menikmati sepuas-puasnya bisa bertatap muka langsung dengan idola.

Dibacain sala satu contoh jurnalisme sastrawi dari kumpulan edisi khususnya Tempo

Dibacain salah satu contoh jurnalisme sastrawi dari kumpulan edisi khususnya Tempo

Kalau yang ngomong Ayu Utami, buat tulisan jurnalistik itu kok mudah banget, ya. Eh.. saya coba berkali- kali, gagal! Haha.. memang kurang bakat kayaknya. Ayu bilang memang materi yang dia sampaikan hanya pengantar. Mustahil kalau sekali seminar, besoknya langsung bisa buat tulisan yang bernas kayak jurnalis profesional. Ohh.. mimpi kali yee!πŸ˜€ Jadi memang saya harus banyak berlatih. Kebetulan, besok tanggal 15 ada pengumpulan tulisan buat Majalah Kertosono, doain lolos ya!

Bertemu idola, belum pas kalau tidak foto bareng dan minta tanda tangan. Nah.. Sesi terakhir sebelum acara ditutup, memang ada waktunya untuk itu. Padahal, saya bawa semua buku Ayu Utami yang saya punya tapi cuma boleh minta satu tanda tangan aja. Yang antri banyak, beruntung saya dapat kesempatan pertama. Senangnya jadi dobel- dobel!

"Tutus? T U T U S aja?" "Iyyaaa.. "

“Tutus? T U T U S aja?”
“Iyyaaa.. “

terimakasih mas mas yang motoin

terimakasih mas mas yang motoin!πŸ˜€

sertifikatnyapun ber-ttd asli Ayu Utami!

sertifikatnyapun ber-ttd asli Ayu Utami!

aakkkkk!

aakkkkk!

Sehari itu akan saya kenang dalam hidup, meski tidak dipungkiri masih berharap semoga ada kesempatan lain.

Terimakasih Dek Afam dan semuanyaa, yang sudah membuat mimpi ini terpampang nyata *syahrini mode : on. Banyak- banyak bersyukur juga kepada Tuhan, sudah membawa saya kesana. Terimakasih..πŸ™‚

6 thoughts on “sehari bersama Ayu Utami

  1. Aku ketemu Ayu Utami di bookfair, Senayan tgl 8 Nov kemarin. Mbaknya baik, ya. Ramah banget. Berhubung doi nongkrong di stan KPG, akhirnya aku sekalian beli Maya dan minta tandatangan. :))

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s