sudah lulus, lalu?

Selasa (5/11) lalu, Dek Afam diwisuda oleh sekolah tempatnya menimba ilmu setahun ini. Ia salah satu lulusan dengan predikat sangat memuaskan dari D1 Kapabean dan Cukai STAN. Arus waktu menyeret saya kembali ke Oktober tahun lalu. Ya.. hari wisuda saya. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saya, adek tinggal menungu tanggal TKD (Tes Kemampuan Dasar) untuk kemudian penempatan dan resmilah statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Sedang saya? Terus menerus bertanya, setelah ini mau kemana?

Sepanjang perjalanan Surabaya – Kertosono, mata saya tak dapat terpejam. Apa arti wisuda saya? Apa arti selembar kertas dengan gelar di belakang nama saya? Bagaimana saya akan melanjutkan hidup? Kelulusan ini, apa ada maknanya?

Sanak saudara jauh saya hubungi, sejak lama beliau- beliau menawari kerja ke luar Jawa. Namun, impian itu tampak terlalu muluk. Ketakutan demi ketakutan menghantui sepanjang malam. Bagaimana jika iming- iming kerjaan itu bualan? Bagaimana jika nasib saya di perantauan berakhir dengan penyesalan? Sembari terus menerus diam dalam penantian, saya berdoa pada Tuhan meminta kemudahan.

Tak berbilang surat lamaran saya sebarkan ke berbagai perusahaan. Info job fair dimanapun, sebisa mungkin saya ikuti. Beberapa kali sempat lolos tahap selanjutnya, meski kemudian gugur sebelum kontrak ada di tangan. Idealisme saya sangat tinggi waktu itu. Saya tidak akan melepas ilmu yang empat tahun digeluti. Kenapa? Kuliah di Fisika itu susah. Jatuh bangun sudah dirasa. Saya tidak tega melepasnya begitu saja. Sesederhana itu alasannya.๐Ÿ™‚

Ibu Bapak menyarankan untuk mengambil S2, melihat kemurungan saya tak kunjung berakhir. Alasan demi alasan saya lontarkan. Saya terlanjur memberi cap buruk pada opsi โ€˜melanjutkan S2โ€™ karena merasa itu hanya pelarian lulusan S1 yang gagal di dunia nyatanya. Bukan hanya itu, saya kuatir saat lulus S2 nanti, akan terbit lagi pertanyaan, โ€œmau kemana setelah ini?โ€

Saya mengisi waktu luang dengan membuka kursus fisika dan matematika. Pada saat penolakan demi penolakan saya terima, murid les di rumah bertambah semakin banyak. Nama saya sebagai tentor dikenal luas.๐Ÿ™‚

Tahun baru 2014 adalah tenggat yang saya tetapkan. Jika memang belum diterima kerja, saya memilih membuka usaha sendiri. Hari- hari bukannya berlangsung semakin mudah. Cibiran sana sini tentang predikat pengangguran membuat telinga sekaligus hati terbakar. Namun, saya percaya bahwa rasa sakit tak mungkin berlangsung selamanya. Tuhan pun Bersabda bahwa bersamaan dengan kesulitan, Ia mengirim kemudahan.

Dalam kesusahan yang semakin berat, dalam usaha mencapai cita- cita yang sepertinya tampak mustahil dicapai, saya teringat pesan seorang teman : โ€œMalam selalu semakin gelap dan dingin sesaat menjelang fajar.โ€ Kesusahan akan datang bertubi- tubi seolah tanpa akhir. Namun, saat kita memilih untuk berhenti, saat itulah kita kalah. Kita tidak cukup pantas untuk impian kita. Teruslah berjalan. Tidak ada usaha yang sia- sia. Tuhan tidak pernah tidur, apalagi sengaja tutup mata.

Singkat cerita, kini murid saya bertambah berlipat- lipat. Lembaga Bimbingan Belajar yang saya rintis tampak semakin mewujud. Modul perlahan saya siapkan. Fasilitas berupa kursi dan papan tulis, juga bangunan-nya bertahap saya lengkapi.

Ohya.. Dan beberapa minggu lalu seorang teman, yang baru saja saya kenal dari Blogger Kediri, memberi tahu lowongan. Tak lama, saya sudah berada di depan Kepala Jurusan, bersalaman sebagai tanda resminya profesi sebagai dosen di salah satu Universitas di Kediri. Yayasan yang menaungi Universitas tersebut juga menawari saya untuk mengajar di jenjang SMP dan SMA nya.๐Ÿ™‚ Sekarang, bagaimana bisa saya meragu pada cara Tuhan bekerja.

Pertanyaan yang setahun lalu membayang, kini sudah saya temukan jawabannya. Kelulusan kuliah telah mempertemukan saya pada dunia yang sama sekali asing. Dulu saya mempunyai tameng untuk kesalahan yang saya buat. Yaa.. orang akan memaklumi dengan “oh masih pelajar,” atau “oh, masih mahasiswa,” maka sekarang sayalah tameng untuk institusi yang membesarkan saya.๐Ÿ™‚ Menjadi sebaik- baiknya pribadi bukan pilihan, tapi keharusan. Berusaha semaksimal mungkin adalah satu- satunya jalan.

640 kata

โ€œTulisan ini diikutsertakan Keina Tralala First Birthday Giveawayโ€

10 thoughts on “sudah lulus, lalu?

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s