harapanku menyublim

“Jahat! Jahat! Kamu jahat!” Ia memukuliku dengan kedua tangan saat pintu kubuka. “Kenapa handphone-mu mati? Kenapa semua private message-ku gak kamu balas, Hen?”

Aku teringat bagaimana kisahku dimulai. Aku mencintainya sejak kami berseragam putih biru. Ia, gadis berkuncir dari kelas tetangga yang mencuri hatiku pada pandangan pertama. Senyumnya bisa menyihirku. Renyah suaranya selalu kurindukan. Aku selalu berusaha mendekatinya. Sayangnya, cintaku bertepuk sebelah tangan.

SMA, takdir menjodohkanku dengannya. Kami sekelas hingga lulus. Bahkan juga se-ekstra, lebih tepatnya karena aku yang menyamai aktifitasnya. Sering aku berkunjung ke rumahnya, ia pun juga sama. Andai ia mencintaiku waktu itu, kami pasti sudah menikah kini. Tapi Tuhan tidak rela, kami diterima di universitas yang berbeda. Sejak itu, kami tak lagi berhubungan.

“Hen, aku ini apa sih?” Arus waktu melemparkanku kembali

dari lamunan.

Setahun ini, Rena dan aku dekat. Reuni organisasi SMA kembali mempertemukan kami. Bulan demi bulan berlarian, cintaku belum layu, sedang cintanya mulai menguncup. Pertemuan selalu menghadirkan cinta yang lebih segar. Selebihnya, kami bertukar kabar lewat berbagai media sosial. Tak jarang, ia menelponku setibanya di kantor atau saat akan pulang.

“Hen, jawab!” Manik matanya mengembun.

Seharusnya, sekarang adalah hari paling membahagiakan bagiku. Aku sudah pasti sedang menunggunya di stasiun dan melihatnya berjalan mendekatiku. Tapi tidak. Ia didepanku dan aku kehabisan kata untuk mengungkapkan bahwa sesungguhnya aku menginginkannya, sangat menginginkannya.

“Aku di sini buat kamu, Hen. Kenapa kamu diam? Kamu bahkan tidak memintaku masuk?” Aku menggeleng masih menatapnya. Barangkali ini akan menjadi yang terakhir.

Sabtu terakhir bulan genap selalu ia jadwalkan pulang ke kota kecil ini untuk mengunjungi orang tuanya. Sejak kembali dekat dengannya, Sabtu di akhir bulan juga adalah hari libur bagiku. Libur mendongeng di taman baca depan studio melukisku.

“Hen..” Ia mendekat, membuyarkan lamunanku. “Kenapa?” Ia bertanya saat kutepis peluknya.

Hari ini Sabtu terakhir bulan genap yang juga terakhir di tahun ini. Hari yang tepat untuk perpisahan. Bukan perpisahan seperti dua bulan lalu, saat aku mengantarnya hingga depan stasiun. Ia akan kembali ke ibukota untuk bekerja. Ada yang berbeda waktu itu. Bidadari kecil bergelayut manja di pangkuannya. Melihat Ina, aku yakin Rena pasti secantik itu saat seusianya.

“Ina,”

“Kenapa dengan Ina, bukankah kamu juga menyayanginya seperti anakmu sendiri? Iya kan? Kamu menyayanginya kan?”

“Justru karena itu, Re.” Aku memegang kedua pundaknya dan menjauhkannya dari bingkai pintu. Lalu ku ayunkan pintu perlahan. “Pergilah.” Sekilas, sebelum tertutup, kulihat ia mengusap mata. Rasa bersalah menyergapku. Tetapi, kembali membuka kisah cinta tidak akan membuatnya lebih baik.

***

“Om?” Tetiba ia memegang lenganku.

“Iya?” Baru ini aku memandangnya lekat. “Oh.. Kenapa tanganmu?” Perban coklat membebat tangannya.

“Ina terjatuh waktu mama bertengkar dengan papa, minggu lalu.” Ia menunduk. Matanya tidak berbinar namun jernihnya tidak hilang.

“Om teman baik mama, kan?” Ia kembali menatapku. Melihat bilik kepedihan dimatanya, aku berjanji suatu saat akan membacakannya buku dongeng sepanjang masa setiap malam.

“Iya,” aku tersenyum.

“Kasih tahu Mama ya, Om. Papa sama Ina sayang mama. Mama jangan boleh pergi dengan selingkuhannya.”

Aku diam. Bongkahan es entah darimana menghujaniku. Harapanku menyublim. Aku membeku.

“Tapi, Om. Selingkuhan itu apa sih? Kenapa mama tidak mengajaknya saja tinggal di rumah bersama Ina dan papa?”

 

 “AttarAndHisMind First Giveaway”

9 thoughts on “harapanku menyublim

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s